Trump Makin Berani, Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz
Presiden Donald Trump memerintahkan militer Amerika Serikat untuk “menembak dan membunuh” kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.(AFP/SAUL LOEB)
07:48
24 April 2026

Trump Makin Berani, Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz

Presiden Donald Trump memerintahkan militer Amerika Serikat untuk “menembak dan membunuh” kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.

Perintah itu diumumkan Kamis (23/4/2026), sehari setelah Iran kembali menunjukkan kemampuannya mengganggu lalu lintas di jalur vital tersebut.

Pada saat yang sama, Trump juga memperpanjang gencatan senjata di Lebanon selama tiga pekan.

Baca juga: Trump Ejek Iran Kehabisan Uang, Sebut Teheran Rugi Rp 8,6 Triliun Sehari Imbas Blokade

Perintahkan tembak kapal Iran

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Dalam unggahan di media sosial, seperti dikutip Associated Press, Trump menyatakan, “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kecil yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz.”

Ia menambahkan bahwa kapal penyapu ranjau AS “sedang membersihkan selat itu sekarang juga.”

Trump juga menegaskan operasi tersebut akan ditingkatkan. “Saya dengan ini memerintahkan aktivitas itu untuk terus berlanjut, tetapi dengan tingkat tiga kali lipat!” ujarnya.

Pernyataan ini muncul tak lama setelah militer AS menyita kapal tanker lain yang terkait dengan penyelundupan minyak Iran.

Insiden tersebut semakin memperuncing kebuntuan antara kedua negara di jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia saat masa damai.

Rekaman yang dirilis Departemen Pertahanan menunjukkan pasukan AS berada di dek kapal tanker berbendera Guinea, Majestic X, yang disita di Samudra Hindia. Kapal itu sebelumnya dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada 2024 karena menyelundupkan minyak mentah Iran.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menyerang tiga kapal kargo di selat tersebut dan menyita dua di antaranya.

Kepala peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, menyebut tiga kapal “pelanggar” akan dikenai tindakan hukum.

Ia menambahkan, “Unjuk kekuatan angkatan bersenjata Iran di Selat Hormuz adalah sumber kebanggaan,” serta mengklaim Amerika “tidak memiliki keberanian” mendekati selat.

Kebuntuan diplomasi

Upaya diplomasi antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Rencana pertemuan di Islamabad belum terlaksana.

Iran menolak hadir sebelum blokade pelabuhan dicabut, sementara Gedung Putih menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas internasional.

Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, turut menyerukan kedua pihak kembali ke meja perundingan untuk mengakhiri perang.

Baca juga: Seluruh Sekolah di Iran Ditutup Imbas Perang, Bangunan Rusak Diserang AS-Israel

Trump juga mengklaim adanya perpecahan dalam kepemimpinan Iran. “Iran sedang sangat kesulitan menentukan siapa pemimpinnya! Mereka bahkan tidak tahu!” ujarnya.

Namun, Presiden Iran dan ketua parlemen membantah klaim tersebut. “Kami semua adalah orang Iran dan revolusioner,” kata mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pernyataan Trump sebagai “pengalihan isu,” sementara pejabat lain menegaskan negara tetap solid.

Trump sendiri menyatakan tidak ingin terburu-buru mengakhiri konflik. “Saya tidak ingin terburu-buru,” katanya.

Ia menambahkan AS “telah melumpuhkan negara itu” dalam empat minggu pertama, dan kini hanya menunggu kemungkinan kesepakatan.

“Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” tegasnya, seraya memastikan tidak akan menggunakan senjata nuklir.

Gencatan senjata Lebanon diperpanjang

Di tengah konflik, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selama tiga minggu. Keputusan ini diambil setelah pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon di Gedung Putih.

“Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” kata Trump.

Meski demikian, situasi di lapangan tetap rapuh. Militer Israel melaporkan serangan terhadap peluncur rudal di Lebanon, sementara Hizbullah mengaku menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai balasan. Kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata.

Ancaman terhadap jalur pelayaran global

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 30 kapal diserang di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Ancaman tersebut, ditambah lonjakan premi asuransi, membuat banyak kapal enggan melintas.

Jakob Larsen dari organisasi pelayaran internasional BIMCO mengatakan, perusahaan pelayaran membutuhkan gencatan senjata yang stabil serta jaminan keamanan dari kedua pihak.

Ia menekankan bahwa ancaman ranjau menjadi “kekhawatiran khusus” jika lalu lintas ingin kembali normal.

Baca juga: Trump Bocorkan Internal Iran Terpecah Belah, Benarkah?

Tag:  #trump #makin #berani #perintahkan #tembak #kapal #iran #selat #hormuz

KOMENTAR