Cara Mengatasi Commitment Issue agar Hubungan Lebih Sehat
- Di tengah maraknya hubungan tanpa status hingga fenomena ghosting, istilah commitment issue semakin sering terdengar.
Banyak orang menginginkan hubungan yang stabil, tetapi justru merasa takut saat harus melangkah lebih jauh.
Ada berbagai faktor emosional yang memengaruhinya, mulai dari trauma masa lalu hingga ketakutan akan kehilangan kebebasan.
“Masalah komitmen tidak selalu berasal dari tidak ingin menjalin hubungan. Seseorang bisa peduli dan ingin bersama pasangannya, tetapi pada saat yang sama merasa lumpuh dengan gagasan tentang komitmen,” ujar terapis pasangan, Nari Jeter, dikutip dari SELF, Kamis (2/4/2026).
Lantas, bagaimana cara mengatasi commitment issue agar hubungan bisa berjalan lebih sehat?
Baca juga: Sifat Taurus yang Keras Kepala tapi Penuh Komitmen
6 Cara mengatasi commitment issue
1. Mengenali akar ketakutan sebelum melangkah lebih jauh
Salah satu langkah paling penting adalah memahami apa yang sebenarnya ditakuti. Apakah rasa takut itu muncul karena pengalaman disakiti di masa lalu, atau karena pasangan saat ini memang tidak terasa cocok?
Menurut Jeter, penting untuk membedakan apakah ketakutan tersebut bersifat umum atau spesifik terhadap pasangan.
Jika ketakutan muncul di hampir setiap hubungan, kemungkinan besar itu adalah commitment issue yang perlu diatasi secara personal.
Sebaliknya, jika rasa ragu hanya muncul pada satu orang tertentu, bisa jadi masalahnya ada pada dinamika hubungan itu sendiri.
Dengan memahami akar masalah, seseorang bisa menentukan langkah yang lebih tepat, apakah perlu memperbaiki diri atau mengevaluasi hubungan.
Baca juga: Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog
2. Ubah cara pandang tentang komitmen
Banyak orang menganggap komitmen sebagai keputusan besar yang mengikat seumur hidup, sehingga terasa menakutkan.
Padahal, komitmen bisa dilihat sebagai proses yang dijalani hari demi hari. Terapis pasangan Erica Thrall menyarankan untuk mengubah pola pikir ini.
“Bayangkan seperti mengambil pekerjaan baru. Kamu tidak berpikir akan berada di sana selamanya, tetapi menjalaninya selama itu masih terasa tepat,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa komitmen bukan tentang selamanya, melainkan tentang memilih untuk hadir dan berinvestasi dalam hubungan saat ini.
Dengan perspektif ini, tekanan akan berkurang dan hubungan terasa lebih ringan untuk dijalani.
Baca juga: Mau Hubungan Makin Harmonis? Coba Terapkan 7 Kebiasaan Kecil Ini
3. Berani jujur dan terbuka dengan pasangan
Banyak orang dengan commitment issue cenderung menyimpan ketakutan mereka sendiri. Padahal, komunikasi terbuka justru menjadi kunci membangun rasa aman dalam hubungan.
Jeter menyarankan untuk membicarakan ketakutan sejak awal, bukan menunggu hingga hubungan berada di titik krisis.
“Saya selalu menyarankan untuk membicarakan hal ini lebih awal dan jujur, karena sering kali orang menunggu sampai berada di ujung komitmen,” katanya.
Kejujuran bisa membantu membangun kepercayaan. Misalnya dengan mengatakan, “Aku menyukai hubungan ini, tapi terkadang aku merasa cemas memikirkan masa depan.”
Respons pasangan yang suportif bisa membantu meredakan kecemasan, sekaligus memperkuat ikatan emosional.
Baca juga: 7 Pasangan Shio yang Paling Langgeng Menurut Astrologi Tiongkok
4. Berhenti menyabotase hubungan secara tidak sadar
Orang dengan commitment issue sering kali tanpa sadar melakukan sabotase, seperti mencari alasan untuk pergi atau membesar-besarkan kekurangan pasangan.
Perilaku ini biasanya muncul sebagai mekanisme perlindungan diri dari kemungkinan disakiti. Namun, justru hal ini bisa merusak hubungan yang sebenarnya sehat.
Menurut Jeter, pola pikir yang sering muncul adalah keinginan untuk pergi duluan sebelum disakiti.
Dengan menyadari pola ini, seseorang bisa mulai mengendalikan reaksi dan tidak langsung menarik diri saat hubungan mulai serius.
Mengganti pola pikir dari melindungi diri menjadi membangun hubungan menjadi langkah penting untuk keluar dari siklus ini.
Baca juga: Bare Minimum: Memahami Batas Usaha dalam Sebuah Hubungan
5. Fokus pada hubungan saat ini, bukan “bagaimana jika”
Overthinking atau terlalu fokus pada kemungkinan buruk di masa depan juga menjadi ciri umum commitment issue.
Pikiran seperti “bagaimana jika ada yang lebih baik?” atau “bagaimana jika ini tidak berhasil?” bisa menghambat kedekatan emosional.
Padahal, hubungan yang sehat dibangun dari kehadiran penuh di masa kini. Terlalu sering membandingkan atau membayangkan skenario lain justru membuat seseorang tidak pernah benar-benar terlibat dalam hubungan yang sedang dijalani.
Dengan belajar menikmati proses dan menerima ketidakpastian, seseorang bisa lebih terbuka terhadap kedekatan dan keintiman.
6. Minta bantuan profesional jika diperlukan
Jika commitment issue terasa sangat mengganggu dan berulang di setiap hubungan, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional seperti terapis.
Terapi dapat membantu menggali pola hubungan, trauma masa lalu, hingga gaya keterikatan (attachment style) yang memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan.
Selain itu, perspektif dari pihak ketiga juga dapat membantu melihat pola yang mungkin tidak disadari sebelumnya.
Baca juga: 7 Tips Kembali Kencan Setelah Putus dari Hubungan Panjang
Tag: #cara #mengatasi #commitment #issue #agar #hubungan #lebih #sehat