Mengenal Karakter Otrovert pada Anak dan Cara Mengasuhnya
- Selama ini, kepribadian anak yang paling umum diketahui mungkin hanya sebatas introvert dan ekstrovert. Ada juga kepribadian yang menggabungkan keduanya, yakni ambivert.
Namun, tahukah Anda bahwa ada satu tipe kepribadian lagi yang juga menggabungkan introvert dan ekstrovert selain ambivert, yaitu otrovert?
Psikoterapis Lorain Moorehead menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara ambivert dan otrovert.
“Seorang ambivert mendapatkan energi dengan melakukan aktivitas sendiri dan mengisi ulang energinya sendirian sebagian besar waktu, tetapi juga dapat memperoleh energi dari berada di antara kelompok kecil dalam percakapan yang mendalam,” jelas dia, mengutip Parents, Rabu (1/4/2026).
“Tetapi, bahkan kelompok teman atau lingkungan sosial yang lebih besar pun dapat memberi energi bagi seorang ambivert," lanjut Moorehead.
Baca juga: Mengenal Kepribadian Aquarius, Si Independen yang Sulit Ditebak
Mengenal anak dengan tipe kepribadian otrovert
Apa itu otrovert dan seperti apa ciri-cirinya?
Istilah otrovert sendiri merujuk pada kata dalam bahasa Spanyol "otro" yang berarti "lain". Ini mencerminkan perasaan anak yang sering merasa tidak memiliki tempat di lingkungan sosial mana pun, dan merasa seperti orang asing.
Moorehead menerangkan, ini tidak selalu menjadi indikator bahwa anak tidak punya keterampilan sosial, atau tidak bisa berbaur.
"Kebutuhan mereka akan otentisitas dan untuk menghindari dipaksa masuk ke dalam kotak, peran, atau norma tertentu, dapat membuat mereka merasa sebagai orang luar," ucap dia.
Baca juga: Benarkah Urutan Lahir Tentukan Karakter Anak? Ini Kata Pakar IPB
Ilustrasi anak usia dini bermain bersama.
Psikolog remaja Cameron Caswell, PhD, menyebutkan bahwa istilah ini dipopulerkan oleh psikiater Rami Kaminski, MD.
Otrovert didefinisikan sebagai individu yang lebih mengutamakan hubungan satu lawan satu yang mendalam dibandingkan berada dalam kerumunan yang melelahkan.
Hal ini bukan disebabkan oleh rasa malu, melainkan karena mereka tidak merasa butuh pengakuan kelompok untuk merasa puas.
Meskipun cirinya sekilas mirip dengan kondisi neurodivergen atau spektrum autisme, para ahli menyatakan belum ada bukti medis yang mengaitkan keduanya.
“Mengingat istilah ini masih baru, saya tidak yakin ada penelitian yang mendukung hubungan antara kategori diagnostik ini,” kata psikolog Anne Josephson, PysD.
Baca juga: Benarkah Orangtua Punya Anak Kesayangan? Ini Hasil Penelitiannya
Gaya bersosialisasi yang spesifik
Dalam lingkungan sekolah maupun rumah, anak otrovert menunjukkan pola interaksi yang sangat selektif. Mereka biasanya hanya memiliki satu atau dua teman dekat yang sangat dipercayai daripada bergabung dengan geng besar.
“Mereka mungkin melewatkan acara menginap bersama, tetapi dengan senang hati mengundang satu teman untuk menonton film atau percakapan mendalam. Semangat tim bukanlah hal yang mereka sukai. Mereka lebih suka berkontribusi secara mandiri, dengan lebih sedikit orang yang saling berbicara tumpang tindih,” papar Caswell.
Anak-anak ini mungkin terlihat lebih dekat dengan guru atau lingkaran kecil saja di kelas. Di rumah, mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri guna mengisi ulang energi setelah seharian beraktivitas.
Baca juga: Sulit Bergaul, Gen Z Mengandalkan AI untuk Ngobrol dengan Teman
Ilustrasi anak usia dini bermain boneka bersama.
Tips mendampingi dan mengasuh anak otrovert
Agar potensi anak tetap berkembang tanpa merasa tertekan oleh ekspektasi sosial, orangtua bisa melakukan beberapa langkah berikut:
1. Terima karakter unik anak
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda secara sosial. Ayah atau ibu tidak perlu memaksa mereka masuk ke dalam kotak kategori tertentu atau cara bersosialisasi yang dianggap "normal" oleh masyarakat umum.
“Tidak semua anak perlu berbaur dengan kelompok untuk memiliki hubungan yang hangat dan bermakna,” kata Josephson.
Baca juga: Cara Belajar yang Efektif untuk Anak Introvert dan Ekstrovert
2. Validasi perasaan mereka
Pahami bahwa kemandirian adalah sifat alami anak otrovert. Jangan anggap penolakan mereka untuk bergabung dalam kelompok sebagai perilaku negatif.
3. Bedakan antara menyendiri dan kesepian
Orangtua perlu jeli melihat apakah anak sedang mengisi energi atau sedang menarik diri secara emosional. Perhatikan kondisi emosi mereka setelah mereka menghabiskan waktu sendirian.
“Ketika anak menghabiskan waktu berjam-jam membaca, menggambar, bermain musik, bahkan bermain game, jangan berasumsi mereka mengisolasi diri,” ucap Caswell.
Baca juga: Mengapa Kita Suka Meng-gaslight Diri Sendiri?
tahun ini, Pekan Mengajar Musik Internasional diperingati pada 16-22 Maret 2026.
“Para otrovert benar-benar mengisi ulang energi mereka dengan melakukan hal-hal yang mereka sukai sendirian. Perhatikan bagaimana keadaan mereka setelahnya. Jika mereka rileks, banyak bicara, atau bersemangat untuk berbagi apa yang mereka lihat atau buat, itu adalah pemulihan," sambung dia.
4. Hargai waktu untuk mengisi energi
Hindari memberikan tugas rumah tangga atau pertanyaan bertubi-tubi segera setelah mereka pulang sekolah. Berikan jeda agar mereka bisa bersantai di kamar..
5. Prioritaskan waktu berkualitas berdua
Ciptakan ruang aman di mana anak merasa dihargai secara personal. Kegiatan sederhana seperti memasak bersama atau mengobrol di mobil sering kali menjadi momen di mana mereka lebih terbuka.
Mengingat dunia sering kali lebih menghargai sifat ekstrovert, peran sebagai ayah dan ibu sangat penting untuk membantu mereka melihat sisi reflektif sebagai sebuah kekuatan.
“Pengakuan orangtua membantu mereka melihat sifat reflektif mereka sebagai kekuatan super, bukan kekurangan,” pungkas Caswell.
Baca juga: 9 Kalimat yang Sebaiknya Tak Diucapkan Orangtua soal Pasangan Anak
Tag: #mengenal #karakter #otrovert #pada #anak #cara #mengasuhnya