Putin Turun Tangan, Mau Bantu Damaikan AS-Iran
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk membantu upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. (AFP/NATALIA KOLESNIKOVA)
20:48
12 April 2026

Putin Turun Tangan, Mau Bantu Damaikan AS-Iran

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk membantu upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. 

Pernyataan itu disampaikan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon pada Minggu (12/4/2026). 

Wacana ini muncul setelah perundingan intens antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan. 

Baca juga: Dilema Trump Usai Negosiasi Damai AS-Iran Gagal

Putin siap jadi mediator perdamaian

Kremlin mengungkapkan bahwa Putin menegaskan komitmen Rusia untuk berperan aktif dalam meredakan konflik.

Vladimir Putin menekankan kesiapannya untuk terus memfasilitasi penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik, serta untuk memediasi upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah,” demikian pernyataan Kremlin, seperti dikutip AFP.

Putin sebelumnya juga menyoroti pentingnya penghentian segera aksi militer dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, bukan kekuatan bersenjata. 

Rusia bahkan disebut terus berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk, sebagai bagian dari upaya menurunkan eskalasi.

Perundingan AS-Iran buntu 

Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) disambut oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian yang sangat penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator dalam negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu. JACQUELYN MARTIN Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) disambut oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian yang sangat penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator dalam negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu.

Di sisi lain, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), berakhir tanpa kesepakatan. 

Wakil Presiden AS JD Vance, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, mengakui kegagalan tersebut setelah 21 jam negosiasi berlangsung.

Baca juga: 5 Kendala di Balik Gagalnya Perundingan AS-Iran

“Kabar buruknya adalah kami tidak mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu adalah kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujar Vance kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa Iran memilih “tidak menerima persyaratan kami,” termasuk tuntutan agar Teheran memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kami perlu melihat komitmen yang jelas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya,” tegasnya.

Sejumlah isu besar menjadi penghalang utama dalam negosiasi, mulai dari program nuklir Iran hingga kontrol atas Selat Hormuz. 

Amerika Serikat menuntut Iran tidak hanya menghentikan ambisi nuklir, tetapi juga tidak mengakses teknologi yang memungkinkan pengembangan senjata tersebut.

Sementara itu, Iran menilai pembicaraan tidak realistis jika diharapkan menghasilkan kesepakatan dalam satu pertemuan.

“Secara alami, sejak awal kita tidak seharusnya berharap mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang memiliki harapan seperti itu,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Sementara itu, Pakistan sendiri mendesak kedua pihak untuk mempertahankan komitmen gencatan senjata dan melanjutkan dialog demi perdamaian jangka panjang.

Adapun perang yang melibatkan AS, Iran, dan sekutunya ini telah menelan lebih dari 2.000 korban jiwa serta memicu krisis energi global. 

Ketegangan juga meningkat akibat peran strategis Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.

Baca juga: Era Laut Bebas Runtuh, Dunia Harus Bayar Harga Mahal Imbas Perang Iran

Tag:  #putin #turun #tangan #bantu #damaikan #iran

KOMENTAR