Kebutuhan Biodiesel Dunia Naik, Harga CPO Diprediksi Terus Melonjak
- Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia diprediksi akan terus meningkat hingga beberapa bulan ke depan.
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menyebut, industri kelapa sawit Indonesia pada triwulan kedua 2026 dihadapkan pada gejolak geopolitik yang semakin kompleks.
“Terutama didorong oleh kenaikan harga energi global di tengah meningkatnya eskalasi perang yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat-Israel,” sebagaimana dikutip dari keterangan resmi IPOSS, Jumat (3/4/2026).
Dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 2026, IPOSS memproyeksikan harga CPO di pasar global akan naik dari 1.165 dollar Amerika Serikat (AS) pada Maret menjadi sekitar 1.440 dollar AS per ton pada April.
Baca juga: Mendag Yakin Ekspor CPO akan Naik di Tengah Konflik Timur Tengah
Harga CPO diprediksi terus melonjak menjadi 1.701 dollar AS per ton pada Mei dan naik pada Juni.
“Diperkirakan mencapai sekitar 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026,” dikutip dari IPOSS.
Lembaga think tank itu memandang, kenaikan harga CPO di pasar global tidak hanya dampak dari perang AS dan Israel melawan Iran.
IPOSS melihat, kenaikan tersebut mencerminkan hubungan pasar minyak sawit dan energi global semakin meningkat.
Kenaikan harga minyak mentah dunia, menurut mereka, turut mengerek harga CPO yang menjadi bahan baku substitusi solar.
“Ketika harga minyak mentah meningkat, biodiesel menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar fosil, sementara biaya logistik, distribusi, dan premi risiko global juga ikut naik,” menurut IPOSS.
Di tengah ancaman krisis energi tersebut, CPO tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas pangan dan industri.
“Memiliki fungsi strategis dalam sistem energi,” tulis IPOSS.
Kenaikan harga di pasar global juga diproyeksikan akan membuat harga CPO di pasar domestik pada Q2 2026 ikut menguat.
Meskipun harga di pasar domestik tidak hanya ditentukan harga pasar internasional, namun kebijakan domestik seperti Harga Referensi, Bea Keluar, dan Pungutan Ekspor akan ikut memengaruhi.
IPOSS memproyeksikan, harga CPO di pasar domestik yang Rp 15.065 per kilogram pada Maret bakal naik Rp 18.776 per kilogram pada bulan April.
“Versi draf sebelumnya juga terlihat tren penguatan lanjutan hingga Mei–Juni, yang menegaskan bahwa tekanan harga global berpotensi memberi efek nyata pada pasar domestik,” tulis IPOSS.
Outlook Sawit Q2 2026 juga memperlihatkan harga CPO menguat tidak hanya terjadi ketika pasar domestik cukup ketat.
Produksi CPO dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) sampai akhir Q2 2026 diprediksi bakal mencapai 23,7 juta ton, turun dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 24,0 juta ton.
Di sisi lain, proyeksi ekspor produk sawit pada Q2 2026 juga diproyeksikan bakal turun menjadi 6,70 juta ton dari 7,22 juta ton pada 2025.
Hal itu menunjukkan, penguatan harga CPO tidak berdiri sendiri namun turut dipengaruhi kondisi stok yang terbatas.
“Terbentuk dalam konteks ruang pasok yang cenderung lebih terbatas dan pasar yang lebih sensitif terhadap perubahan eksternal,” tulis IPOSS.
Baca juga: Airlangga-Luhut Sebut Kenaikan Harga CPO-Nikel Jadi Kompensasi Minyak Mahal
Tag: #kebutuhan #biodiesel #dunia #naik #harga #diprediksiterus #melonjak