4 Mitos Seputar Kolagen yang Masih Dipercaya
- Dunia kecantikan selalu dibanjiri dengan istilah-istilah baru yang sering kali membingungkan, mulai dari ceramide hingga peptide.
Di tengah rasa pusing memilih produk yang tepat, satu kata kunci yang benar-benar patut mendapat perhatian khusus adalah kolagen.
Dilansir dari Stylist Magazine, Minggu (29/3/2026), protein struktural ini bertugas menyatukan jaringan kulit, menjaga kekencangan, serta mempertahankan elastisitasnya. Sayangnya, banyak kesalahpahaman yang beredar seputar cara kerja kolagen. Apa saja?
Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Produk Kecantikan Mengandung Kolagen
Ragam mitos kolagen
1. Hanya suplemen yang bisa memulihkan tingkat kolagen
Banyak yang percaya bahwa memulihkan kadar kolagen hanya bisa dilakukan dari dalam tubuh melalui konsumsi suplemen pil atau bubuk.
Namun, konsultan dokter kulit Aiza Jamil mengungkapkan bahwa penggunaan produk oles luar juga memegang peranan esensial dalam rutinitas perawatan.
“Produk perawatan kulit yang tepat dapat membantu mengurangi tampilan kehilangan kolagen melalui hidrasi dan meratakan warna dan tekstur kulit,” kata dr. Jamil.
Pemilihan krim pelembap yang didukung riset ilmiah panjang, serta mengandung partikel-partikel kecil kolagen, peptide kolagen, dan tripeptide tembaga, dapat menjadi langkah awal untuk mengencangkan wajah kembali.
“Produk yang mengandung humektan seperti peptide dapat membantu kulit menahan air dan menjaga hidrasi, sehingga garis-garis halus dan kerutan tampak kurang terlihat dan kulit tampak lebih halus dan kenyal,” ujar dr. Jamil.
Baca juga: Gen Z Mulai “Menabung Kolagen” Demi Kulit Awet Muda, Ini Alasannya
Ilustrasi skincare.
2. Kekurangan kolagen penyebab utama penuaan
Banyak yang mengira bahwa kekurangan atau menurunnya produksi kolagen adalah penyebab utama penuaan.
“Meskipun kehilangan kolagen memang terjadi setelah usia 25 tahun dan berkontribusi pada tanda-tanda penuaan, itu bukanlah satu-satunya penyebab penuaan kulit,” jelas Dr. Jamil.
Ada beberapa hal yang lebih berkontribusi pada tanda-tanda penuaan pada kulit, seperti paparan sinar ultraviolet, peradangan, kehilangan lemak di wajah, dan polusi.
Gaya hidup tidak sehat karena seperti punya kebiasaan merokok, memiliki pola makan yang buruk, kurang tidur, atau stres, juga berkontribusi pada tanda-tanda penuaan.
Oleh karena itu, kombinasi pemakaian produk topikal dengan gaya hidup sehat sangat diperlukan sebagai langkah antisipasi.
Baca juga: Studi Ungkap Jumlah Anak yang Dimiliki Berkaitan dengan Penuaan Biologis
3. Produksi kolagen baru menurun saat usia 40-an
Salah satu miskonsepsi terbesar adalah anggapan bahwa produksi kolagen baru menyusut ketika kamu memasuki usia 40 tahun. Padahal, ini sudah terjadi sejak usia 20 tahunan.
“Produksi kolagen mulai menurun sejak pertengahan usia 20-an, sehingga strategi pencegahan dini menjadi paling efektif,” ucap pakar kulit dan ahli perawatan wajah holistik Jacqueline Yong.
Sangat penting untuk tidak menunda perawatan, karena mencegah selalu jauh lebih mudah daripada memperbaiki kerutan yang sudah telanjur terbentuk secara mendalam.
“Pada saat tanda-tanda penuaan yang terlihat muncul, kehilangan kolagen telah terjadi selama bertahun-tahun. Melakukan perawatan kolagen sejak dini bukanlah tentang ‘anti-penuaan’, tetapi tentang menjaga kekuatan, elastisitas, dan ketahanan kulit dari waktu ke waktu,” papar Yong.
Baca juga: Tanda Penuaan di Wajah yang Sering Terlewat dan Hal yang Mempercepat
4. Kolagen adalah tren pemasaran produk kecantikan
Silih bergantinya tren kandungan kecantikan membuat sebagian orang bersikap skeptis terhadap klaim produk berbasis kolagen. Namun, pendiri dan direktur Clinicbe® dr. Barbara Kubicka menegaskan bahwa fungsi bahan ini berakar kuat pada sains murni.
“Kolagen bukanlah tren, melainkan fondasi struktural bagaimana kulit kita mempertahankan dirinya sendiri. Ketika produksi kolagen mulai menurun, kehilangan itu akan semakin cepat dengan paparan sinar matahari, stres kronis, kurang tidur, dan perubahan hormonal,” jelas dia.
Tingginya minat para ahli dermatologi terhadap protein ini, menurut dr. Kubicka, sejalan dengan pesatnya inovasi dan pemahaman riset medis masa kini.
“Sekarang kita jauh lebih memahami cara melindungi kolagen yang sudah ada dan, yang terpenting, cara merangsang produksi kolagen baru melalui perawatan berbasis bukti dan perawatan kulit yang tepat sasaran," pungkas dia.
Baca juga: Ciri-Ciri Kulit Kurang Kolagen yang Perlu Kamu Ketahui