AS Resmi Akhiri Operasi Epic Fury, Apa Langkah Selanjutnya Hadapi Iran?
- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Operasi Epic Fury telah resmi berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (5/5/2026) waktu setempat, sekaligus mengulang keterangannya sebelumnya di hadapan Kongres AS, hampir sebulan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Meski operasi militer dihentikan, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Serangan di Selat Hormuz terus terjadi, membuat status gencatan senjata tetap dipertanyakan.
“Operasi sudah selesai. Kita sudah melewati tahap itu,” ujar Rubio dalam pengarahan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir CNN.
Selain mengakhiri operasi tempur, AS juga menghentikan sementara “Project Freedom”, yakni inisiatif untuk mengawal kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: AS Kerahkan Proyek Kebebasan di Selat Hormuz, Iran Sebut Picu Eskalasi
Beralih ke pendekatan defensif
Rubio menjelaskan, kebijakan AS kini berfokus pada pendekatan defensif, dengan prioritas memulihkan jalur perdagangan global.
“Ini bukan operasi ofensif. Tidak akan ada penembakan kecuali jika kita ditembak terlebih dahulu,” katanya.
Pernyataan ini menandai perubahan sikap pemerintah AS. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengambil pendekatan keras dengan menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran serta penghentian program nuklirnya.
Kini, Washington membuka ruang diplomasi. Delegasi AS yang dipimpin Jared Kushner dan Steve Witkoff tengah menjajaki peluang negosiasi dengan Iran.
“Kita tidak harus memiliki perjanjian tertulis, tetapi harus ada solusi diplomatik yang jelas,” ujar Rubio.
Pernyataan ini muncul beberapa hari setelah pemerintah AS menyatakan bahwa “permusuhan” terhadap Iran telah berakhir, meskipun serangan rudal dan drone masih terjadi, termasuk ke arah kapal komersial dan wilayah Uni Emirat Arab.
Baca juga: UEA Diserang Iran Usai AS Buka Jalur Selat Hormuz, 15 Rudal Dicegat
Gencatan senjata masih rapuh
Sebelumnya, pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku, meskipun terjadi serangan terhadap pasukan AS dalam beberapa waktu terakhir.
Trump juga berupaya meredam ketegangan, meski enggan menjelaskan secara rinci apa yang dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
“Anda akan mengetahuinya,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan besar. Hanya dua kapal komersial yang berhasil melintasi Selat Hormuz di bawah perlindungan AS sejak operasi pengamanan dimulai pekan ini.
Sementara itu, perusahaan pelayaran besar masih enggan melewati jalur sempit tersebut yang rentan terhadap ancaman rudal, drone, dan ranjau.
Sebelum konflik, sekitar 130 kapal melintasi selat itu setiap hari.
Rubio mengakui bahwa pembukaan kembali jalur tersebut tidak mudah. Ia menggambarkan “Project Freedom” sebagai langkah awal untuk menciptakan “zona perlindungan” bagi lalu lintas maritim.
“Ini adalah langkah pertama,” ujarnya, menuju pembukaan kembali selat dan mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “pembakaran ekonomi” oleh Iran.
Ia menambahkan bahwa AS akan memimpin upaya ini, meskipun sejumlah negara lain secara diam-diam telah menawarkan bantuan.
“Ini adalah sebuah kebaikan bagi dunia,” katanya, seraya menyoroti banyaknya kapal asing yang kini terjebak di laut dengan keterbatasan logistik.
Baca juga: UEA Tinggalkan OPEC di Tengah Perang Iran, Apa yang Akan Terjadi?
Kekhawatiran energi dan nuklir
Fokus pada pengamanan jalur perdagangan mencerminkan prioritas utama AS saat ini, yakni mengakhiri blokade de facto Iran di Selat Hormuz yang telah mengguncang pasar energi global.
Rubio memperingatkan potensi dampak yang lebih besar jika Iran memiliki senjata nuklir.
“Jika Iran memiliki senjata nuklir dan mereka memutuskan untuk menutup (Selat Hormuz) dan membuat harga bensin kita menjadi sekitar 9 atau 8 dollar per galon, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
“Mereka akan melakukan hal yang sama kepada dunia dengan senjata nuklir seperti yang mereka lakukan sekarang dengan selat itu,” tambahnya.
Rubio juga menuding Iran terus mengembangkan kemampuan yang mengarah pada program senjata, termasuk penggunaan sentrifugal canggih dan pengembangan rudal jarak jauh.
Meski Iran berulang kali membantah memiliki ambisi nuklir militer, Rubio menyatakan keraguan atas klaim tersebut.
“Mereka hanya tidak bersungguh-sungguh,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Rubio bahkan menyebut kepemimpinan Iran sebagai “gila”, sambil mendesak Teheran untuk mengambil “pilihan yang masuk akal” melalui jalur diplomasi.
Tag: #resmi #akhiri #operasi #epic #fury #langkah #selanjutnya #hadapi #iran