Mengenal Ghostlighting, Saat Pelaku Ghosting Melakukan Gaslighting
Ilustrasi sedih.(Dok. Freepik/Freepik)
16:10
26 Februari 2026

Mengenal Ghostlighting, Saat Pelaku Ghosting Melakukan Gaslighting

- Pernahkan kamu berkencan dengan seseorang yang menghilang selama berminggu-minggu tanpa kabar, tetapi muncul kembali secara tiba-tiba dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa?

Padahal, sepanjang orang tersebut menghilang, kamu merasa sakit hati, sampai terus-menerus mengingat kembali momen yang telah berlalu untuk memastikan apakah kamu berbuat salah.

Mereka muncul secara tiba-tiba melalui pesan singkat, yang terkadang dibarengi dengan alasan bahwa mereka sedang sibuk bekerja, dan bakal membantah melakukannya ketika kamu membahas perilakunya.

Baca juga: 7 Dampak Psikologis yang Bisa Dialami Korban Gaslighting dalam Hubungan

Dikutip dari Men's Health, Kamis (26/2/2026), ini adalah ghostlighting.

Mengenal ghoslighting yang bisa bikin sakit hati

Apa itu ghostlighting?

Ghoslighting adalah perpaduan antara fenomena ghosting dan gaslighting.

“Ghostlighting adalah saat seseorang menghilang tanpa penjelasan, lalu kemudian mencoba 'menulis ulang' ceritanya agar seolah-olah kamu salah memahami apa yang terjadi,” psikolog klinis sekaligus pendiri Time for Therapy, Kyler Shumway, Psy.D..

Selain menghilang secara emosional, Shumwayy menerangkan bahwa pelaku juga melakukan distorsi realitas atau gaslighting.

Mereka sering mengelak dari tanggung jawab dengan menyebut lawan bicaranya terlalu sensitif atau menyangkal adanya hubungan serius, meski perilaku mereka sebelumnya menunjukkan hal yang bertentangan

Ghosting adalah ketika seseorang mendadak memutus seluruh komunikasi tanpa alasan. Sementara gaslighting adalah ketika seseorang membuat lawn bicaranya meragukan penilaian dan realitas mereka, dan dalam kasus ekstrem, kesehatan mental mereka sendiri.

Perbedaan ghosting dan ghostlighting

Perbedaan mendasar antara sekadar di-ghosting dan menjadi korban ghostlighting terletak pada apa yang terjadi setelah "masa bungkam" berakhir.

Baca juga: Cara Menolak Perasaan Seseorang Tanpa Menyakiti, Jangan Ghosting

“Kamu sedang menjadi korban ghostlighting ketika kamu bertemu kembali dengan orang tersebut, dan mereka menolak untuk bertanggung jawab karena telah menghilang darimu,” kata pakar kenan dan mak comblang asal New York bernama Anna Morgenstern.

Menurut Morgnstern, mereka akan membuat alasan yang bersifat menyalahkanmu, atau terdengar sangat umum, tanpa mau memikul tanggung jawab sedkitpun.

"Saat di-ghosting, kamu tidak akan mendengar kabar dari mereka lagi. Jika mendengar kabar dari mereka, mereka setidaknya akan mengakui tindakannya,” sambung dia.

Mengapa ghostlighting terjadi?

Apa yang sebenarnya memicu perilaku ini? Meski tampak seperti taktik manipulasi yang direncanakan, tindakan ini sering kali bukan didasari niat jahat, melainkan bentuk dari penghindaran emosional.

“Kebanyakan orang yang melakukan ghostlighting tidak berniat untuk menjadi kejam,” kata Shumway.

Menurutnya, pelaku biasanya sekadar ingin melindungi diri dari rasa bersalah atau malu. Sebab, mengakhiri hubungan dengan jujur memerlukan tingkat kedewasaan emosional, yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Bagi mereka yang enggan berkonfrontasi atau takut dianggap buruk, menghilang secara tiba-tiba terasa seperti solusi paling praktis.

Saat mereka muncul kembali dan mencoba mengecilkan makna hilangnya mereka, itu adalah upaya untuk meredam rasa bersalah mereka sendiri.

“Dengan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa kamulah yang salah paham, mereka menghindari kenyataan tentang bagaimana perilaku mereka sebenarnya memengaruhimu,” terang Shumway.

Namun, apa pun alasannya, dampaknya tetap merusak kepercayaan korban. Memahami motif di baliknya bukan berarti membenarkan tindakan tersebut.

Morgenstern menambahkan, fenomena ini semakin sering terjadi karena rendahnya rasa tanggung jawab dalam dunia kencan modern. Kehadiran aplikasi kencan dan media sosial memudahkan orang untuk menghindari percakapan sulit, yang dulunya lazim dilakukan secara langsung.

Ciri-ciri kamu sedang menjadi korban ghostlighting

Shumway mengatakan, orang yang memiliki empati tinggi, setia, atau memiliki kecemasan dalam hubungan, menjadi target yang paling rentan.

Baca juga: Apakah Pelaku Gaslighting Sadar dengan Perilakunya?

Sifat mereka yang cenderung berprasangka baik pada orang lain sering kali dimanfaatkan oleh pelaku. Dampaknya, korban mulai meragukan penilaian mereka terhadap diri sendiri dan orang lain, yang pada akhirnya memicu rasa malu dan membuat mereka menjadi terlalu tertutup di masa depan.

Berikut ragam ciri bahwa kamu sedang menjadi korban ghostlighhting.

1. Ucapannya tidak selaras dengan perbuatannya

Awalnya, mereka mengaku sangat tertarik dan senang bersamamu, tetapi tiba-tiba menghilang.

Saat kembali, mereka bersikap santai seolah-olah kedua belah pihak sama-sama sedang sibuk. Ketidakkonsistenan ini adalah sinyal awal ada yang tidak beres.

2. Enggan memikul tanggung jawab

Ketika dimintai penjelasan, mereka akan mengalihkan topik atau mengubah narasi kejadian.

“Pengalihan adalah hal yang umum untuk menghindari menjawab pertanyaan yang mereka tahu bahwa mereka bersalah,” terang Morgenstern.

3. Membalikkan kesalahan

Mereka akan membuat seolah-olah kamulah penyebab jarak di antara kalian, misalnya dengan menuduhmu terlalu agresif atau salah menangkap sinyal.

“Sebuah tanda bahaya adalah ketika mereka dengan cepat mencoba membalikkan situasi untuk membuatmu terlihat seperti orang yang bersalah,” tutur Morgenstern.

4. Mengecilkan atau mengubah fakta kejadian

Mereka berupaya membingkai ulang kenyataan agar perilaku mereka tampak wajar, misalnya dengan berdalih bahwa kalian hanya sedang jarang berkomunikasi, bukan menghilang secara sengaja.

5. Munculnya rasa bingung dan tidak stabil

Indikator utama bukan pada kata-kata pelaku, melainkan pada kecemasan dan keraguan yang kamu rasakan.

“Kuncinya adalah memperlambat diri dan melihat buktinya, daripada hanya mengandalkan emosi atau asumsi,” tutur Shumway.

Tanyakan pada diri sendiri apakah ucapan mereka masuk akal dan apakah mereka bersedia berbagi tanggung jawab atas konflik yang terjadi.

Baca juga: 6 Dampak Ghosting bagi Kesehatan Mental, dari Stres hingga Trauma

Cara menghadapi ghostlighting

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur terjebak dalam situasi ini?

Pertama, sadarilah bahwa ketulusanmu dalam membangun hubungan adalah sebuah kekuatan, bukan kelemahan. Fokusnya adalah mempertegas batasan diri agar kebaikanmu tidak dimanfaatkan.

Ingatlah bahwa kemunculan kembali sang pelaku tidak serta-merta memberi mereka akses ke hidupmu lagi.

“Mereka perlu mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan mereka dan memberikan penjelasan,” kata Morgenstern.

"Biarkan mereka menunjukkan padamu bahwa mereka telah berubah, dan ketertarikan mereka padamu tulus. Jika terasa bahwa mereka sedang memanipulasimu, atau tidak sepenuhnya transparan denganmu, jangan biarkan mereka kembali ke hidupmu," sambung dia.

Karena sebagian besar pelaku enggan mengakui kesalahan, Morgenstern menyarankan agar kamu mengakhiri hubungan sesuai keinginanmu sendiri demi ketenangan pikiran.

Merespons pelaku bukan berarti kamu harus merendahkan diri, melainkan untuk menegaskan kebenaran yang kamu alami. Shumway menekankan pentingnya memercayai pengamatan dan emosi sendiri daripada terjebak dalam putaran narasi pelaku.

“Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri dan bertanya-tanya apa kesalahan yang kamu perbuat, tetapi ghostlighting lebih menunjukkan tingkat kenyamanan orang lain dengan kejujuran daripada menunjukkan nilai dirimu,” pungkas Shumway.

Baca juga: 14 Kalimat Efektif untuk Menghentikan Pelaku Gaslighting Menurut Psikolog

Tag:  #mengenal #ghostlighting #saat #pelaku #ghosting #melakukan #gaslighting

KOMENTAR