Neuropati Perifer Sering Tak Disadari, Ini Gejala dan Risikonya
Ilustrasi kesemutan. Kesemutan dan mati rasa yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi tanda neuropati perifer, kondisi gangguan saraf yang banyak tidak terdeteksi sejak dini.(Shutterstock/DimaBerlin)
15:06
17 April 2026

Neuropati Perifer Sering Tak Disadari, Ini Gejala dan Risikonya

Kesemutan, mati rasa, atau sensasi terbakar di tangan dan kaki sering dianggap sebagai keluhan ringan, padahal bisa menjadi tanda awal neuropati perifer.

Kondisi ini kerap tidak disadari sehingga penanganannya terlambat.

Berdasarkan rilis yang diterima Kompas.com pada Jumat (17/4/2026), sekitar satu dari dua pasien diabetes dan satu dari 10 orang dewasa mengalami neuropati perifer.

Namun, hingga 80 persen kasus di kawasan Asia Pasifik diperkirakan belum terdiagnosis.

Baca juga: Kesemutan dan Kebas Jangan Dianggap Sepele, Ini Tanda Awal Neuropati Perifer

Gejala sering dianggap biasa

Neuropati perifer merupakan gangguan saraf yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani sejak dini.

Ketua penulis pedoman sekaligus Presiden Federation of Asian Pharmaceutical Associations (FAPA), Dr. Yolanda R. Robles, mengatakan kondisi ini banyak ditemukan tetapi sering tidak disadari oleh pasien.

“NP merupakan gangguan kesehatan yang banyak ditemui di berbagai wilayah, dan kerap kali memperparah kondisi pasien,” ujar Robles, yang juga profesor di College of Pharmacy, University of the Philippines.

Gejala seperti kesemutan atau rasa tertusuk jarum kerap dianggap sebagai hal biasa, sehingga pasien tidak segera mencari pertolongan.

Baca juga: Kenali Gejala Neuropati Perifer, dari Kebas hingga Nyeri Seperti Tertusuk

Risiko lebih tinggi pada pasien diabetes

Ilustrasi kesemutan di tangan. Kesemutan dan mati rasa yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi tanda neuropati perifer, kondisi gangguan saraf yang banyak tidak terdeteksi sejak dini.Unsplash Ilustrasi kesemutan di tangan. Kesemutan dan mati rasa yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi tanda neuropati perifer, kondisi gangguan saraf yang banyak tidak terdeteksi sejak dini.

Neuropati perifer memiliki keterkaitan kuat dengan penyakit kronis, terutama diabetes.

Data menunjukkan prevalensi kondisi ini cukup tinggi di sejumlah negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia yang mencapai 58 persen pada pasien diabetes.

Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hidup karena memicu nyeri saraf, gangguan tidur, hingga keterbatasan aktivitas.

Baca juga: Bukan Cuma Penderita Diabetes, Ini Orang yang Rentan Alami Gangguan Saraf

Akses layanan kesehatan jadi tantangan

Salah satu faktor yang membuat neuropati perifer sering terlambat ditangani adalah keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa wilayah.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat kerap mencari bantuan awal di apotek terdekat.

Vice President Personal Health Care Asia Pacific P&G Health Singapore, Shraddha Vohra, mengatakan apotek komunitas sering menjadi titik awal pasien mencari bantuan.

“Apotek komunitas menjadi titik awal bagi masyarakat yang mengalami gejala seperti mati rasa, kesemutan, sensasi terbakar, atau rasa tertusuk jarum,” ujar Vohra.

Baca juga: Benarkah Metformin Bisa Memicu Neuropati Perifer? Ini Penjelasan Ahli

Peran apoteker dalam deteksi awal

Dalam praktiknya, apoteker memiliki posisi yang cukup dekat dengan masyarakat.

Hal ini membuat mereka berpotensi membantu mengenali gejala awal dan memberikan arahan awal kepada pasien.

Contributing Author yang juga perwakilan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Dr. Apt. Lusy Noviani, mengatakan peran apoteker kini semakin berkembang.

“Apoteker di Asia-Pasifik kini tidak hanya menangani pemberian obat, namun juga berperan sebagai garda terdepan dalam deteksi dini,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu mengurangi keterlambatan penanganan.

Pentingnya skrining sederhana

Upaya deteksi dini dapat dilakukan melalui pendekatan sederhana untuk mengenali risiko.

Salah satunya dengan memperhatikan faktor seperti usia, penyakit kronis, atau riwayat penggunaan obat tertentu.

Contributing Author sekaligus Head of Ambulatory Pharmacy & DMTAC Clinic Malaysia, Dr. Navin Kumar Loganadan, menyebut pendekatan sederhana dapat membantu mengenali risiko lebih awal.

“Alat bantu sederhana dapat membantu mengidentifikasi pasien berisiko sejak dini untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.

Baca juga: Mengapa Neuropati Perifer pada Penderita Diabetes Tak Boleh Diabaikan? Ini Dampaknya

Penanganan perlu dilakukan lebih cepat

Neuropati perifer yang tidak ditangani sejak awal dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Karena itu, deteksi dini dan penanganan tepat menjadi hal penting untuk mencegah komplikasi.

Contributing Author sekaligus akademisi dari Lyceum of the Philippines University Davao, Dr. Kenny James P. Merin, mengatakan langkah penanganan perlu dilakukan secara bertahap.

“Mulai dari identifikasi risiko, skrining, hingga tindak lanjut secara konsisten,” ujarnya.

Kesadaran jadi kunci utama

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala awal menjadi langkah penting dalam penanganan neuropati perifer.

Gejala seperti kesemutan atau mati rasa sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika terjadi berulang.

Dengan mengenali tanda sejak dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi bisa ditekan.

Baca juga: 6 Cara Mencegah Neuropati Perifer yang Penting Diketahui

Tag:  #neuropati #perifer #sering #disadari #gejala #risikonya

KOMENTAR