Israel Rebut Kastil Beaufort di Lebanon, Netanyahu Belum Puas
Bendera Israel berkibar di atas Kastil Beaufort abad pertengahan, yang dikenal secara lokal sebagai Qalaat al-Shaqif atau Shaqif Arnoun, seperti yang terlihat dari daerah Marjayoun di Lebanon selatan pada 31 Mei 2026.(-)
09:06
1 Juni 2026

Israel Rebut Kastil Beaufort di Lebanon, Netanyahu Belum Puas

- Tentara Israel telah merebut puncak bukit strategis yang dihiasi kastil peninggalan Perang Salib, Beaufort di Lebanon selatan pada Minggu (31/5/2026).

Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusmpah akan terus memperluas serangan ke Lebanon setelah.

"Hari ini, kita kembali ke Beaufort dengan cara yang berbeda. Kita kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya," kata Netanyahu dalam pernyataan video, dikutip dari AFP, Senin (1/6/2026).

"Perebutan Beaufort adalah tahapan dramatis dan perubahan dramatis dalam kebijakan yang kami pimpin. Kami telah menghancurkan tembok ketakutan," sambungnya.

Baca juga: Israel Serang Lebanon Lagi meski Gencatan Senjata, Pasukan Darat Tembus Garis Kuning

Pernah dikuasai Israel

Pasukan Israel menggunakan kastil Beaufort, yang juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif, sebagai pangkalan selama pendudukan mereka yang berakhir pada 2000.

Suara dentuman terdengar dan asap mengepul dari area sekitarnya, sementara bendera Israel berkibar di atas kastil.

"Sekarang arahan saya adalah untuk memperdalam dan memperluas cengkeraman kita di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah," ujarnya.

Baca juga: Israel dan Lebanon Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata 45 Hari

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menuturkan, benteng bersejarah tersebut memiliki pemandangan luas ke Lebanon selatan.

"Empat puluh empat tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik, dan pada hari ini memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama (1982), pasukan kami telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana," jelas dia.

Perebutan Beaufort, meskipun dipuji oleh para pemimpin tertinggi Israel, membangkitkan kenangan pahit di kedua negara tentang pertempuran mematikan selama hampir dua dekade pendudukan Israel di Lebanon selatan.

Baca juga: Usai Palestina, Lebanon Selatan Diklaim Warga Israel sebagai “Tanah yang Dijanjikan”

Perintah evakuasi

Di sebuah tempat penampungan bagi para pengungsi di Sidon, kota terbesar di Lebanon selatan, Zeinab Fakih, dari Nabatieh tak bisa menutupi ketakutannya.

"Tidak mungkin bagi kami untuk kembali ke rumah, karena kota ini hancur total," katanya.

Sementara, Issa Tfaily yang juga mengungsi dari Nabatieh, memiliki keyakinan untuk bisa kembali ke rumahnya.

"Kami akan kembali, jika tidak hari ini, maka besok, selama masih ada perlawanan," ujarnya.

Baca juga: Tanpa Hizbullah, Negosiasi Israel-Lebanon Disebut Kehilangan Aktor Utama

Dorongan menuju Beaufort terjadi ketika militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran ke daerah-daerah di selatan Sungai Zahrani, utara Litani, dan sekitar 40 kilometer dari perbatasan.

Israel telah menyatakan sebagian besar wilayah Lebanon selatan sebagai zona pertempuran.

Mereka memerintahkan penduduk komunitas besar seperti Nabatieh untuk meninggalkan rumah mereka. 

Lebih dari 1 juta warga Lebanon mengungsi dan pasukan Israel meratakan desa-desa di dekat perbatasan dengan Israel.

Tag:  #israel #rebut #kastil #beaufort #lebanon #netanyahu #belum #puas

KOMENTAR