Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living
Profil Nada Arini Seorang Ibu yang Menjalani Sustaiable Living (Tiktok/@nada_arini)
15:37
7 April 2026

Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living

Di tengah ritme cepat Jakarta, bekerja keras kerap dianggap sebagai standar hidup. Produktivitas menjadi ukuran, sementara jeda sering dipandang sebagai kemunduran. Dalam lanskap seperti ini, rasa lelah sering kali tak terlihat, bahkan dianggap wajar.

Survei Jobstreet mencatat, meski pekerja di Indonesia tergolong paling bahagia di Asia, sekitar 43 persen tetap mengalami burnout. 

Nada Arini pernah berada di titik yang sama. Perempuan 46 tahun ini mengaku hidup dalam dorongan untuk terus produktif, disertai rasa takut tertinggal dan kekhawatiran finansial yang tak pernah benar-benar hilang.

“Kalau lagi pelan, rasanya seperti tidak berguna,” ujarnya, mengingat masa ketika hidupnya diukur dari seberapa banyak yang bisa dicapai.

Titik Balik dari Pilihan Personal

Perubahan dalam hidupnya tidak datang dari keputusan besar yang direncanakan matang, melainkan dari pilihan yang awalnya sangat personal: menyekolahkan anak melalui homeschooling. Keputusan ini membawanya masuk ke lingkaran komunitas yang memiliki cara pandang berbeda terhadap kehidupan sehari-hari.

Di sana, Nada mulai diperkenalkan pada praktik sederhana seperti memilah sampah, mengurangi konsumsi, hingga mempertanyakan kembali kebiasaan yang selama ini dianggap normal. Awalnya, ia tidak langsung mengubah gaya hidupnya secara drastis. Namun, benih kesadaran itu mulai tumbuh perlahan.

Titik balik yang paling membekas terjadi saat ia mengunjungi TPA Bantar Gebang. Ia datang tanpa masker dan tanpa perlindungan khusus, seperti yang diminta oleh rekannya.

“Datang saja apa adanya,” begitu pesannya.

Pengalaman itu membuka realitas yang selama ini terasa jauh. Di tengah gunungan sampah, ia melihat kehidupan yang berjalan seperti biasa. Salah satu momen yang sulit ia lupakan adalah ketika melihat seorang ibu menyuapi anaknya, dengan lalat yang mengerubungi makanan di piring.

“Di situ saya sadar, ini bukan sekadar soal sampah, tapi soal kehidupan yang tidak setara,” katanya. Bagi Nada, pengalaman tersebut menjadi titik di mana isu lingkungan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Dari Industri Iklan ke Edukasi Lingkungan

Latar belakang Nada di industri periklanan memberinya perspektif lain. Ia menyadari bahwa industri tersebut memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat. Ironisnya, pengalaman itu kini justru ia gunakan untuk arah yang berbeda.

Ia mulai memproduksi konten edukatif tentang gaya hidup berkelanjutan di media sosial. Pengetahuan tentang komunikasi dan strategi pesan yang dulu ia gunakan untuk mendorong konsumsi, kini ia arahkan untuk mengajak orang mengurangi konsumsi.

“Aku pakai cara komunikasi yang dulu, tapi untuk pesan yang berbeda,” ujarnya.

Dalam prosesnya, Nada melihat adanya jurang antara mereka yang sudah menjalani gaya hidup sustainable living dengan mereka yang baru ingin memulai. Di ruang digital, ia kerap menemukan pendekatan yang terkesan ekstrem, bahkan menuntut kesempurnaan.

Menurutnya, hal itu justru membuat banyak orang merasa tidak mampu.

“Ada kesan harus langsung sempurna, padahal itu justru bikin orang mundur,” katanya.

Karena itu, ia memilih mengambil posisi yang berbeda. Alih-alih menghakimi, ia mencoba menjadi jembatan—menghadirkan pendekatan yang lebih ramah, bertahap, dan realistis. Ia ingin orang merasa bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, tanpa tekanan untuk langsung benar sepenuhnya.

Belajar Cukup di Tengah Dunia yang Menuntut Lebih

Perubahan gaya hidup ini perlahan mengubah cara Nada memaknai hidup. Dari yang sebelumnya dipenuhi kecemasan dan dorongan untuk terus mengejar, kini ia mengaku lebih tenang dan mampu menerima ritme yang lebih lambat.

“Sekarang lebih berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar kejar target,” ujarnya.

Perubahan itu juga tercermin dalam pilihan-pilihan yang ia ambil. Aktivitas seperti edutrip ke Bantar Gebang, yang secara materi tidak selalu menguntungkan, tetap ia jalankan karena memberikan dampak yang lebih luas bagi orang lain.

Di akhir percakapan, Nada merangkum perjalanannya dalam satu kalimat sederhana:

“Sedikit-sedikit supaya tidak sulit.”

Di tengah dunia yang terus mendorong untuk lebih cepat, lebih banyak, dan lebih produktif, pilihan untuk berjalan perlahan dan merasa cukup mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Nada, di situlah letak perubahan paling mendasar, sebuah cara untuk kembali memaknai hidup, tanpa harus selalu merasa kurang.

Penulis: Natasha Suhendra

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #mencari #cukup #tengah #riuh #kota #perjalanan #nada #arini #jalani #sustainable #living

KOMENTAR