Netanyahu Terus Cari Cara Gagalkan Perdamaian AS-Iran, Diduga Tak Mau Perang Berakhir
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio di kantor PM Israel di Yerusalem, 15 September 2025.(AFP/POOL/NATHAN HOWARD)
12:42
2 Juni 2026

Netanyahu Terus Cari Cara Gagalkan Perdamaian AS-Iran, Diduga Tak Mau Perang Berakhir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mencari cara untuk menggagalkan upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik.

Sejumlah analis, sebagaimana dilansir The Telegraph, menilai serangan Israel yang meningkat ke Lebanon dalam beberapa hari terakhir bertujuan mengganggu negosiasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Menurut laporan tersebut, kesepakatan damai yang memungkinkan Iran tetap berdiri dan memiliki kesempatan membangun kembali kekuatannya dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Netanyahu

Baca juga: Trump Caci Maki Netanyahu soal Serangan ke Beirut, Hubungan AS-Israel Retak?

Iran tangguhkan perundingan dengan AS

Sebelumnya, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa tim perunding Iran menghentikan sementara pembicaraan dan pertukaran dokumen melalui mediator karena adanya serangan Israel ke Lebanon.

“Mengingat berlanjutnya kejahatan rezim Zionis di Lebanon, dan mengingat bahwa Lebanon merupakan salah satu prasyarat gencatan senjata yang kini telah dilanggar di semua lini, tim perunding Iran menangguhkan pembicaraan dan pertukaran teks melalui mediator,” lapor Tasnim.

Namun, tidak lama setelah kecaman tersebut, Trump dilaporkan menelepon Netanyahu pada Senin (1/6/2026) dan berhasil memerintahkannya untuk menghentikan serangan terbaru tersebut.

Tekanan politik jelang pemilu

Israel disebut telah mencatat sejumlah keberhasilan militer terhadap Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran.

Hamas disebut hampir hancur di Gaza, sementara Hizbullah tidak lagi sekuat sebelumnya. Di Iran, sebagian besar kepemimpinan telah tersingkir dan ekonomi serta kompleks industri militernya mengalami kemunduran selama bertahun-tahun, bahkan mungkin beberapa dekade.

Sejumlah analis juga menilai bukan hal yang mustahil rezim Iran runtuh akibat tekanan domestik dan kontradiksi internalnya sendiri.

Namun, skenario tersebut dinilai tidak cukup bagi Netanyahu yang akan menghadapi pemilu pada Oktober.

Di Israel, kegagalan perang menjatuhkan rezim Iran dan menciptakan apa yang disebut warga Israel sebagai “realitas baru” dilaporkan memicu kecemasan yang meluas.

David Horovitz, pendiri dan editor The Times of Israel, menulis pekan lalu bahwa jika syarat-syarat gencatan senjata yang diusulkan antara AS dan Iran diterima, perang tersebut akan dikenang sebagai “kegagalan yang menentukan sebuah era."

“Kepemimpinan dan warga Israel, hampir di seluruh spektrum politik, dengan tepat memandang Republik Islam Iran sebagai ancaman langsung yang bersifat eksistensial,” tulis Horovitz.

“Ini adalah rezim yang harus disingkirkan demi rakyat Iran, kawasan, dan dunia bebas, tetapi yang paling utama demi kelangsungan hidup Israel.”

Baca juga: Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya

Netanyahu dan Trump berbeda pandangan

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan berusaha membujuk Donald Trump untuk melanjutkan perang dan menolak kesepakatan dengan Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan berusaha membujuk Donald Trump untuk melanjutkan perang dan menolak kesepakatan dengan Iran.

Dua pekan lalu, Netanyahu dilaporkan berusaha membujuk Trump untuk melanjutkan perang dan menolak kesepakatan dengan Iran. Namun, pembicaraan itu dikabarkan berakhir dengan perbedaan pendapat yang tajam.

Salah satu sumber AS yang dikutip Axios bahkan menyebut bahwa “rambut Bibi terbakar setelah percakapan itu”, merujuk pada kemarahan Netanyahu usai berbicara dengan Trump.

Setelah gagal meyakinkan Trump untuk meninggalkan kesepakatan, Netanyahu disebut berusaha membuat Iran yang mengambil langkah tersebut dengan memancing Teheran keluar dari meja perundingan melalui serangan ke Lebanon.

Iran sebelumnya menetapkan kerangka perundingan yang mengutamakan gencatan senjata di Lebanon sebelum membahas isu lain, termasuk uranium, aset yang dibekukan, dan penarikan dari Selat Hormuz.

Kepala perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, “Eskalasi kejahatan perang di Lebanon oleh rezim Zionis yang genosidal merupakan bukti nyata ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap gencatan senjata.”

Trump tegaskan ingin akhiri perang

Meski demikian, upaya Netanyahu disebut mendapat hambatan dari Trump. Presiden AS itu menegaskan, tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut setelah percakapannya dengan pemimpin Israel tersebut.

“Tidak akan ada pasukan yang menuju Beirut, dan pasukan apa pun yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan,” tulis Trump di Truth Social setelah percakapan yang ia sebut sebagai panggilan yang “sangat produktif” dengan Netanyahu.

Di sisi lain, kelompok garis keras di Iran juga dilaporkan mengancam akan menggulingkan pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian jika menerima kesepakatan yang mereka anggap lemah.

Netanyahu juga disebut harus menghadapi lingkaran dekat Trump. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, hingga menantu Trump, Jared Kushner, dilaporkan menjadi sasaran serangan karakter dari media-media pendukung Netanyahu dalam beberapa hari terakhir.

Dalam sejumlah wawancara televisi Israel, mereka digambarkan sebagai sosok yang, menurut seorang pengamat Israel, “naif, mudah dikompromikan, memiliki kepentingan finansial, berpihak pada Qatar, dan bahkan berbahaya bagi keamanan Israel."

Baca juga: Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran

Tag:  #netanyahu #terus #cari #cara #gagalkan #perdamaian #iran #diduga #perang #berakhir

KOMENTAR