Negara Teluk Khawatir, Perundingan Justru Perkuat Cengkeraman Iran di Hormuz
Gambar yang diperoleh AFP dari kantor berita Iran Tasnim pada 4 Januari 2021 memerlihatkan kapal tanker Korea Selatan, MT Hankuk hemi, dikawal oleh angkatan laut Garda Revolusi Iran setelah disergap di Teluk Persia.(AFP PHOTO/TASNIM NEWS/-)
12:36
21 April 2026

Negara Teluk Khawatir, Perundingan Justru Perkuat Cengkeraman Iran di Hormuz

- Negara-negara di kawasan Teluk Persia dilaporkan tengah diliputi kekhawatiran terkait arah perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Mereka mencemaskan bahwa dialog tersebut justru berakhir membuat Iran semakin mencengkeram Selat Hormuz, bukannya deeskalasi menyeluruh yang selama ini diharapkan.

Sejumlah pejabat dan analis memperkirakan, putaran negosiasi berikutnya di Islamabad tidak lagi menitikberatkan pada program rudal atau proksi regional Iran. 

Baca juga: 2 Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Imbas Penutupan Kembali oleh Iran

Fokus pembicaraan diyakini telah bergeser pada batasan pengayaan uranium dan pengelolaan pengaruh Iran atas Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang vital di dunia.

Kecemasan negara-negara Teluk diperkuat oleh pernyataan tajam dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (20/4/2026).

Melalui unggahannya di platform X, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia tersebut menyebut Selat Hormuz sebagai alat tawar menawar Iran yang setara dengan kekuatan nuklir.

"Tidak jelas bagaimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan berlangsung. Namun satu hal yang pasti, Iran telah menguji senjata nuklirnya. Itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tidak ada habisnya," tulis Medvedev.

Pernyataan ini menggambarkan Hormuz sebagai aset yang memungkinkan Iran untuk menekan aturan global tanpa harus melewati ambang batas nuklir secara fisik.

Baca juga: Ketika Selat Hormuz Jadi Senjata Baru Iran...

Aset Teheran

Di pihak lain, otoritas keamanan Iran secara tertutup memandang Selat Hormuz bukan sekadar jalur darurat, melainkan aset yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun.

"Iran telah bersiap selama bertahun-tahun untuk skenario penutupan Selat Hormuz, merencanakan setiap langkahnya," ujar seorang sumber keamanan senior Iran.

Dia menyebut, Iran menganggap Selat Hormuz sebagai aset emas yang tak ternilai harganya yang berakar pada geografi Iran. 

"Dunia tidak bisa merampasnya justru karena aset itu mengalir dari lokasi (geografis) Iran," tambahnya.

Sumber lain yang dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan menyebut Hormuz sebagai pedang yang telah dihunus dari sarungnya, yang memaksa AS dan negara-negara regional untuk memperhitungkan kekuatan Teheran.

Baca juga: Mengukur Risiko Ranjau Laut di Selat Hormuz

Kekhawatiran negara Teluk

Kekecewaan mendalam muncul dari negara-negara tetangga Iran di kawasan Teluk Persia

Mereka merasa isu rudal dan drone yang kerap menghantam wilayah mereka dikesampingkan demi stabilitas ekonomi global yang bergantung pada arus minyak di Hormuz.

Presiden Emirates Policy Center Ebtesam Al-Ketbi menilai langkah diplomasi saat ini bukanlah solusi permanen.

"Apa yang terbentuk saat ini bukanlah penyelesaian bersejarah, melainkan rekayasa konflik berkelanjutan yang disengaja," ujar Al-Ketbi kepada Reuters.

Dia mempertanyakan prioritas negosiasi yang mengabaikan ancaman langsung terhadap keamanan Teluk. 

"Siapa yang menderita akibat rudal dan proksi? Israel, dan khususnya negara-negara Teluk. Kesepakatan yang baik bagi kami adalah (membahas) rudal, proksi, dan Hormuz. Tampaknya mereka tidak peduli dengan rudal atau proksi," tegasnya.

Baca juga: Iran dan Keunggulan Strategisnya di Selat Hormuz

Ketergantungan dan frustrasi terhadap AS

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Meski mengakui keunggulan militer AS tetap krusial dalam melindungi kawasan, muncul rasa frustrasi atas keputusan sepihak Washington. 

Abdulaziz Sager, Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, menekankan perlunya pendekatan yang berbeda.

"AS adalah bagian tak terpisahkan dari keamanan regional. Namun itu tidak berarti bertindak sepihak, melangkah sepenuhnya tanpa melibatkan kawasan," kata Sager.

Senada dengan itu, akademisi Uni Emirat Arab (UEA) Abdulkhaleq Abdulla menyebut bahwa meskipun AS sangat diperlukan, mereka tetap bisa melakukan kesalahan, terutama dalam meremehkan kemungkinan konfrontasi di Hormuz.

Baca juga: Armada Perang AS Tembak Kapal Kargo Iran yang Terobos Blokade di Selat Hormuz

Tag:  #negara #teluk #khawatir #perundingan #justru #perkuat #cengkeraman #iran #hormuz

KOMENTAR