AS Pernah Pindahkan Uranium Uni Soviet, tapi Kasus Iran Jauh Lebih Rumit
Ilustrasi uranium. Uranium adalah unsur kimia radioaktif dan logam berat yang telah digunakan sebagai sumber energi terkonsentrasi yang jumlahnya cukup melimpah selama lebih dari 60 tahun.(SHUTTERSTOCK/kmls)
11:54
20 April 2026

AS Pernah Pindahkan Uranium Uni Soviet, tapi Kasus Iran Jauh Lebih Rumit

- Amerika Serikat kini menghadapi ujian besar dalam upaya mengamankan material nuklir dari wilayah Iran.

Amerika Serikat memang memiliki sejarah panjang dalam mengamankan material nuklir dari negara-negara bekas Uni Soviet.

Namun, dikutip dari The Wall Street Journal, Minggu (19/4/2026), situasi di Iran saat ini dianggap sebagai operasi paling kompleks yang pernah ada. 

Baca juga: Negosiasi AS-Iran Masih Buntu Jelang Gencatan Senjata Berakhir, Perang Lagi?

Persoalan utama yang membayangi para negosiator saat ini bukan hanya soal kesepakatan di atas kertas, melainkan cara mengeluarkan uranium yang sangat diperkaya dari lokasi yang telah luluh lantak.

Diketahui, serangan udara dan rudal yang terjadi pada Juni lalu telah menghancurkan sebagian besar fasilitas nuklir utama Iran. 

Kondisi ini membuat material sensitif tersebut terjebak di bawah reruntuhan beton dan besi yang belum pernah dikunjungi inspektur internasional selama hampir satu tahun.

Baca juga: Negosiasi AS-Iran Masih Buntu Jelang Gencatan Senjata Berakhir, Perang Lagi?

Operasi paling kompleks dalam sejarah

Para pakar keamanan menyebutkan, ini berpotensi menjadi operasi pemindahan uranium paling kompleks dalam sejarah manusia. 

“Ada banyak ketidakpastian karena serangan AS pada bulan Juni, persyaratan logistik, risiko keamanan, dan ketegangan kebijakan luar negeri,” kata Andrew Weber, seorang peneliti senior di Council on Strategic Risks dan mantan pejabat Pentagon yang terlibat dalam operasi pemindahan sebelumnya.  

Ketidakpastian mengenai integritas kontainer penyimpanan, ditambah dengan tingginya tensi politik antara Washington dan Teheran, menciptakan labirin logistik yang sangat sulit ditembus.

Baca juga: Situasi Memanas, Iran Bersumpah Balas Serangan AS Usai Kapal Kargonya Ditembaki

Fokus utama dari kekhawatiran global saat ini tertuju pada persediaan uranium Iran yang diklaim telah diperkaya hingga tingkat 60 persen. 

Secara teknis, material ini hanya membutuhkan sedikit langkah lagi untuk mencapai tingkat 90 persen atau kategori weapon-grade yang bisa digunakan sebagai inti bom nuklir. 

Sebagian besar uranium diyakini tersimpan dalam terowongan bawah tanah di kompleks Isfahan dan fasilitas pengayaan Natanz. 

Masalahnya, kedua lokasi ini mengalami kerusakan struktural parah akibat serangan udara. 

Baca juga: Trump Disebut Tantrum Saat Pilot F-15 AS Jatuh, sampai Dilarang Masuk Ruangan

Serangan AS-Israel memperumit persoalan

Sebelum konflik memanas, Teheran sempat memperkuat pintu-pintu masuk di lokasi tersebut, namun gempuran rudal justru memperdalam titik masuk dan berpotensi mengubur silinder-silinder uranium di bawah ribuan ton puing.

Pemerintahan Donald Trump yang dikabarkan akan melanjutkan pembicaraan minggu ini, tetap bersikeras bahwa uranium tersebut harus disingkirkan dari wilayah Iran. 

Sebagai insentif, muncul laporan bahwa Washington bersedia mencairkan dana luar negeri Iran senilai 20 miliar dollar AS yang selama ini dibekukan. 

Meski demikian, Teheran masih memberikan sinyal yang kontradiktif.

Di satu sisi, mereka menawarkan pengenceran uranium, namun di sisi lain membantah klaim bahwa mereka telah setuju untuk menyerahkan seluruh persediaan tersebut ke pihak asing.

Baca juga: Iran Masih Enggan Negosiasi, meski Delegasi AS Sudah Bertolak ke Pakistan

Pengalaman Proyek Sapphire

Ilustrasi uranium isotop U-235. Uranium jenis ini yang umumnya digunakan sebagai bahan bakar nuklir untuk reaktor nuklir hingga pembuatan senjata nuklir, seperti bom atom. SHUTTERSTOCK/Barbol Ilustrasi uranium isotop U-235. Uranium jenis ini yang umumnya digunakan sebagai bahan bakar nuklir untuk reaktor nuklir hingga pembuatan senjata nuklir, seperti bom atom.

Meski tantangan di Iran terlihat mustahil, AS sebenarnya memiliki pengalaman dari operasi-operasi rahasia di masa lalu. 

Referensi paling utama adalah Proyek Sapphire yang dilakukan pada 1994. Kala itu, Washington berhasil mengangkut 600 kilogram uranium dari sebuah pabrik di Kazakhstan yang terbengkalai setelah runtuhnya Uni Soviet.

Operasi tersebut dilakukan dalam kerahasiaan tinggi. Tim ahli menghabiskan waktu lebih dari satu bulan untuk mengemas ulang material berbahaya tersebut ke dalam ratusan kontainer khusus. 

Baca juga: Jelang Akhir Gencatan Senjata, Iran Klaim Stok Rudalnya Lampaui Sebelum Perang

Proses pengirimannya pun menyerupai plot film aksi, menggunakan dua pesawat angkut raksasa C-5 yang harus melakukan pengisian bahan bakar di udara sebanyak tiga kali agar tidak perlu mendarat di negara ketiga. 

Tujuannya adalah memastikan muatan nuklir tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah sebelum tiba di Laboratorium Nasional Oak Ridge, Tennessee.

Pengalaman serupa juga terjadi di Georgia pada 1998, ketika AS dan Inggris bekerja sama mengevakuasi uranium dari reaktor penelitian Soviet. 

Dari rangkaian keberhasilan inilah, Departemen Energi AS membentuk "program pengemasan bergerak" yang siap diterjunkan ke titik-titik panas di seluruh dunia, lengkap dengan peralatan sinar-X, timbangan digital presisi, hingga kotak sarung tangan pelindung untuk menangani material radioaktif.

Baca juga: Trump Ungkap Detik-detik Kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Kasus Iran berbeda

Namun, apa yang dihadapi di Kazakhstan atau Georgia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan Iran. Di Iran, tim teknis kemungkinan besar tidak bisa langsung masuk ke dalam fasilitas. 

Karena uranium disimpan dalam bentuk gas di dalam silinder berat, ada risiko kebocoran akibat tekanan fisik dari bangunan yang runtuh. 

Jika silinder tersebut rusak, para ahli harus mengubah gas tersebut menjadi bubuk oksida terlebih dahulu agar aman untuk diangkut.

“Ini akan menjadi upaya yang sangat intensif yang akan memakan waktu berminggu-minggu,” kata Scott Roecker, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur Kantor Pemindahan Material Nuklir Departemen Energi dan sekarang berada di Nuclear Threat Initiative, sebuah organisasi keamanan nirlaba.

Baca juga: Armada Perang AS Tembak Kapal Kargo Iran yang Terobos Blokade di Selat Hormuz

Pekerjaan itu dapat dilakukan menggunakan peralatan jarak jauh khusus, termasuk robot yang dapat memeriksa keberadaan bahan berbahaya dan kerusakan.

Setelah material berhasil diamankan dalam bentuk yang stabil, barulah proses verifikasi oleh IAEA dilakukan untuk memastikan tidak ada satu gram pun uranium yang disembunyikan.

Persoalan terakhir yang tidak kalah pelik adalah tujuan akhir dari pengiriman ini. Iran secara tegas menolak jika uranium mereka jatuh ke tangan Amerika Serikat. 

Beberapa opsi yang muncul dalam meja perundingan adalah mengirimkan material tersebut ke Rusia atau memindahkannya ke Kazakhstan sebagai "bank uranium" yang dikendalikan di bawah pengawasan IAEA.

Tag:  #pernah #pindahkan #uranium #soviet #tapi #kasus #iran #jauh #lebih #rumit

KOMENTAR