Jalur Selat Hormuz Masih Macet meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran, Kapal-kapal Ragu Lewat
Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons)
08:24
9 April 2026

Jalur Selat Hormuz Masih Macet meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran, Kapal-kapal Ragu Lewat

 Kapal-kapal pengangkut minyak tampak ragu-ragu melintasi Selat Hormuz, meski gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sudah diumumkan.

Para pelaku industri sedang menunggu kejelasan prosedur pelayaran dan jadwal pemuatan minyak baru.

Data LSEG menunjukkan, sebagian besar kapal masih terjebak di Teluk pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat.

Hal ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dan menyatakan AS akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas kapal.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah 100 Dollar AS di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyampaikan jika serangan terhadap Iran berhenti, pihaknya akan menghentikan serangan balasan dan menyediakan jalur aman bagi kapal.

Semua dilakukan bekerja sama dengan angkatan bersenjata Iran, namun tetap mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Sebagaimana dilansir Reuters, menurut Kpler, per Selasa, ada sekitar 187 kapal berbobot muatan penuh membawa 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan berada di Selat Hormuz.

Daejin Lee, Kepala Riset Global di Fertmax FZCO, mengatakan dengan lebih dari 1.000 kapal besar terjebak di Teluk, kemungkinan untuk membersihkan backlog lebih dari dua minggu, bahkan dalam kondisi normal, sangat sulit.

“Ada jendela 14 hari, tapi itu terlalu singkat untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang,” ujar Lee.

Ia menambahkan, detail teknis masih belum jelas, termasuk tindakan apa yang harus dilakukan kapal dan pemilik charter untuk bisa melintas.

Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan di asosiasi pelayaran Bimco, menekankan, industri menunggu detail teknis dari AS dan Iran.

“Meninggalkan Teluk tanpa koordinasi sebelumnya dengan AS dan Iran berisiko tinggi dan tidak disarankan,” ujarnya.

Baca juga: Kabar Terkini Terkait Kapal Pertamina di Selat Hormuz: Masih Tertahan, Pemerintah Terus Lobi Iran

Penundaan masih terjadi

Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari. Selat ini merupakan jalur transit 20 persen minyak dan gas cair dunia.

Penutupan menyebabkan harga energi melambung dan mengguncang ekonomi global.

Gencatan senjata diumumkan 90 menit sebelum batas waktu Trump untuk membuka kembali selat. Pengumuman ini langsung menekan harga minyak dunia.

Meski begitu, dua broker kapal mengatakan pemilik kapal kemungkinan tetap menunggu beberapa hari sebelum mengizinkan kapal masuk Teluk.

Permintaan kapal Very Large Crude Carrier untuk memuat minyak dari Timur Tengah ke Asia melonjak Rabu lalu.

Beberapa perusahaan yang mengajukan permintaan adalah Reliance Industries, Indian Oil Corp, Nghi Son Refinery and Petrochemical, CNOOC, Abu Dhabi National Oil Co, Glencore, dan TotalEnergies.

Glencore dan TotalEnergies menolak berkomentar kepada Reuters. Perusahaan lainnya belum memberikan jawaban resmi.

Maersk, perusahaan pelayaran asal Denmark, mengatakan gencatan senjata AS-Iran mungkin membuka peluang transit bagi kapal di Selat Hormuz, tetapi belum memberi kepastian penuh.

Baca juga: Wali Kota Solo Sebut Pembukaan Selat Hormuz Jadi Angin Segar Harga Plastik

Upaya negara-negara terhadap Selat Hormuz

Indonesia termasuk negara yang tengah mengupayakan perjalanan aman kapal di Selat Hormuz.

Kementerian Luar Negeri Indonesia bekerja sama dengan otoritas Iran untuk memastikan dua kapal Pertamina yang terjebak bisa melintas.

“Beberapa hal teknis sedang ditindaklanjuti untuk memastikan keselamatan, termasuk asuransi dan kesiapan kru,” ujar juru bicara Kemenlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Kementerian Luar Negeri China berharap semua pihak memfasilitasi normalisasi perdagangan melalui selat. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, juga melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran.

Ekonomi Asia menjadi pembeli utama minyak dari selat ini dan terdampak paling parah akibat gangguan.

Anoop Singh, Kepala Riset Pelayaran di Oil Brokerage, mengatakan, “Kapal dan minyak yang menuju negara pro-Iran kemungkinan akan menjadi yang pertama melintas. Sebagian besar kapal tanker minyak akan diizinkan lewat".

Ia memprediksi lebih dari 50 kapal Very Large Crude Carrier dan sekitar 15 kapal Suezmax akan segera keluar dari Teluk.

Baca juga: Selat Hormuz Dibuka, Anggota DPR: Peluang Perkuat Stok Energi Nasional

Tag:  #jalur #selat #hormuz #masih #macet #meski #gencatan #senjata #iran #kapal #kapal #ragu #lewat

KOMENTAR