Generasi Viral, tapi Gagal Profesional: Ada Apa dengan Gen Z?
Ilustrasi Gen Z kesepian di tempat kerja. (FREEPIK/DC STUDIO)
08:55
30 Maret 2026

Generasi Viral, tapi Gagal Profesional: Ada Apa dengan Gen Z?

DI TENGAH gegap gempita teknologi, ada ironi besar yang sedang terjadi di seluruh dunia, yaitu anak muda semakin cerdas, tetapi semakin sulit mendapatkan pekerjaan.

Padahal, mereka adalah generasi paling terdidik, paling terkoneksi, paling digital sepanjang sejarah manusia.

Di sisi lain, mereka juga generasi yang paling sering mendengar kalimat “Maaf, Anda belum sesuai dengan kebutuhan kami.”

Data global menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Seperti laporan Forbes yang mengungkap bahwa banyak manajer mulai enggan merekrut Gen Z, bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena mereka dinilai tidak siap secara profesional.

Temuan ini selaras dengan laporan dari media Inggris bahwa sebagian perusahaan menilai generasi muda kurang siap kerja dan sulit diarahkan.

Fenomena ini bahkan sampai pada titik ekstrem. Menurut laporan dari Euronews, Gen Z direkrut, lalu dikeluarkan hanya dalam hitungan bulan. Situasi ini sejalan dengan penelitian yang juga pernah saya lakukan beberapa tahun silam.

Tantangan lainnya ialah pekerjaan memang berubah wujud karena teknologi. Bahkan jenis pekerjaan baru bermunculan.

Namun, justru laporan global menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih pekerja berpengalaman, bahkan banyak posisi pemula kini mensyaratkan pengalaman 2–3 tahun, bukan langsung merekrut generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi canggih seperti Gen Z.

Fenomena ini oleh CNBC disebut “shrinking pool of entry-level jobs”, kolam pekerjaan pemula yang semakin mengecil.

Lantas, ketika anak muda susah dapat pekerjaan, kita dengan mudah menyalahkan sistem, ekonomi, perang, bahkan AI.

Faktanya, ada satu jawaban tentang apa yang paling dicari di dunia kerja, menurut berbagai studi global, yaitu soft skills, utamanya komunikasi. Inilah keterampilan yang justru dinilai sudah “pasti dimiliki” pekerja yang lebih matang dari segi usia maupun lamanya bekerja.

Mengingat, dunia kerja tidak pernah hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi orang yang mampu menjelaskan pikirannya, merespons dengan tepat, dan membangun hubungan kerja yang sehat.

Kajian bisnis dari Second Nature UK menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi dari kepemimpinan, kolaborasi, dan kepercayaan dalam organisasi.

Tanpa komunikasi yang baik, kemampuan teknis setinggi apa pun akan kehilangan relevansinya.

Menariknya di Indonesia, jurusan komunikasi menjadi salah satu program studi ilmu sosial yang paling diminati, dari data penerimaan mahasiswa baru tahun ke tahun.

Namun, motivasinya sering kali keliru. Banyak anak muda masuk jurusan komunikasi karena melihat influencer sukses, content creator kaya raya, dan ingin jadi terkenal.

Komunikasi dipersepsikan sebagai kemampuan tampil, berbicara di depan kamera, dan menjadi pusat perhatian.

Padahal, dunia kerja membutuhkan keterampilan komunikasi yang fundamental, yaitu mendengar, merespons, menyusun pesan, dan membangun kepercayaan.

Inilah paradoks kita hari ini, komunikasi dijadikan panggung untuk terlihat, bukan tanggung jawab untuk dipercaya.”

Krisis ini bahkan bisa terlihat dari hal yang sangat sederhana, sering kali dianggap sepele seperti pesan tidak dibalas, email diabaikan, instruksi tidak dikonfirmasi.

Dalam teori komunikasi bisnis, komunikasi hanya dianggap berhasil jika terdapat respons yang menciptakan pemahaman bersama.

Ketika respons itu tidak ada, maka yang terhenti bukan hanya percakapan, tetapi seluruh alur kerja, koordinasi menjadi terhambat, keputusan tertunda, dan kepercayaan perlahan tergerus.

Saya sering menyampaikan dengan analogi sederhana bahwa “Komunikasi adalah pintu masuk kesuksesan pribadi dan organisasi. Jika pintu masuk saja tidak dijaga, jangan berharap isi rumah aman.”

Maknanya, bila komunikasi terganggu, jangan heran kalau “rejeki” pun menjauh.

Di era AI, semua orang bisa terlihat pintar karena jawaban dihasilkan mesin, analisis dibantu teknologi, dan konten dibuat otomatis. 

Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan, yaitu kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.

Itulah sebabnya perusahaan mencari orang yang bisa dipercaya, bukan sekadar yang bisa bekerja. Kepercayaan selalu dimulai dari komunikasi.

Solusi dari krisis ini tidak harus selalu besar dan kompleks, tetapi kita hanya perlu kembali ke hal-hal paling dasar yang selama ini kita abaikan seperti membalas pesan dengan jelas, memberi kabar tepat waktu, berbicara dengan tanggung jawab, dan mendengar dengan utuh.

Karena di dunia yang semakin bising ini, mereka yang mampu berkomunikasi dengan baik bukan hanya akan didengar, mereka akan dipercaya.

Dan di dunia kerja, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Maka, saat komunikasi runtuh, karier pun ikut rubuh.

Tag:  #generasi #viral #tapi #gagal #profesional #dengan

KOMENTAR