Mengapa Tubuh Lebih Dulu Mengingat Trauma? Pelajaran dari Broken Strings
Sebagian pembaca mengaku tubuh mereka bereaksi saat membaca kisah Aurelie Moeremans di dalam buku Broken Strings, bahkan sebelum pikiran memahami apa yang sedang dirasakan.
Psikolog menjelaskan bahwa respons seperti napas pendek, dada terasa berat, atau kegelisahan mendadak, terjadi karena sistem saraf bekerja lebih cepat daripada pikiran sadar.
Reaksi tersebut bukan tanda kelemahan mental, melainkan mekanisme alami tubuh dalam merespons rangsangan emosional.
Memahami proses ini penting agar pembaca tidak salah menafsirkan sinyal tubuhnya sendiri.
Ketika kisah hubungan toksik memicu respons tubuh
Perbincangan soal respons tubuh menguat setelah banyak orang membaca Broken Strings, buku yang mengisahkan pengalaman Aurelie Moeremans menghadapi hubungan penuh manipulasi sejak usia remaja.
Cerita yang disampaikan secara personal itu membuat sebagian pembaca bukan hanya memahami kisahnya, tetapi juga tanpa sadar mengaktifkan ingatan emosional mereka sendiri.
Alih-alih langsung merasakan emosi tertentu, sebagian pembaca justru dibuat bingung oleh reaksi fisik yang muncul lebih dulu, seperti rasa sesak atau gelisah tanpa sebab jelas.
Saat otak tidak membedakan cerita dan pengalaman nyata
Psikolog dari RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menjelaskan bahwa otak manusia tidak selalu membedakan antara pengalaman nyata dan pengalaman emosional yang dibayangkan.
Ketika membaca kisah trauma, otak dapat memproses cerita tersebut seolah-olah sedang terjadi di hadapan pembaca.
“Otak memproses kisah trauma seperti pengalaman langsung, sehingga sistem saraf langsung aktif,” ujar Yustinus dalam wawancara dengan Kompas.com, Rabu (13/1/2026).
Sistem saraf bergerak lebih cepat dari pikiran
Menurut Yustinus, sistem saraf bekerja dalam waktu sangat singkat untuk melindungi tubuh dari ancaman.
Ketika cerita memiliki kemiripan dengan pengalaman pribadi, tubuh bisa langsung masuk ke mode waspada.
Respons ini dapat muncul sebagai jantung berdebar, napas pendek, atau rasa tidak nyaman yang datang tiba-tiba. Pikiran baru menyusul kemudian untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Empati tinggi membuat respons lebih intens
Yustinus menjelaskan bahwa individu dengan empati tinggi cenderung mengalami respons tubuh yang lebih kuat.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional contagion, yaitu emosi orang lain yang secara tidak sadar menular ke dalam diri seseorang.
“Empati membantu kita memahami orang lain, tetapi jika tidak disadari, tubuh bisa kewalahan lebih dulu,” katanya.
Ingatan trauma disimpan di tubuh, bukan hanya di pikiran
Selain empati, Yustinus menyoroti peran trauma memory dalam reaksi tubuh. Ingatan traumatis sering kali tidak tersimpan sebagai cerita yang runtut, melainkan sebagai sensasi fisik atau emosi.
“Tubuh mengenali pola ancaman lebih cepat daripada pikiran mampu menjelaskannya,” ujarnya.
Mendengarkan tubuh sebagai bentuk perawatan diri
Menurut Yustinus, reaksi tubuh yang muncul tanpa disadari merupakan sinyal perlindungan, bukan kelemahan.
Memberi jeda, memperlambat diri, atau berhenti membaca saat tubuh bereaksi merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental.
“Itu bentuk perlindungan diri,” kata Yustinus.
Healing, menurut dia, seharusnya berlangsung dengan aman dan penuh kesadaran, bukan dengan memaksa diri menghadapi semuanya sekaligus.
Tag: #mengapa #tubuh #lebih #dulu #mengingat #trauma #pelajaran #dari #broken #strings