Ungkapan Putus Asa Perlu Disikapi Serius, Ini Penjelasan dari PDSKJI
Ungkapan seperti “aku sudah tidak kuat”, “semuanya percuma”, atau bahkan “aku harus mati” sering kali terdengar sebagai luapan emosi sesaat.
Namun, menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), kalimat-kalimat bernada putus asa semacam itu tidak sebaiknya dianggap sepele.
Perhatian terhadap penggunaan kalimat sensitif ini menguat setelah munculnya materi promosi film bertajuk Aku Harus Mati di ruang publik.
PDSKJI menilai, paparan berulang terhadap narasi seperti itu tanpa konteks yang tepat berpotensi menimbulkan distress psikologis bagi sebagian masyarakat.
Baca juga: Bukan Putus Asa, Kencan Buta Justru Bisa Pertemukan Pasangan Sesuai Kriteria
Ruang Publik Diakses Semua Kalangan
Ketua Umum PDSKJI, Agung Frijanto, menjelaskan bahwa ruang publik merupakan tempat yang diakses berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, termasuk individu yang sedang menghadapi tekanan mental.
"Paparan berulang pesan tentang kematian dan keputusasaan tanpa konteks yang tepat berpotensi menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau keinginan bunuh diri," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip dari ANTARA, Senin (6/4/2026).
Menurut dia, pesan yang mengandung unsur kematian, keputusasaan, atau bunuh diri perlu disampaikan dengan sangat hati-hati karena dapat diterima secara berbeda oleh setiap orang.
Bagi individu yang memiliki riwayat depresi, trauma emosional, atau sedang mengalami tekanan berat, paparan pesan seperti ini dapat menjadi pemicu munculnya perasaan tidak aman, cemas, atau sedih secara mendalam.
Karena itu, PDSKJI mengimbau agar materi visual dan narasi di ruang publik mempertimbangkan dampak psikologis yang mungkin timbul.
Bukan Sekadar Ekspresi Emosional
Penjelasan serupa juga disampaikan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Wilayah Yogyakarta melalui edukasi kesehatan mental mereka di Instagram.
Menurut PDSKJI Jogja, kalimat seperti “aku harus mati” dalam banyak kasus dapat mencerminkan kondisi mental yang sedang sangat tertekan.
Secara neurosains, saat seseorang berada dalam tekanan emosional berat, fungsi bagian depan otak atau prefrontal cortex dapat menurun.
Area ini berperan dalam mengatur logika, pengambilan keputusan, serta kemampuan melihat berbagai pilihan solusi.
Ketika fungsi tersebut menurun, seseorang bisa mengalami kesulitan berpikir jernih dan merasa seolah tidak ada jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Selain itu, aktivitas berlebih pada Default Mode Network membuat pikiran negatif berulang terus-menerus. Kondisi ini dapat memperkuat rasa putus asa dan mempersempit kemampuan melihat harapan.
Baca juga: Pahami 4 Perasaan Anak saat Ia Terlihat Putus Asa, Menurut Psikolog
Mengapa Kalimat Ini Perlu Disikapi Serius?
PDSKJI menegaskan bahwa ungkapan bernada putus asa sebaiknya tidak langsung dianggap berlebihan atau dicari sensasinya.
Dalam beberapa situasi, kalimat tersebut bisa menjadi cara seseorang menyampaikan bahwa ia sedang membutuhkan pertolongan.
Respons dari lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Mendengarkan dengan empati, tidak menghakimi, dan memberi ruang aman untuk berbicara dapat membantu seseorang merasa didukung.
Jika ungkapan serupa muncul berulang, disertai perubahan perilaku seperti menarik diri, kehilangan minat beraktivitas, gangguan tidur, atau mudah marah, bantuan profesional sebaiknya segera dicari.
Pentingnya Komunikasi yang Aman
PDSKJI juga menekankan pentingnya komunikasi yang bertanggung jawab ketika membahas isu sensitif di ruang publik.
Karya seni dan ekspresi kreatif tetap penting, tetapi penyampaiannya perlu mempertimbangkan keamanan psikologis masyarakat.
Karena itu, narasi sensitif idealnya disertai konteks edukatif, pesan yang aman, serta mempertimbangkan kelompok rentan yang mungkin menerima pesan tersebut secara berbeda.
Tag: #ungkapan #putus #perlu #disikapi #serius #penjelasan #dari #pdskji