Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO
Presiden AS Donald Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth. [RollingStone]
10:48
9 April 2026

Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO

Pilar utama keamanan Barat selama beberapa dekade kini berada di ambang ketidakpastian besar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mendiskusikan kemungkinan untuk menarik AS keluar dari NATO (North Atlantic Treaty Organization).

Ancaman ini muncul menyusul kekecewaan mendalam Gedung Putih terhadap para sekutu di Eropa yang enggan memberikan kontribusi militer aktif dalam konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran.

Dalam sebuah pengarahan pers yang berlangsung pada hari Rabu (08/04/2026), Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan gambaran tajam mengenai situasi ini.

Ia menyebut perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah sebagai sebuah "uji coba" bagi ketangguhan aliansi, namun menurutnya, NATO telah gagal dalam ujian tersebut.

Kritik tajam Leavitt disampaikan sesaat sebelum agenda pertemuan penting antara Presiden Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih.

Leavitt secara terbuka menyampaikan pandangan keras Trump terhadap organisasi yang selama ini dibiayai besar-besaran oleh dana pembayar pajak Amerika tersebut.

“Saya punya kutipan langsung dari presiden Amerika Serikat tentang NATO, dan saya akan membagikannya kepada Anda semua. Mereka telah diuji, dan mereka gagal.” tegas Leavitt di depan para jurnalis, dikutip via Reuters.

Ia menambahkan bahwa sangat menyedihkan melihat NATO seolah-olah membelakangi rakyat Amerika selama enam minggu terakhir.

Padahal, rakyat Amerikalah yang selama ini mendanai pertahanan mereka. Menurut Leavitt, Trump telah menyiapkan diri untuk melakukan “a very frank and candid conversation” dengan Rutte guna membahas masa depan kemitraan ini.

Pertemuan Trump dan Mark Rutte: Dialog Terbuka Namun Mengecewakan

Mark Rutte, yang baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan Trump, memberikan tanggapan melalui wawancara dengan saluran berita CNN.

Ia mengakui bahwa pertemuan tersebut berlangsung secara “frank and open”. Rutte mencoba mendinginkan suasana dengan menegaskan dukungannya terhadap kepemimpinan Trump, sembari menjelaskan bahwa anggota NATO sebenarnya telah memberikan bantuan dalam bentuk logistik dan akses ke pangkalan-pangkalan militer.

Namun, pembawa acara CNN, Jake Tapper, mengejar isu krusial mengenai rencana penarikan diri AS. Menanggapi pertanyaan apakah Trump berniat keluar dari NATO, Rutte menjawab dengan nada diplomatis namun penuh kehati-hatian.

“Jelas ada kekecewaan. Tetapi pada saat yang sama, dia juga mendengarkan dengan saksama argumen saya tentang apa yang sedang terjadi.,” ujar Rutte sebelum beralih memberikan pujian terhadap peran kepemimpinan Amerika Serikat.

Meskipun Rutte sering memperingatkan bahwa NATO “will not work” tanpa dukungan penuh Amerika, posisi sekutu Eropa tetap pada pendirian untuk tidak terlibat langsung dalam ofensif militer di Iran.

Sejak kembali menduduki kursi kepresidenan pada tahun 2025, Donald Trump kembali melancarkan kampanye tekanan agar mitra-mitra Eropa meningkatkan belanja pertahanan mereka.

Pada KTT NATO Juni 2025, ia sempat berhasil menekan anggota aliansi untuk menyetujui komitmen peningkatan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2035.

Meski komitmen tersebut bersifat tidak mengikat, gesekan terus terjadi. Spanyol, misalnya, berupaya mencari pengecualian dari target anggaran tersebut, yang memicu kecaman berulang kali dari Trump sepanjang tahun lalu.

Selain masalah anggaran, hubungan AS dengan Eropa juga diperkeruh oleh klaim sepihak Trump terhadap wilayah Greenland milik Denmark pada tahun lalu.

Trump bersikeras bahwa penguasaan Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS, meski mendapat protes keras dari warga lokal dan pemimpin Eropa.

Puncak kekesalan Trump meledak setelah serangan sepihak yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Kurangnya minat negara-negara Eropa untuk bergabung dalam kampanye militer tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan oleh Washington.

Padahal, banyak pakar hukum internasional memandang perang tersebut sebagai tindakan agresi yang melanggar hukum internasional.

Laporan terbaru dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump kini sedang mempertimbangkan langkah-langkah hukuman.

Opsi yang sedang digodok mencakup penutupan pangkalan militer AS di luar negeri atau pemindahan pasukan keluar dari negara-negara seperti Spanyol dan Jerman.

Langkah ini diambil sebagai konsekuensi atas sikap kedua negara tersebut yang menolak mendukung ofensif militer AS di Timur Tengah.

Saat ditanya kembali mengenai kemungkinan AS benar-benar meninggalkan NATO, Karoline Leavitt tidak menampik hal itu. Ia menyatakan bahwa topik tersebut memang "telah didiskusikan" oleh sang presiden dan kemungkinan akan ada tindak lanjut setelah evaluasi dari pertemuan dengan Mark Rutte selesai dilakukan.

Nasib aliansi keamanan paling kuat di dunia kini berada di persimpangan jalan, bergantung pada bagaimana Washington menilai nilai strategis sekutu-sekutunya di masa depan yang semakin tak menentu.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #donald #trump #pertimbangkan #amerika #serikat #keluar #dari #nato

KOMENTAR