Bikin Tuan Rumah India Repot, Iran dan UEA Tegang di Pertemuan BRICS
(Kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Ronald Lamola, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Luar Negeri Brasil Mauro Vieira, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, dan Menteri Luar Negeri Ethiopia Gedion Timothewos berfoto bersama dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di Bharat Mandapam di New Delhi pada 14 Mei 2026.
08:01
16 Mei 2026

Bikin Tuan Rumah India Repot, Iran dan UEA Tegang di Pertemuan BRICS

– Pertemuan para diplomat tingkat atas dari negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, berakhir tanpa menghasilkan pernyataan bersama. 

Ketegangan dan perpecahan tajam antara dua anggota barunya, Iran dan Uni Emirat Arab (UEA), memaksa India selaku tuan rumah hanya merilis pernyataan ketua.

Situasi ini justru mengungkap keretakan di dalam blok ekonomi tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (15/5/2026).

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu gagal mencapai konsensus setelah Teheran mendesak kelompok negara berkembang ini untuk mengutuk perang AS-Israel terhadap Iran. 

Teheran juga menuduh UEA, yang merupakan sekutu AS, terlibat langsung dalam operasi militer yang memusuhi mereka.

Baca juga: Memindai Damai AS-Iran Pasca-Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Dampak konflik bagi India 

Sebagai importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, India terkena dampak parah akibat blokade Iran terhadap Selat Hormuz. 

Selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui oleh seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global dalam kondisi normal.

Serangan-serangan Iran di jalur perairan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tiga personel asal India. 

Bahkan, sebuah kapal berbendera India tenggelam pekan ini, tepat saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terbang ke Delhi untuk menghadiri pertemuan.

Di tengah situasi yang memanas, Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan kunjungan singkat ke UEA pada Jumat. 

Dalam kunjungan tersebut, Modi mengecam keras serangan yang menyasar negara Teluk itu.

"Cara UEA dijadikan target sama sekali tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun," tegas Modi. 

"Dalam kondisi sulit ini, pengendalian diri dan keberanian yang Anda tunjukkan sangat patut dipuji," lanjutnya.

Baca juga: Iran Sebut AS Kini Terbuka untuk Negosiasi, Beda dengan Sebelumnya

Saling tuding

Hubungan antara Iran dan UEA terus memburuk sejak konflik pecah pada 28 Februari, di mana Iran telah beberapa kali menggempur UEA menggunakan rudal dan drone.

Dalam dokumen hasil pertemuan, India selaku mediator mencoba memperhalus situasi dengan menyatakan bahwa ada perbedaan pandangan di antara beberapa anggota mengenai situasi di kawasan Timur Tengah.

Namun, tanpa menyebut nama UEA secara langsung, Araghchi mengungkapkan dalam sebuah konferensi pers bahwa ada salah satu anggota BRICS yang memblokir bagian tertentu dari draf pernyataan bersama.

"Kami tidak memiliki masalah dengan negara tertentu tersebut, mereka tidak menjadi target kami dalam perang saat ini. Kami hanya menyerang pangkalan militer Amerika dan instalasi militer Amerika yang sayangnya berada di tanah mereka," ujar Araghchi.

Araghchi pun menyampaikan harapannya agar dinamika ini berubah saat para pemimpin BRICS bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) akhir tahun nanti.

"Saya berharap pada saat kita menghadiri KTT nanti, mereka telah mencapai pemahaman yang baik bahwa Iran adalah tetangga, kita harus hidup berdampingan, kita telah hidup bersama selama berabad-abad dan kita harus tetap hidup bersama untuk abad-abad mendatang," tambahnya.

Merespons tudingan tersebut, UEA melalui pernyataan resmi kementerian luar negerinya menolak mentah-mentah klaim Iran. 

Baca juga: Ada Upaya Baru Iran untuk Tekan Negara Barat, Manfaatkan Kabel Bawah Laut

UEA menyebut argumen Teheran sebagai upaya untuk membenarkan serangan terhadap wilayah mereka. 

UEA juga menegaskan tetap memegang hak penuh atas kedaulatan, hukum, diplomatik, dan militernya untuk menanggapi setiap ancaman atau tindakan permusuhan.

Wakil Menteri Luar Negeri UEA Khalifa Shaheen Al Marar menyatakan bahwa negaranya telah menghadapi "serangan teroris" berulang kali dari Iran sejak 28 Februari yang menyasar warga sipil dan infrastruktur penting. 

Al Marar menganggap Teheran bertanggung jawab penuh atas serangan-serangan tersebut beserta dampaknya.

Selain itu, Al Marar menuduh Iran mengganggu rute maritim internasional, termasuk di Selat Hormuz. 

Dia menegaskan bahwa UEA tidak mencari perlindungan dari pihak lain dan sepenuhnya mampu menghalau apa yang ia sebut sebagai agresi tanpa provokasi.

Baca juga: Iran Secara Terbuka Kecam UEA karena Berpihak ke AS dan Israel dalam Perang

Tag:  #bikin #tuan #rumah #india #repot #iran #tegang #pertemuan #brics

KOMENTAR