Perang Iran Ungkap Kelemahan AL Inggris, Bikin Malu Negara
- Perang Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 membuka kelemahan serius dalam Angkatan Laut Kerajaan Inggris, yang selama ini dikenal sebagai simbol dominasi maritim dunia.
Keterbatasan ini terlihat dari minimnya kehadiran Inggris di Timur Tengah, bahkan saat sekutu-sekutunya meningkatkan pengerahan militer di kawasan.
Inggris hanya mengirim satu kapal perusak, HMS Dragon, ke Mediterania dalam respons terhadap meningkatnya ketegangan.
Baca juga: Ilmuwan China Klaim Temukan Kelemahan Pesawat Pengebom B-21 Raider AS
Pengerahan kapal tersebut dinilai terlambat, terutama setelah salah satu pangkalan Inggris di Siprus diserang drone Iran pada 1 Maret.
HMS Dragon baru tiba setelah insiden tersebut terjadi.
Negara-negara Eropa lain malah menunjukkan respons lebih cepat dan kuat dalam konflik ini.
Perancis mengirimkan kapal induk Charles de Gaulle ke kawasan tersebut. Italia dan Yunani juga mengerahkan kapal perang untuk memperkuat keamanan Siprus.
Perbandingan itu memicu kritik keras di dalam negeri Inggris.
Surat kabar Daily Telegraph menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang “memalukan” bagi negara dengan sejarah maritim besar.
Situasi semakin menekan Inggris ketika Jerman mengumumkan akan mengambil alih komando misi maritim NATO di Atlantik Utara mulai April 2026, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab Inggris.
Baca juga: Iran Temukan Kelemahan Negara Teluk, Bukan Pakai Rudal Serangnya
Inggris akui keterbatasan kapal
Kapal perang Inggris HMS Richmond (F239).Keterbatasan armada membuat Inggris tak mampu mengerahkan kapal tambahan untuk menjalankan misi.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengakui kondisi ini secara terbuka. “Itulah yang dilakukan para sekutu yang baik,” kata Healey pada Kamis (26/3/2026), dikutip dari kantor berita AFP.
Ia juga menambahkan, “Saya tidak senang dengan situasi yang kita miliki dengan kapal perang Inggris”.
Healey pun menegaskan bahwa keputusan yang diambil didasarkan pada kondisi armada yang tersedia
Jumlah kapal perang Inggris saat ini terus menurun dalam satu dekade terakhir. "Negeri Raja Charles" kini hanya memiliki 17 fregat dan kapal perusak, turun dari 23 unit pada 2010.
Armada tersebut terdiri dari enam kapal perusak Tipe 45 dan 11 fregat Tipe 23. Mayoritas kapal tersebut tidak siap tempur karena sedang menjalani perawatan atau dinonaktifkan.
Baca juga: Iran Siapkan “Kejutan Baru” dalam Perang, Singgung Kelemahan Militer AS
Program pengembangan kapal generasi baru juga mengalami keterlambatan signifikan.
Delapan fregat Tipe 26 dan lima unit Tipe 31 diperkirakan baru siap antara 2028-2029.
Penundaan tersebut memicu kekhawatiran tentang penurunan kemampuan militer Inggris dalam beberapa tahun ke depan.
Tinjauan Pertahanan Strategis tahun lalu juga menyoroti meningkatnya biaya pemeliharaan armada yang menua.
Kondisi ini menjadi pukulan bagi Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang pernah mendominasi lautan dunia selama berabad-abad.
Modernisasi kapal perang juga berjalan lambat. Peningkatan pada kapal perusak HMS Daring membutuhkan waktu hingga delapan tahun.
Dua kapal induk Inggris, HMS Prince of Wales dan HMS Queen Elizabeth, juga tidak aktif karena sedang berlabuh.
HMS Prince of Wales direncanakan akan segera menjalankan misi di Atlantik Utara.
Baca juga: Analis China Ungkap Cara Iran Tembak F-35, Jet Tempur Siluman Tercanggih AS
Trump sindir armada Inggris "mainan"
Presiden AS Donald Trump (kiri), Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kanan).Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan menyindir kapal induk Inggris sebagai “mainan”.
Pernyataan tersebut menambah tekanan terhadap Pemerintah Inggris terkait respons terbatas dalam konflik Iran.
Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan, Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas.
Ia juga menolak bergabung dalam serangan udara AS dan Israel terhadap Iran.
Namun, Inggris tetap memberikan dukungan militer terbatas. Pemerintah mengizinkan pesawat AS lepas landas dari dua pangkalan di wilayahnya untuk menyerang target di Iran.
Inggris juga mengirim jet tempur dan sistem pertahanan udara ke kawasan Teluk, untuk melindungi kepentingan nasional dan sekutu Inggris.
Jet-jet tersebut dilaporkan berhasil menembak jatuh sejumlah drone.
Baca juga: Trump Ejek Kapal Induk Inggris sebagai Mainan, Dianggap Telat Bantu AS Lawan Iran
Penyebab armada laut Inggris melemah
Para analis menilai tekanan terhadap Angkatan Laut Inggris semakin meningkat.
Nick Childs dari International Institute for Strategic Studies menyebut situasi ini sebagai tantangan besar.
“Angkatan Laut bersusah payah menyesuaikan kemampuan dengan komitmen, tetapi juga berupaya mempertahankan tingkat kekuatan,” kata Childs.
Mantan pejabat senior Inggris Mark Sedwill turut menyoroti masalah mendasar dalam sektor pertahanan.
Ia menyebut terjadi penurunan dalam berbagai aspek penting selama bertahun-tahun.
“Telah terjadi erosi pada hal-hal mendasar, pemeliharaan, pelatihan, pasokan persenjataan, dan sebagainya yang menjaga kekuatan efektif siap untuk dikerahkan,” ujarnya kepada BBC.
Baca juga: Riset China Ungkap Pertahanan AS Tak Sejago Teori, Rudal Iran Ini Jadi Bukti
Pemerintahan Partai Buruh di bawah Starmer berjanji akan meningkatkan anggaran pertahanan. Prioritas utama diberikan pada komitmen NATO.
Akan tetapi, rencana investasi pertahanan tersebut terus mengalami penundaan. Industri pertahanan Inggris pun mulai menunjukkan kekecewaan.
Di sisi lain, strategi militer Inggris kini berfokus pada ancaman Rusia.
Kevin Rowlands dari lembaga think-tank RUSI menjelaskan arah kebijakan tersebut.
“Dengan alasan kuat, Inggris memutuskan bahwa ancaman utama yang dihadapi adalah Rusia,” kata Rowlands.
Ia menambahkan bahwa fokus operasi utama berada di kawasan Eropa Utara, Atlantik Utara, dan Kutub Utara.
“Jadi hampir tidak dapat dihindari, jika sesuatu terjadi di bagian dunia yang berbeda, maka kita belum tentu bisa membantu,” ujarnya.
Tag: #perang #iran #ungkap #kelemahan #inggris #bikin #malu #negara