Analis Sebut Saham BBCA Tertekan Sentimen Makro, Simak Rekomendasinya
Ilustrasi saham.(SHUTTERSTOCK/FEYLITE)
06:08
27 April 2026

Analis Sebut Saham BBCA Tertekan Sentimen Makro, Simak Rekomendasinya

– Analis menilai arus keluar dana asing yang terjadi pada harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada akhir pekan lalu, lebih dipengaruhi sentimen makro. Pasalnya, kondisi fundamental BBCA terbilang masih solid dengan risiko yang terjaga.

Harga saham BBCA pada Jumat (24/4/2026) ditutup melemah 5,84 persen ke Rp 6.050, level terendah sejak 2021 atau periode pandemi Covid-19. Dalam satu hari, net foreign sell (NFS) di saham ini mencapai Rp 2,1 triliun, mencerminkan derasnya aksi jual investor global.

Analis Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan mengatakan, tekanan tidak hanya terjadi pada BBCA, tetapi merata di saham bank besar lainnya. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,81 persen ke Rp 4.500 dengan jual bersih asing Rp 655 miliar, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 2,85 persen ke Rp3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

Baca juga: IHSG Anjlok 6,61 Persen Sepekan, Asing Lepas Saham Bank dan Nilai Transaksi Turun

Menurut Jonathan, aksi jual tersebut mencerminkan penyesuaian portofolio investor asing terhadap meningkatnya risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global.

“Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA,” ujar dia dalam keterangannya Minggu (26/4/2026).

Ia menjelaskan, salah satu pemicu utama tekanan berasal dari konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum mereda. Kondisi ini mendorong harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pertumbuhan global, sekaligus membebani nilai tukar.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat,” tambahnya.

Selain faktor geopolitik, sentimen negatif juga datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi ini mendorong arus keluar dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Jonathan menegaskan fundamental BBCA masih kuat dan relatif tahan terhadap tekanan eksternal. Bahkan, perseroan berupaya menjaga daya tarik investor melalui kebijakan pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun.

“Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid,” katanya.

Pada kuartal I-2026, BBCA membukukan laba bersih Rp 14,7 triliun atau tumbuh 4 persen secara tahunan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis menyebut kinerja tersebut masih sejalan dengan ekspektasi pasar.

“Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM,” tulis mereka dalam riset.

Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6 persen secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menghadapi tantangan, terutama pada pembiayaan kendaraan.

Dari sisi risiko, kualitas aset BBCA dinilai tetap terjaga. Perbaikan pada segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih stabil.

“Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga,” tulis riset tersebut.

BBCA juga mempertahankan panduan kinerja 2026, dengan target pertumbuhan kredit 8–10 persen dan net interest margin (NIM) di kisaran 5,4–5,6 persen.

BRI Danareksa Sekuritas tetap merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 10.900. Valuasi saat ini dinilai sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati batas bawah dalam beberapa tahun terakhir.

“Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas,” tulis riset tersebut.

Baca juga: LQ45 Dirombak, Saham DEWA, CUAN, HRTA, ESSA Berpotensi Melejit Diburu Dana Asing

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #analis #sebut #saham #bbca #tertekan #sentimen #makro #simak #rekomendasinya

KOMENTAR