AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio saat berbicara kepada media di pesawat menjelang keberangkatannya ke Jeddah, Arab Saudi, 10 Maret 2025.(AFP/SAUL LOEB)
13:24
31 Maret 2026

AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran

- Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis diwarnai ketegangan diplomatik. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio terlibat adu argumen dengan para mitranya terkait dukungan militer di kawasan Teluk dan perang di Ukraina.

Ketegangan ini dipicu oleh desakan Presiden AS Donald Trump agar sekutu-sekutu Eropa memberikan bantuan militer di Selat Hormuz, Iran. 

Baca juga: Media Asing Soroti Pemangkasan Anggaran MBG Indonesia di Tengah Perang Iran

Namun, permintaan tersebut tampaknya menemui jalan buntu, sebagaimana dilansir South China Morning Post, Jumat (27/3/2026).

Sebelum bertolak dari pertemuan pada Jumat waktu setempat, Rubio menyampaikan kritik tajam terhadap negara-negara sekutu yang dianggap enggan membantu AS di Timur Tengah.

Padahal, Washington telah jorjoran membantu Eropa di Ukraina.

"AS terus-menerus diminta untuk membantu dalam sebuah perang," ujar Rubio merujuk pada konflik di Ukraina.

Baca juga: Strategi Lepas Tangan Trump, Akhiri Perang Iran dan Biarkan Selat Hormuz Tutup

"Namun, ketika AS memiliki kebutuhan, ia tidak mendapatkan respons yang positif," tambahnya.

Rubio menekankan bahwa meskipun Ukraina bukan perang AS, Washington telah berkontribusi lebih besar dibandingkan negara lain di dunia. 

Dia memberikan sinyal bahwa sikap sekutu saat ini akan menjadi catatan bagi Trump di masa depan.

"Jadi, ini akan menjadi sesuatu yang perlu diperiksa dan harus dipertimbangkan oleh Presiden ke depannya," tegas Rubio.

Baca juga: Kapal Amfibi dan Bayang-Bayang Perang Darat di Iran

Reaksi Jerman dan Perancis

Di sisi lain, negara-negara Eropa menolak permintaan Trump agar angkatan laut mereka terlibat dalam mengamankan Selat Hormuz selama konflik masih memanas.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan keberatannya terhadap tekanan AS tersebut. 

Dia menyebut hingga kini belum ada permintaan spesifik atau dasar hukum yang jelas bagi Jerman untuk bertindak.

"Ini menjengkelkan, harus saya katakan. Saat ini, persyaratan hukum bagi kami untuk operasi semacam itu belum terpenuhi. Dan tidak ada permintaan khusus bagi kami untuk mengambil tindakan saat ini," tutur Wadephul kepada radio Deutschlandfunk.

Baca juga: Spanyol Resmi Tutup Ruang Udara bagi Pesawat Militer AS, Tolak Perang Iran

Senada dengan Jerman, juru bicara kementerian luar negeri Perancis, Pascal Confavreux, menyatakan bahwa perencanaan misi memang sedang berlangsung, namun dengan syarat yang ketat.

Perancis hanya akan bergerak jika situasi sudah mendingin.

"Itu (misi militer) akan terjadi setelah pengeboman berakhir terlebih dahulu. Untuk berada dalam situasi defensif saja. Kami sedang mempersiapkan misi tersebut dengan semua mitra yang bersedia. Namun, kami telah memperjelas bahwa perang ini bukan perang kami dan kami tidak ingin terjerat di dalamnya," jelas Confavreux.

Baca juga: Takut Harga Minyak 200 Dollar AS, Presiden Mesir Desak Trump Setop Perang Iran

Kaitan Perang Ukraina dan Iran

Kapal amfibi Amerika Serikat (AS), USS Tripoli LHA-7, yang terkini dikirim ke Timur Tengah, menjadi sinyal serangan baru AS ke Iran pada Maret 2026. Foto diambil pada 15 Juli 2019 di Meksiko. Derek Fountain Kapal amfibi Amerika Serikat (AS), USS Tripoli LHA-7, yang terkini dikirim ke Timur Tengah, menjadi sinyal serangan baru AS ke Iran pada Maret 2026. Foto diambil pada 15 Juli 2019 di Meksiko.

Sementara Eropa ragu untuk terlibat di Timur Tengah, para pemimpin "Benua Biru" tetap memprioritaskan Ukraina. 

Mereka mencoba meyakinkan AS bahwa konflik di Iran dan Ukraina sebenarnya saling berkaitan karena keterlibatan Rusia dan Iran.

Diplomat tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menuduh Rusia memberikan bantuan informasi intelijen kepada Iran untuk menargetkan warga Amerika.

Pernyataan ini didukung oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper.

"Drone yang diberikan Iran kepada Rusia telah terlibat dalam konflik di Ukraina, tetapi kami juga melihat dukungan dari Rusia yang diberikan kepada Iran dalam konflik di Timur Tengah juga," kata Cooper.

Di tengah perdebatan ini, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk mengirim hingga 10.000 tentara tambahan ke Timur Tengah. 

Langkah ini akan memberi Trump lebih banyak opsi militer saat sekutu-sekutunya justru mendesak jalur negosiasi demi meredam dampak ekonomi global.

Baca juga: China Petakan Dasar Samudra, Diduga Persiapan Perang Kapal Selam Lawan AS

Tag:  #mengeluh #sering #bantu #sekutu #perang #tapi #dibantu #lawan #iran

KOMENTAR