Tandingi Iran, Trump Mau Pungut Tarif Kapal yang Lewat Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka kemungkinan unruk memungut tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.(WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE)
14:06
7 April 2026

Tandingi Iran, Trump Mau Pungut Tarif Kapal yang Lewat Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka kemungkinan unruk memungut tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan di tengah konflik yang masih berlangsung antara AS dan Iran.

Trump menilai, jika Iran bisa mengenakan biaya, maka AS juga berhak melakukan hal serupa.

Baca juga: Ancaman Baru Trump: Luluhlantakkan Iran dalam Semalam

Usulan tarif di jalur energi vital dunia

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), Trump menanggapi pertanyaan soal kemungkinan mengakhiri perang sementara Iran tetap mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.

“Bagaimana kalau kita yang mengenakan tarif?” kata Trump, dikutip dari The Hill.

“Saya lebih memilih melakukan itu daripada membiarkan mereka mendapatkannya. Kenapa tidak? Kita adalah pemenangnya,” imbuhnya.

Ia bahkan menegaskan kembali klaimnya bahwa Iran telah kalah secara militer.

“Kita menang, oke? Mereka sudah kalah secara militer. Satu-satunya yang mereka punya adalah psikologi ‘oh, kita akan menjatuhkan beberapa ranjau di air,’” lanjutnya.

“Kita punya konsep di mana kita akan mengenakan tarif,” lanjutnya.

Meski begitu, Trump juga menyebut bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup “lalu lintas minyak yang bebas”.

Selat Hormuz dan dampaknya ke ekonomi global

Ilustrasi Selat Hormuz. Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Menjadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz. Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Menjadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, dan sebagian besar berada di wilayah perairan Iran dan Oman.

Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur ini.

Penutupan efektif selat selama perang telah memicu lonjakan harga energi global, termasuk harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Baca juga: Gencatan Senjata Disebut Tak Cukup, Trump Tolak Proposal Damai 45 Hari

Pada Senin, harga rata-rata bensin nasional mencapai sekitar 4,12 dollar AS (Rp 70.423) per galon, naik lebih dari 1 dollar AS (Rp 17.090) sejak konflik dimulai.

Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan telah memberlakukan sistem di mana hanya sejumlah kapal yang diizinkan melintas, dengan kewajiban membayar biaya tertentu.

Ultimatum ke Iran

Trump juga mengeluarkan apa yang ia sebut sebagai ultimatum “terakhir” kepada Teheran. Ia menuntut agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz dan menerima persyaratan dari Washington.

Jika tidak, Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.

“Kita harus memiliki kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita ingin lalu lintas minyak yang bebas,” ujarnya.

Respons Iran

Dari pihak Iran, pejabat tinggi mulai berbicara tentang perlunya pengaturan baru pascaperang untuk Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa situasi di selat tersebut tidak akan kembali seperti sebelum perang.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengusulkan penyusunan protokol baru bersama negara-negara yang berbatasan dengan selat.

“Saya percaya setelah perang, langkah pertama adalah menyusun protokol baru untuk Selat Hormuz,” ujarnya.

“Tentu saja, ini harus dilakukan antara negara-negara yang berada di kedua sisi selat.”

Meski Trump melontarkan ide pungutan tarif, belum jelas apa tujuan strategis dari kebijakan tersebut jika benar diterapkan. Sejumlah analis menilai, langkah itu akan membutuhkan kontrol militer langsung AS atas jalur tersebut—sesuatu yang berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.

Baca juga: Ekonomi Iran Jadi Target Baru AS-Israel, Cara Trump Buka Paksa Selat Hormuz

Tag:  #tandingi #iran #trump #pungut #tarif #kapal #yang #lewat #selat #hormuz

KOMENTAR