AS Disebut Hadapi Bencana Politik dan Ekonomi dalam Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menggelar konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela, di kediamannya di Mar-a-Lago, Negara Bagian Florida, Sabtu (3/1/2026).(AFP/JIM WATSON)
15:42
10 April 2026

AS Disebut Hadapi Bencana Politik dan Ekonomi dalam Perang Iran

- Konflik dengan Iran disebut sebagai bencana politik dan ekonomi bagi Amerika Serikat (AS).

Profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha Mohamad Elmasry mengatakan, terlepas dari semua retorika, ada pengakuan bahwa Iran memang memiliki pengaruh signifikan dalam negosiasi mendatang dengan AS.

Menurutnya, Presiden AS Donald Trump tidak mampu mencapai tujuannya di Iran dalam perang selama enam minggu.

“AS tidak mampu mencapai tujuannya di Iran dalam waktu sekitar enam minggu pemboman yang cukup intens. Rezimnya (Iran) masih utuh, jaringan proksinya masih utuh, Iran masih memiliki rudal dan drone,” kata Elmasry dilansir Al Jazeera, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Ide Trump Pungut Tarif Kapal di Selat Hormuz Bersama Iran Ditentang Eropa


Menurut laporan, "Sekitar setengah dari peluncur misilnya berada di posisi siap untuk bertempur selama beberapa bulan lagi, jika diperlukan," lanjutnya.

Elmasry menambahkan, Iran sekarang justru memiliki kendali atas Selat Hormuz, dan ini menjadi situasi yang buruk bagi Washington.

“Sekarang Iran memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya enam minggu lalu; dan itu adalah kendali atas Selat Hormuz,” ujar dia.

“Ini merupakan situasi yang sangat buruk bagi Trump dan Amerika, ini merupakan bencana politik dan ekonomi,” tambahnya.

Baca juga: Trump Beri NATO Kesempatan Terakhir untuk Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Iran mulai tarik biaya tol di Selat Hormuz

Ilustrasi kapal kontainer. Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.Freepik/Slon.Pics Ilustrasi kapal kontainer. Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah Iran dilaporkan mulai mematok tarif untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam bentuk aset kripto atau yuan China.

Langkah ini dinilai sebagai strategi Teheran untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis (9/4/2026), penggunaan aset digital ini akan menyulitkan pihak berwenang untuk memantau atau menghentikan arus pembayaran tersebut.

Baca juga: Bukan AS, Negara Teluk Jadi Korban Paling Menderita atas Tarif Selat Hormuz

Sebab, transaksi kripto memiliki kecepatan tinggi dan bergerak di luar sistem perbankan konvensional AS.

Berdasarkan informasi dari para mediator dan pialang kapal, biaya yang ditarik Iran untuk melintasi jalur perdagangan vital tersebut sangat besar.

Para operator pelayaran menyebutkan bahwa biaya untuk satu kapal tanker raksasa bisa mencapai 2 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 33 miliar.

Selain melalui aset kripto, Iran juga memanfaatkan infrastruktur keuangan China untuk memproses pembayaran ini.

Baca juga: Selat Hormuz Masih Sepi Usai Gencatan Senjata, Hanya 10 Kapal yang Lewat

Perusahaan riset kripto TRM menyebutkan bahwa Iran menerima pelunasan biaya tol melalui Bank of Kunlun dengan sistem transfer yang disalurkan lewat Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).

Sistem CIPS milik China ini merupakan jalur alternatif bagi sistem pembayaran global SWIFT yang selama ini didominasi oleh pengaruh Barat.

Tag:  #disebut #hadapi #bencana #politik #ekonomi #dalam #perang #iran

KOMENTAR