Negosiasi Memanas! Trump Ubah Syarat Damai, Iran Belum Mau Mengalah
Perundingan untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menghadapi tantangan baru.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meminta perubahan terhadap sejumlah poin dalam rancangan kesepakatan yang tengah dibahas, sehingga proses finalisasi perjanjian kembali tertunda.
Laporan media Amerika Serikat menyebutkan bahwa Trump menginginkan syarat yang lebih ketat dalam proposal tersebut.
Pemerintah AS dikabarkan telah mengirimkan kerangka baru kepada Iran untuk dipelajari dan dipertimbangkan lebih lanjut.
Menurut laporan The New York Times, perubahan yang diminta Trump bertujuan memperkuat beberapa ketentuan penting dalam kesepakatan.
Namun, rincian lengkap mengenai perubahan tersebut belum diungkapkan kepada publik.
Harga minyak dunia, termasuk di Indonesia terancam naik akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran di Teluk, yang membuat jalur perdangan minyak dunia di Selat Hormuz tak bisa dilewati. [Suara.com/Syahda]Sementara itu, Axios melaporkan bahwa salah satu fokus utama Trump adalah pengaturan terkait material nuklir Iran.
Pemerintah AS disebut ingin memastikan isu tersebut mendapat jaminan yang lebih kuat dalam kesepakatan akhir.
Seorang pejabat senior AS mengatakan respons dari Teheran kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari.
"Akan ada kesepakatan. Tinggal menunggu kapan hal itu terwujud. Kami siap menunggu agar presiden mendapatkan apa yang diinginkannya," kata pejabat tersebut.
Di tengah berbagai spekulasi, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa komunikasi dengan Washington masih terus berlangsung.
Abbas Araghchi mengatakan dialog dan pertukaran pesan antara kedua pihak belum berhenti.
"Dialog dan pertukaran pesan masih berlangsung. Tidak mungkin memberikan penilaian sampai ada kesimpulan yang jelas," ujar Araghchi kepada kantor berita IRNA.
Araghchi juga mengingatkan agar berbagai laporan yang beredar saat ini tidak langsung dianggap sebagai fakta.
Menurutnya, seluruh informasi terkait hasil negosiasi masih bersifat spekulatif selama belum ada kesepakatan resmi.
Sikap serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ia menegaskan Teheran tidak akan menerima kesepakatan yang mengabaikan hak-hak penuh Iran.
"Tidak ada kepercayaan terhadap perkataan dan janji musuh. Satu-satunya tolok ukur kami adalah hasil nyata sebelum kami memenuhi komitmen sebagai balasannya," tegas Ghalibaf.
Perubahan syarat yang diajukan Trump berpotensi memperpanjang proses negosiasi selama beberapa hari ke depan.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa semakin lama kesepakatan tertunda, semakin besar risiko meningkatnya kembali ketegangan di kawasan.
Peneliti senior NATO Defense College, Richard Weitz, menilai penundaan memang memiliki risiko, tetapi tetap lebih baik dibanding menghasilkan kesepakatan yang lemah.
Menurutnya, perjanjian yang memuaskan kedua pihak akan lebih berpeluang bertahan dalam jangka panjang.
Trump sebelumnya menegaskan bahwa prioritas utama Washington adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Di sisi lain, Iran berulang kali membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir.
Teheran juga menegaskan tetap memiliki hak untuk mengelola program nuklirnya sesuai aturan internasional.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan keputusan final akan diumumkan.
Namun kedua pihak masih membuka jalur komunikasi, sehingga peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka dalam beberapa hari mendatang.
Tag: #negosiasi #memanas #trump #ubah #syarat #damai #iran #belum #mengalah