Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak
Ilustrasi tanah retak karena panas (Freepik/freepik)
07:40
31 Maret 2026

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak

Perubahan iklim tak bisa sekadar dianggap lingkungan, tetapi ancaman nyata bagi keselamatan manusia. Kenaikan suhu global kini mulai berdampak langsung pada angka kematian di berbagai negara.

Studi terbaru menunjukkan, dampak ini tidak merata—negara miskin justru menghadapi risiko yang jauh lebih besar dibanding negara kaya.

Peneliti Climate Lab menyoroti peningkatan risiko kematian akibat suhu ekstrem pada pertengahan abad ini. Mereka menilai, angka kematian tidak hanya dipengaruhi pemanasan global, tetapi juga kemampuan adaptasi, seperti penggunaan pendingin ruangan dan penyediaan pusat pendinginan.

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat perbedaan signifikan terhadap angka kematian antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin.

Dikutip dari Earth.org, sebuah laporan baru memperingatkan bahwa negara-negara miskin akan mengalami angka kematian yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara kaya.

Fenomena ini dipicu oleh perubahan iklim yang menyebabkan suhu global terus-menerus meningkat.

Meningkatnya Angka Kematian

Secara historis, gelombang panas telah menjadi salah satu fenomena cuaca ekstrem yang paling mematikan. Data menunjukkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2019, tercatat sekitar 489.000 kematian per tahun di seluruh dunia akibat panas ekstrem. Dari jumlah tersebut, 45% korban jiwa terjadi di Asia (paling sering dilanda bancana cuaca dan iklim di dunia), sementara 36% lainnya terjadi di Eropa (benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia). Angka kematian terkait panas telah meningkat sekitar 30% dalam dua dekade terakhir. Dalam sebuah makalah baru Senin (23/03/26) menemukan bahwa beban kematian tertinggi di masa depan akan lebih dirasakan oleh negara-negara berpenghasilan rendah.

Para peneliti memperkirakan bahwa jumlah kematian tahunan akibat perubahan suhu di negara-negara berpenghasilan rendah mencapai sekitar 391.000 orang.

Angka ini diperkirakan sepuluh kali lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi yang diperkirakan mencatat sekitar 39.000 kematian per tahun. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh ketidaksiapan negara-negara berpenghasilan rendah untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.

Laporan tersebut juga memberikan gambaran skala risiko dengan membandingkannya terhadap angka kematian penyakit saat ini di beberapa wilayah, seperti Bolivia, Pakistan, hingga Afrika.

Di Bolivia bagian Tenggara, kenaikan kematian diprediksi mencapai 30 jiwa per 100.000 penduduk, yang sebanding dengan tingkat fatalitas diabetes.

Di Pakistan, angka kematian diperkirakan meningkat sebesar 51 jiwa per 100.000 penduduk. Ini setara dengan angka kematian akibat tuberkulosis dan stroke Pakistan saat ini. Bahkan di wilayah Sahel Afrika, di negara seperti Niger dan Burkina Faso, angka kematian akibat panas diprediksi meningkat hingga 60 jiwa atau lebih per 100.000 penduduk.

Angka ini melampaui angka kematian akibat malaria di Afrika sendiri saat ini. Sebaliknya, beberapa wilayah dengan iklim dingin seperti Alaska, Kanada, dan Greenland justru diproyeksikan akan mengalami penurunan angka kematian.

Peran Penting Adaptasi Iklim

Co-Founder Climate Impact Lab dan Direktur Institute for Climate and Sustainable Growth and Energy Policy Institute di University of Chicago, Michael Greenstone menjelaskan bahwa temuan ini mengungkap realitas di mana jutaan orang diperkirakan meninggal di negara-negara yang sebenarnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebab perubahan iklim.

“Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim. Diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebabnya,” ungkap Michael.

Data menunjukkan bahwa satu hari panas dengan suhu rata-rata melebihi 35 derajat Celsius (95 derajat Fahrenheit) dapat meningkatkan angka kematian sebanyak empat jiwa per 1 juta orang.

Oleh karena itu, laporan ini menekankan pentingnya strategi adaptasi yang tepat sasaran. Di negara dengan sumber daya terbatas seperti Bolivia, langkah-langkah adaptasi diperlukan di dataran rendah yang lebih panas dibandingkan wilayah pegunungan yang sejuk.

Efektivitas adaptasi iklim sangat bergantung pada identifikasi wilayah yang paling membutuhkan tindakan dan investasi mana yang memberikan manfaat paling besar.

Laporan ini muncul bertepatan dengan pernyataan PBB yang menyebutkan bahwa keseimbangan iklim Bumi saat ini berada pada titik yang lebih tidak stabil daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

Penulis: Vicka Rumanti

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #perubahan #iklim #tingkatkan #risiko #kematian #negara #miskin #paling #terdampak

KOMENTAR