Ketika AS Mau Hasil Instan, Iran Inginkan Permainan Jangka Panjang
Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat.(Chat GPT)
15:48
21 April 2026

Ketika AS Mau Hasil Instan, Iran Inginkan Permainan Jangka Panjang

- Gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) atau tinggal sehari lagi.

Namun, upaya negosiasi kedua negara masih menemui jalan buntu. Iran bahkan hingga kini belum mengirimkan delegasinya ke Islamabad, Pakistan.

Kebuntuan diplomasi ini dinilai berakar dari perbedaan karakter yang kontras antara gaya kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan otoritas Iran. 

Baca juga: Xi Jinping Mulai Bicara soal Selat Hormuz, Minta Blokade Harus Dibuka

Trump dikenal sebagai penganut diplomasi koersif yang gemar memaksa lawan untuk tunduk secara instan di bawah ancaman militer.

Namun, dalam berurusan dengan Iran selama enam minggu terakhir, Trump menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan lawan yang memiliki ketahanan luar biasa. 

Upaya Trump untuk "menggertak" Iran dengan mengeklaim bahwa Teheran telah menyetujui semua tuntutan AS pada Jumat (17/4/2026) berakhir gagal total, hingga Trump sendiri mengakui di media sosial bahwa klaim tersebut hanyalah rekaannya.

Baca juga: Irak Disebut Diam-diam Terlibat Perang Iran, Serang Arab Saudi

Kontras gaya diplomasi

Robert Malley, negosiator kawakan yang terlibat dalam kesepakatan nuklir 2015, memberikan analisis tajam mengenai benturan dua kepribadian ini.

“Trump impulsif dan temperamental, kepemimpinan Iran keras kepala dan gigih,” kata Robert Malley, dikutip dari New York Times, Senin (20/4/2026).

“Trump menuntut hasil segera, kepemimpinan Iran memainkan permainan jangka panjang. Trump bersikeras pada hasil yang mencolok dan menarik perhatian media, kepemimpinan Iran memperhatikan setiap detail," sambungnya.

Menurutnya, Trump percaya bahwa kekerasan dapat memaksa kepatuhan. Di sisi lain, Iran siap menanggung penderitaan yang luar biasa daripada mengalah pada kepentingan inti mereka.

Baca juga: Pejabat Iran Singgung Selat Malaka Bisa Bernasib seperti Selat Hormuz, Apa Katanya?

Krisis kepercayaan yang mendalam

Baru-baru ini, para pejabat Iran mencatat bahwa dua kali berturut-turut pada Juni 2025 dan Februari tahun ini, Presiden Trump telah memerintahkan serangan terhadap Iran di tengah-tengah negosiasi diplomatik. 

Bagi Teheran, tindakan ini adalah bentuk pengkhianatan yang membuktikan Trump bukan mitra dialog yang bisa diandalkan.

Ketidakpercayaan itu berubah menjadi baku tembak pada akhir pekan, di dekat Selat Hormuz. Kapal-kapal Iran melepaskan tembakan ke dua kapal kargo yang mereka katakan melanggar kendali ketat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

Pada Minggu (19/4/2026), Angkatan Laut AS menembaki ruang mesin sebuah kapal kontainer besar berbendera Iran, yang kini telah disita. 

Baca juga: Siap-siap Perundingan, Wapres AS Langsung Terbang ke Pakistan jika Iran Beri Lampu Hijau

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.AFP/POOL/ALEX BRANDON Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.

Trump mencatat, kapal tersebut telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan pada 2020, karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.

“Kami memiliki kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya!” tulis Trump di media sosial.

Langkah-langkah agresif di lapangan ini dipandang sebagai upaya kedua belah pihak untuk "mendikte" jalannya perundingan, layaknya jenderal yang sedang membentuk medan tempur.

Iran berusaha membuktikan bahwa meskipun dalam kondisi tertekan, mereka tetap mampu mengganggu jalur perdagangan global di Selat Hormuz yang bernilai jutaan dollar AS.

Sementara itu, pemerintahan Trump secara terang-terangan menunjukkan kesiapan mereka untuk menyulut kembali api peperangan jika meja perundingan tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi Washington.

Tag:  #ketika #hasil #instan #iran #inginkan #permainan #jangka #panjang

KOMENTAR