Kasus Campak di Indonesia Turun 93 Persen, Ini Data Terbaru Kemenkes
Ilustrasi imunisasi. Kemenkes mencatat penurunan drastis kasus campak dari 2.220 menjadi 146 kasus dalam 12 minggu pertama 2026.(AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN)
14:24
31 Maret 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun 93 Persen, Ini Data Terbaru Kemenkes

Kasus campak di Indonesia mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun 2026, dengan penurunan mencapai sekitar 93 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

Dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Selasa (31/3/2026), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan tren penurunan ini terlihat dari perbandingan jumlah kasus sejak minggu pertama hingga minggu ke-12 epidemiologi tahun 2026.

Baca juga: Dokter Magang di Cianjur Meninggal karena Campak, Ini Kronologi Lengkapnya

Penurunan signifikan sejak awal tahun

Sekretaris Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa pada minggu pertama tahun 2026 tercatat sebanyak 2.220 kasus campak.

Jumlah tersebut kemudian terus menurun secara konsisten setiap minggu.

Pada minggu ke-11, jumlah kasus tercatat 368 kasus, lalu kembali turun menjadi 146 kasus pada minggu ke-12.

“Jika dibandingkan dari minggu pertama hingga minggu ke-12, terjadi penurunan kurang lebih 93 persen,” kata Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Gejala Campak Sering Disangka Flu Biasa, Ini Tanda yang Perlu Diwaspadai

Sistem penanganan dinilai efektif

Perbedaan vaksinasi dan imunisasi. Kemenkes mencatat penurunan drastis kasus campak dari 2.220 menjadi 146 kasus dalam 12 minggu pertama 2026.BaLL LunLa Perbedaan vaksinasi dan imunisasi. Kemenkes mencatat penurunan drastis kasus campak dari 2.220 menjadi 146 kasus dalam 12 minggu pertama 2026.

Kemenkes menilai penurunan ini tidak lepas dari efektivitas sistem surveilans dan penanganan kasus di lapangan.

Upaya pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan dinilai mampu mendeteksi dan mengendalikan penyebaran campak lebih cepat.

Penanganan yang terkoordinasi juga membantu menekan angka kasus secara signifikan di berbagai daerah.

Baca juga: 4 Pasien Meninggal Dunia dari 8.224 Suspek Campak Tercatat, Ini Gejala dan Risiko Komplikasinya

Kemenkes sebelumnya memberikan perhatian khusus pada 14 provinsi yang sempat mencatatkan lonjakan kasus sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Provinsi tersebut meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta.

Selain itu, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, serta Jambi juga masuk dalam pemantauan.

Pada minggu ke-12, mayoritas wilayah tersebut menunjukkan tren penurunan yang dinilai menggembirakan.

Baca juga: Bukan Hanya Ruam, Campak Bisa Sebabkan Pneumonia hingga Menyerang Otak

Pemantauan tetap dilakukan di daerah risiko

Selain tingkat provinsi, Kemenkes juga memantau secara khusus 10 kabupaten/kota yang sebelumnya menjadi penyumbang kasus tertinggi.

Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan penurunan kasus terjadi secara merata dan berkelanjutan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mencegah munculnya lonjakan kasus baru.

Meski angka kasus terus menurun, Kemenkes mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan.

Andi menegaskan bahwa meskipun jumlah kasus saat ini relatif lebih sedikit, potensi penularan masih ada.

“Walaupun sudah memperlihatkan tren yang menurun, tetapi masih ada kasus yang harus tetap diwaspadai dan dipantau,” ujarnya.

Penurunan ini menjadi kabar baik, namun pengawasan dan upaya pencegahan tetap perlu dilakukan agar tren positif dapat terus berlanjut.

Baca juga: Campak Bisa Menular ke 18 Orang, Dosen IPB Ingatkan Pentingnya Herd Immunity

Tag:  #kasus #campak #indonesia #turun #persen #data #terbaru #kemenkes

KOMENTAR