



Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, RI - Kanada Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Transisi Energi
– Indonesia dan Kanada menyepakati kerja sama mineral kritis dan transisi energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, MoU itu mencakup beberapa area kerja strategis, antara lain penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui teknologi bersih, serta penguatan perdagangan dan investasi sektor pertambangan.
"Kolaborasi ini diharapkan mendukung percepatan transisi energi dan pertumbuhan ekonomi kedua negara," ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (3/12).
Bahlil menekankan pentingnya kerja sama ini untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat. Hal itu juga sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang memerlukan keandalan listrik.
"Listrik kita saat ini sebesar 91 gigawatt dengan pertumbuhan ekonomi di bawah 6 persen. Target Presiden Prabowo untuk pertumbuhan ekonomi ke depan adalah 8 persen, sehingga kami memerlukan tambahan 61 gigawatt untuk mendukung target tersebut," jelasnya.
Bahlil juga menyampaikan bahwa transisi energi menjadi fokus utama pemerintah Indonesia. Dia mencontohkan dengan RUPTL 2025-2033 yang dirancang dengan target 60 persen energi baru terbarukan. "Kami berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060, bahkan mendorong agar bisa lebih cepat pada 2050," ujar mantan Ketum Hipmi itu.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Promosi Ekspor, Perdagangan Internasional, dan Pembangunan Ekonomi Kanada Mary Ng menegaskan dukungan Kanada terhadap transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
"Komitmen kami untuk mendukung transisi energi Indonesia yang adil dan berkelanjutan bersifat substansial. Ini termasuk pendanaan iklim global kami sebesar CAD 5,3 miliar, termasuk Indonesia selama lima tahun terakhir," ujar Mary Ng.
Sebagai bagian dari pendanaan ini, sambung Mary Ng, Kanada mendukung proyek-proyek utama dengan Bank Pembangunan Asia. Di antaranya seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi Sarulla di Sumatera Utara dan pembangkit listrik tenaga angin dan surya di Sulawesi Selatan dan Lombok.
Ia juga menyebutkan bahwa Kanada bangga menjadi mitra dalam Just Energy Transition Partnership (JETP), yang bertujuan memobilisasi pembiayaan publik dan swasta hingga USD 20 miliar untuk mendukung transisi energi Indonesia.
Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan optimisme terhadap potensi kerja sama dengan Kanada di bidang energi nuklir. Dia merujuk pada Kanada yang merupakan salah satu negara terdepan dalam pengembangan nuklir. "DPR telah menyetujui penggunaan tenaga nuklir, dan kami menargetkan regulasinya selesai pada 2025. Implementasinya akan dimulai secara bertahap pada 2032," ungkap Bahlil.
Tag: #dukung #pertumbuhan #ekonomi #persen #kanada #perkuat #kerja #sama #mineral #kritis #transisi #energi