Bagaimana Penyandang Tunanetra Bermimpi?
- Banyak orang yang tidak bisa melihat, sepenuhnya buta. Ada yang masih bisa melihat, meskipun pandangannya kabur.
Lantas, bagaimana saat mereka bermimpi? Apakah mereka bisa melihat dengan jelas isi mimpi tersebut, atau pandangan mereka juga kabur seperti di dunia nyata?
Penyandang tunanetra dan mimpi
Apakah mereka bisa melihat mimpinya?
Dilansir dari Live Science, Minggu (11/1/2026), dalam beberapa kasus, mereka bisa melihat mimpinya.
Ada studi bertajuk "The Sensory Construction of Dreams and Nightmare Frequency in Congenitally Blind and Late Blind Individuals" dari Amani Meaidi, Poul Jennum, Maurice Ptito, dan Ron Kupers pada 2014.
Studi menemukan, orang yang tidak terlahir buta, tetapi kehilangan penglihatan di kemudian hari, terkadang melaporkan pengalaman visual dalam mimpi mereka.
Mimpi-mimpi ini kemungkinan besar berasal dari ingatan saat mereka masih memiliki penglihatan. Namun, semakin awal seseorang kehilangan penglihatannya dalam hidup, dan semakin lama mereka buta, semakin kecil kemungkinan mereka melihat gambar dalam mimpi.
"Seseorang yang buta pada usia tujuh tahun atau yang telah buta selama, katakanlah 20 tahun, hampir kehilangan semua pengalaman visual dalam mimpi mereka," kata Ptito yang juga seorang ahli saraf visual di University of Montreal, Kanada.
"Sementara itu, mimpi orang-orang yang sudah buta sejak lahir cenderung lebih bergantung pada indra lain, seperti pendengaran, sentuhan, rasa, dan penciuman," tutur ahli neurosains kognitif di Italian Institute of Technology di Italia, Monica Gori.
Absennya pengalaman visual dalam mimpi
Sebagian besar penelitian menunjukkan, pengalaman visual umumnya tidak ada dalam mimpi orang yang buta sejak lahir.
"Namun, ada beberapa penelitian tentang mimpi yang menantang gagasan ini," kata Kepala Sleep and Brain Plasticity Centre di King's College London, Inggris, Ivana Rosenzweig.
Misalnya adalah sebuah studi berjudul "Visual Dreams in the Congenitally Blind?" karya Fernando H. Lopes da Silva dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences pada 2003.
Penelitian ini melaporkan, orang dengan kebutaan sejak lahir yang dipindai dengan elektroda di kulit kepala mereka saat tidur, memiliki bukti gelombang otak yang terkait dengan penglihatan.
Selanjutnya adalah studi bertajuk "Mental Imagery in Dreams of Congenitally Blind People" oleh Jungwoo Kang, Rita Bertani, Kausar Raheel, Matthew Soteriou, Jan Rosenzweig, Antonio Valentin, Peter J. Goadsby, Masoud Tahmasian Rosalyn Moran, Katarina Ilic, Adam Ockelford, dan Ivana Rosenzweig, tahun 2023.
Studi yang menganalisis 180 mimpi dari tujuh orang yang buta sejak lahir ini juga menemukan laporan deskripsi yang menyerupai penglihatan.
Ahli neurosains kognitif lainnya dari Institute of Technology, Helene Vitali, mengungkapkan hal yang paling mengejutkan dan menarik bagi mereka.
"Kemungkinan bahwa seseorang yang buta sejak lahir mungkin bermimpi dalam citra visual adalah gagasan bahwa mimpi dapat memberikan akses ke pengalaman yang belum pernah mereka temui dalam kehidupan nyata mereka," ucap Vitali.
Namun, meskipun aktivitas mungkin terjadi di korteks visual otak seorang tunanetra saat mereka bermimpi, Ptito menerangkan bahwa itu tidak selalu berarti mereka melihat gambar saat tidur.
"Pada orang yang buta sejak lahir, korteks visual telah direkrut untuk fungsi lain," kata Ptito.
Misalnya, pada orang buta yang dapat membaca braille, jika kamu merangsang korteks visual mereka, mereka merasakan sensasi di jari-jari mereka.
"Korteks visual tidak berhenti bekerja pada orang buta, tetapi korteks visual dialihkan fungsinya," terang Ptito.
Ptito mengungkapkan bahwa pihaknya pernah menempatkan penyandang tunanetra di dalam pemindai fMRI
"Kami mengirimkan aroma ke hidung mereka sambil mengambil gambar otak mereka, dan menemukan informasi ini masuk ke korteks visual mereka Hal yang sama berlaku untuk sensasi pendengaran dan sentuhan," jelas dia.
Otak bisa menciptakan visual
Pendapat Ptito bahwa aktivitas di korteks visual tidak berarti bahwa orang buta melihat gambar selama mimpi, ditanggapi oleh Vitali yang menyarankan kemungkinan lain.
Salah satunya adalah bahwa sistem visual otak dapat membentuk konsep abstrak dari indra penyandang tunanetra, yang mungkin direpresentasikan secara visual bagi mereka.
"Alasan lainnya adalah tidur REM bertindak seperti simulator realitas virtual, membantu otak mengembangkan dan mempertahankan kemampuan kompleks seperti persepsi dan keterampilan motorik," kata Vitali.
Ini bisa berarti bahwa otak penyandang tunanetra dapat menghasilkan gambar dalam mimpi, meskipun mereka tidak pernah mengalami pengalaman seperti itu di dunia nyata.
Sulit mengaitkan visual dalam mimpi dan dunia nyata
Seorang profesor fisika di West Texas A&M University, Amerika Serikat, Christopher Baird, menuliskan dalam sebuah unggahan di blog, tentang masalah dalam meneliti penyandang tunanetra dan mimpi.
Masalah ini terkait penyandang tunanetra yang sudah tidak bisa melihat sejak lahir dan visual yang mereka "lihat" dalam mimpi, jika memang mereka melihatnya.
Masalah itu adalah mereka tidak punya pengalaman yang mengaitkan apa yang mereka lihat di mimpi, dengan apa yang digambarkan oleh orang dengan penglihatan normal.
Untuk membantu mengatasi masalah ini, Gori dan rekan-rekannya dalam wawancara dengan Live Science pada 2024, mengungkapkan bahwa mereka sedang meneliti tentang bagaimana penyandang tunanetra membangun dan mengalami mimpi.
Di sisi lain, Ptito juga mencatat, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), suatu hari nanti dapat menganalisis pemindaian otak penyandan tunanetra saat mereka bermimpi.
Ini untuk membantu melihat seberapa mirip aktivitas otak mereka dengan apa yang dialami individu yang dapat melihat.