Serupa tapi Tak Sama, Beda Keracunan Makanan dan Flu Perut
- Keracunan makanan dan flu perut (stomach bug) sering dianggap sama karena memiliki gejala yang mirip, seperti mual, muntah, dan diare. Padahal, keduanya memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.
Dokter menyebut kedua kondisi ini secara medis dikenal sebagai gastroenteritis, yaitu peradangan pada saluran pencernaan. Namun, memahami perbedaannya penting agar penanganannya lebih tepat.
Simak penjelasan mengenai perbedaan keracunan makanan dan stomach bug menurut para ahli.
Baca juga: 6 Cara Mengatasi Gangguan Pencernaan setelah Makan Pedas
Kenali perbedaan keracunan makanan dan stomach bug
Perbedaan penyebab: kontaminasi makanan vs infeksi virus
Ahli gastroenterologi Vijay Prabhakar mengungkap, perbedaan utama antara keracunan makanan dan stomach bug terletak pada penyebabnya.
“Keracunan makanan adalah infeksi saluran pencernaan setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau racunnya,” ungkapnya, seperti dilansir Everyday Health, Senin (23/3/2026).
Keracunan makanan biasanya terjadi akibat makanan yang tidak higienis, kurang matang, atau terkontaminasi.
Sementara itu, stomach bug atau flu perut umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Dr. Prabhakar menambahkan, kondisi ini sering disebabkan oleh virus seperti norovirus dan rotavirus yang mudah menular.
Berbeda dengan keracunan makanan, stomach bug lebih mudah menyebar dari orang ke orang, baik melalui kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi.
Baca juga: Cara Mencegah Keracunan Makanan pada Anak, Menurut Dokter IDAI
Ilustrasi masak kue dengan madu
Perbedaan waktu munculnya gejala
Meski gejalanya mirip, waktu kemunculan gejala bisa menjadi petunjuk penting untuk membedakan keduanya. Menurut Vijay Prabhakar, gejala keracunan makanan biasanya muncul lebih cepat.
“Gejala keracunan makanan biasanya mulai muncul dua hingga enam jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi,” jelasnya.
Sebaliknya, stomach bug membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan gejala.
Gejala infeksi virus ini biasanya muncul 24 hingga 48 jam setelah seseorang terpapar virus. Hal ini karena virus membutuhkan waktu untuk berkembang dalam tubuh sebelum menimbulkan keluhan.
Perbedaan waktu ini sering menjadi indikator awal dalam menentukan jenis gangguan pencernaan yang dialami.
Baca juga: Ahli Gizi: Diare Ringan Bisa Diredakan dengan Minuman Probiotik
Perbedaan durasi dan tingkat penularan
Keracunan makanan umumnya berlangsung lebih singkat. Dalam banyak kasus, kondisi ini membaik dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Sebaliknya, stomach bug cenderung berlangsung lebih lama, yaitu sekitar dua hari atau lebih.
Tingkat penularan keduanya juga berbeda. Keracunan makanan biasanya tidak terlalu menular, kecuali pada kondisi tertentu. Sementara itu, stomach bug sangat mudah menyebar.
“Kita bisa tertular patogen penyebab keracunan makanan melalui makanan yang terkontaminasi,” kata ahli gastroenterologi Neil Parikh.
Namun pada stomach bug, penularan lebih sering terjadi melalui kontak langsung dengan penderita atau benda yang terkontaminasi virus.
Baca juga: Kapan Sembelit pada Anak Perlu Dikhawatirkan?
Gejala mirip, tapi ada perbedaan kecil yang perlu diperhatikan
Kedua kondisi ini memang memiliki gejala yang hampir sama namun, ada beberapa perbedaan kecil yang bisa diperhatikan.
Pada keracunan makanan, diare bisa disertai darah dan sering disertai demam serta kelemahan tubuh.
Sementara pada stomach bug, diare biasanya lebih cair tanpa darah dan sering disertai kehilangan nafsu makan serta nyeri otot.
Meski demikian, gejala bisa bervariasi tergantung kondisi tubuh dan penyebab infeksinya.
Baca juga: Tren Masalah Kesehatan Pasca Lebaran, Cek Kolesterol hingga Keluhan Pencernaan Meningkat
Cara penanganan dan kapan harus ke dokter
Baik keracunan makanan maupun stomach bug umumnya dapat sembuh dengan sendirinya.
Penanganan utamanya adalah istirahat dan menjaga tubuh tetap terhidrasi.
“Minum cairan yang mengandung elektrolit penting untuk menggantikan cairan yang hilang akibat muntah dan diare,” tutur Dr. Prabhakar.
Dalam beberapa kasus, antibiotik dapat digunakan untuk keracunan makanan akibat bakteri, tetapi tidak efektif untuk infeksi virus.
Maka, penting untuk mengetahui penyebabnya sebelum mengonsumsi obat tertentu. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala berat seperti demam tinggi, muntah terus-menerus, dehidrasi, atau diare berdarah.
Meski terlihat mirip, keracunan makanan dan stomach bug memiliki perbedaan mendasar. Dengan memahami ciri-cirinya, masyarakat dapat mengambil langkah penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
Baca juga: Tren Minum Air Hangat Pagi Hari Viral di TikTok, Benarkah Baik untuk Pencernaan?