Ilmuwan China Ciptakan ''Predator'', Buru Bahan Nuklir di Lautan
- Tim peneliti internasional di China berhasil mengembangkan material mikroskopis inovatif yang dijuluki "predator" karena kemampuannya berenang dan memburu ion uranium di dalam air.
Terobosan ini membuka peluang baru bagi ekstraksi bahan bakar nuklir sekaligus pembersihan polusi radioaktif.
Material canggih ini merupakan mikromotor berbasis kerangka logam-organik (MOF) yang dikembangkan oleh para peneliti di Institut Danau Garam Qinghai, Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS).
Temuan ini telah diterima oleh jurnal ilmiah Nano Research pada 24 Maret 2026.
Baca juga: Pentagon Incar Tanah Jarang Langka di Malaysia, Tantang Dominasi China
Solusi strategis untuk energi nuklir
Uranium merupakan bahan bakar utama reaktor nuklir.
Meski air laut diperkirakan mengandung sekitar 4,5 miliar ton uranium, konsentrasinya sangat rendah sehingga proses ekstraksinya selama ini dinilai sangat sulit dan mahal secara teknis.
Bagi China yang tengah gencar memperluas armada tenaga nuklirnya, teknologi ini memiliki nilai strategis tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada impor uranium.
“Para peneliti di luar negeri telah mempelajari mikromotor yang digerakkan cahaya sebelumnya, tetapi tidak banyak yang secara khusus menggunakannya untuk ekstraksi uranium,” kata Yongquan Zhou, ilmuwan utama tim tersebut, dikutip dari SCMP, Minggu (26/4/2026).
Baca juga: China Isyaratkan Mau Punya Kapal Induk Nuklir Baru
Mereka merekayasa partikel seperti spons yang berukuran hanya 2 mikrometer, jauh lebih tipis daripada rambut manusia.
Para peneliti kemudian memodifikasi struktur kimia internalnya agar tetap stabil dalam air dalam jangka waktu lama.
Ketika diberi sejumlah kecil bahan bakar hidrogen peroksida, mikromotor tersebut mendorong diri mereka sendiri dengan kecepatan sekitar 7 mikrometer per detik.
Di bawah iradiasi cahaya, kecepatannya hampir berlipat ganda, memberikan partikel tersebut dorongan bertenaga surya.
Dalam uji laboratorium, partikel yang bergerak mengekstrak uranium dari air dengan efisiensi tinggi, menyerap hingga 406 miligram per gram.
Baca juga: Misteri Kapal Nelayan Hantu di Laut China Selatan: Tak Mancing, Dibayar Rp 60 Juta
Berperilaku seperti berburu
Ilustrasi uranium. Uranium adalah unsur kimia radioaktif dan logam berat yang telah digunakan sebagai sumber energi terkonsentrasi yang jumlahnya cukup melimpah selama lebih dari 60 tahun.
Setelah ditangkap, uranium tersebut terkunci dalam bentuk mineralisasi yang stabil, sehingga lebih mudah dipisahkan dan disimpan dengan aman.
Tidak seperti adsorben konvensional yang tetap diam dan menunggu ion uranium melayang melewatinya, sistem baru ini secara aktif bergerak melalui air untuk mencari targetnya.
“Sistem ini dapat bergerak sendiri. Adsorben tradisional tetap berada di tempatnya. Mikromotor ini dapat bergerak secara otomatis, dan digerakkan oleh cahaya, yang membuatnya relatif ramah lingkungan,” jelas Zhou.
Baca juga: Selain AS, China Juga Hadapi Gelombang Kematian Ilmuwan Misterius
Tim juga mengamati perilaku kolektif yang menyerupai sistem predator-mangsa biologis.
Dalam percobaan yang mencampurkan mikromotor aktif dengan partikel koloid pasif, struktur mikroskopis menunjukkan pola yang mirip dengan berburu, melarikan diri, dan gerakan kawanan terkoordinasi saat konsentrasi bahan bakar berubah.
Menurut Zhou, proyek ini sebagian besar dilakukan oleh Ikram Muhammad, seorang asisten profesor di CAS.
Konsep penelitian mereka pada akhirnya dapat diadaptasi untuk memulihkan unsur-unsur strategis lainnya, termasuk rubidium dan cesium.
Baca juga: Teka-teki Video AL China, Cara Beijing Spill Calon Kapal Induk Terbaru?
Teknologi masih tahap awal
Meskipun hasilnya menjanjikan, Zhou memperingatkan bahwa teknologi ini masih dalam tahap awal dan menghadapi hambatan praktis utama sebelum dapat diterapkan dalam skala besar.
“Di danau garam, salinitas menjadi terlalu tinggi, dan proses penambangan tidak dapat lagi berjalan,” jelas dia.
“Penelitian ilmiah membutuhkan waktu dan kami terus berupaya memperbaiki sistem ini,” sambungnya.
Danau garam di China saat ini dieksploitasi terutama untuk produksi kalium dan litium, sementara banyak unsur jejak lainnya sebagian besar tidak digunakan karena terlalu sulit dipisahkan secara ekonomis.
“Kita tidak boleh mengambil kalium dan litium lalu membiarkan sisanya sebagai limbah. Sumber daya seperti uranium, rubidium, dan cesium layak mendapat perhatian lebih,” tuturnya.
Tag: #ilmuwan #china #ciptakan #predator #buru #bahan #nuklir #lautan