Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Bisa Sentuh 150 Dollar AS
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi perhatian pasar energi global.
Perusahaan intelijen energi Rystad Energy memperingatkan harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 150 dollar AS per barrel apabila konflik kedua negara kembali meningkat setelah masa gencatan senjata yang saat ini tengah menghadapi ujian berat.
Dikutip dari Oilprice.com, Jumat (12/6/2026) eskalasi permusuhan dinilai dapat memperparah gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pertamina: Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Tentara Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz pada 31 Desember 2022.
Risiko perang yang masih tinggi dan kondisi Selat Hormuz yang nyaris tertutup disebut terus menekan produksi migas di kawasan tersebut.
“Pada tahap ini, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah eskalasi saat ini menandai dimulainya kembali permusuhan secara penuh atau hanya episode berbahaya namun masih dapat dikendalikan,” kata Senior Vice President dan Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy Jorge Leon.
Menurut Rystad Energy, perkembangan terbaru menunjukkan situasi masih sangat dinamis sehingga terlalu dini untuk memastikan apakah ketegangan saat ini akan berkembang menjadi konflik yang lebih luas atau masih dapat dikendalikan.
Selat Hormuz kembali jadi sorotan
Kekhawatiran pasar meningkat setelah AS melancarkan serangan ke Iran, sementara Teheran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup pada Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Harga Minyak Dunia Berbalik Turun Meski Konflik AS-Iran Kian Memanas
Kondisi tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak pada perdagangan Asia. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Ilustrasi harga minyak
Eskalasi terbaru bermula dari jatuhnya helikopter Apache milik AS di dekat Selat Hormuz pada Selasa. Sebagai respons, AS menyerang sejumlah target di Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command) juga melumpuhkan sebuah kapal tanker di Teluk Oman yang disebut berupaya menerobos blokade AS di Selat Hormuz dan tidak mematuhi perintah pasukan AS.
Peristiwa tersebut dipandang sebagai ujian paling serius terhadap gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak awal April 2026.
Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak
Di tengah meningkatnya ketegangan, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz justru dilaporkan mengalami peningkatan. Namun, kondisi di lapangan semakin sulit dipantau karena sejumlah kapal mematikan transponder dan melintas dalam mode gelap atau dark mode.
Situasi ini membuat pasar minyak kesulitan mengukur secara pasti berapa banyak pasokan yang masih mengalir melalui jalur tersebut.
Beberapa perkiraan menunjukkan sekitar 2 juta barrel minyak per hari masih melintasi Selat Hormuz. Meski demikian, jumlah tersebut hanya sekitar sepersepuluh dari volume minyak yang melintas sebelum perang pecah.
Risiko pasokan dorong harga minyak
Rystad Energy menilai kemungkinan kembali pecahnya konflik terbuka antara AS dan Iran dapat memperburuk gangguan pasokan minyak global.
Baca juga: Trump Ancam Gempur Iran Lagi dengan Sangat Keras, Harga Minyak Dunia Tembus 93 Dollar AS
Jika kondisi tersebut terjadi, penutupan pasokan di Timur Tengah berpotensi semakin dalam sehingga pasar menghadapi risiko kekurangan pasokan yang lebih besar. Situasi itu pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan.
Peringatan mengenai potensi lonjakan harga minyak hingga 150 dollar AS per barrel juga mulai disampaikan oleh sejumlah pelaku industri energi.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Para eksekutif perusahaan minyak besar menilai pasar saat ini masih mampu bertahan karena adanya cadangan minyak yang digunakan untuk mengompensasi sebagian kehilangan pasokan global.
Namun, kondisi tersebut tidak dapat berlangsung selamanya karena persediaan minyak terus menyusut.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Harga Minyak Tinggi, Industri Pelayaran Tertekan
Senior Vice President Exxon Neil Chapman mengatakan stok minyak dunia saat ini mendekati level yang sangat rendah.
“Kita mendekati tingkat persediaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maksud saya, benar-benar sangat rendah,” ujar Chapman dalam Bernstein 42nd Annual Strategic Decisions Conference pada akhir Mei 2026 lalu.
Menurut dia, apabila persediaan minyak turun ke tingkat yang sangat rendah, harga minyak mentah Brent berpotensi melonjak tajam.
“Saya rasa, kebanyakan orang yang memiliki model tersebut akan mengatakan bahwa harga Brent akan melonjak begitu Anda mencapai tingkat persediaan yang sangat rendah, hingga 150, 160 dollar AS, para ahli model akan mengatakan hal itu kepada Anda,” kata Chapman.
Baca juga: Pasokan Terganggu, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tetap Tinggi pada 2026
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko lonjakan harga minyak tidak hanya dipicu oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh kondisi fundamental pasar berupa menipisnya persediaan global.
Dampak ke negara-negara rentan
Lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak yang lebih besar bagi negara-negara berkembang dan negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi.
Dalam laporan berjudul Strait of Hormuz Disruptions: The Burden of Oil Price Shocks on Vulnerable Economies, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyebutkan gangguan di Selat Hormuz telah menimbulkan guncangan pada sistem energi global.
Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.
Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik sempit maritim paling penting di dunia. Selain menjadi jalur utama perdagangan minyak, Selat Hormuz juga dilalui berbagai komoditas energi lainnya yang dibutuhkan banyak negara.
Baca juga: Harga Minyak Mentah Turun 3 Persen Usai AS Klaim Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat
UNCTAD mencatat, negara-negara rentan berada di garis depan dampak kenaikan harga minyak.
Dari 75 negara yang tergolong negara kurang berkembang (Least Developed Countries/LDCs) dan negara kepulauan kecil berkembang (Small Island Developing States/SIDS), sebanyak 65 negara merupakan importir bersih minyak.
Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan energi dari luar negeri membuat negara-negara tersebut lebih rentan menghadapi gejolak harga minyak dibandingkan negara yang memiliki sumber energi domestik yang besar.
Menurut UNCTAD, hampir satu miliar orang tinggal di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dan memiliki kemampuan terbatas untuk menyerap dampak lonjakan harga minyak.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Hentikan Operasi Militer ke Israel
Ketika harga minyak naik, negara-negara tersebut harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Kondisi itu berpotensi memperlebar defisit perdagangan, meningkatkan tekanan inflasi, dan membebani keuangan publik.
UNCTAD memperkirakan apabila harga minyak meningkat 50 persen dan bertahan selama satu tahun penuh, tagihan impor minyak bersih bagi 65 negara rentan tersebut dapat bertambah sekitar 20,4 miliar dollar AS per tahun.
Tambahan biaya tersebut dinilai cukup signifikan, terutama bagi negara-negara yang memiliki ruang fiskal terbatas dan masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Laporan itu juga menyoroti bahwa banyak negara rentan tidak hanya mengimpor minyak mentah, tetapi juga sangat bergantung pada produk minyak olahan.
Baca juga: Trump Desak Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Pasokan
Akibatnya, kenaikan harga energi global dapat memberikan dampak berlapis terhadap perekonomian mereka.
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Ketidakpastian masih tinggi
Perkembangan konflik AS-Iran dan situasi di Selat Hormuz kini menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar energi.
Di satu sisi, masih terdapat harapan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak awal April 2026 dapat dipertahankan sehingga ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Namun di sisi lain, serangkaian insiden terbaru menunjukkan bahwa situasi masih sangat rapuh. Penembakan helikopter AS, serangan balasan terhadap target di Iran, hingga kembali ditutupnya Selat Hormuz memperlihatkan tingginya risiko gangguan pasokan energi.
Baca juga: Operasi Militer Iran ke Israel Berakhir, Harga Minyak Masih Tinggi di Atas 90 Dollar AS
Rystad Energy menilai terlalu dini untuk memastikan arah perkembangan situasi. Namun, lembaga tersebut mengingatkan apabila konflik kembali meningkat dan mengganggu pasokan minyak secara lebih besar, harga minyak dunia berpotensi menembus level 150 dollar AS per barrel.
Pada saat yang sama, menipisnya persediaan minyak global sebagaimana disoroti Exxon menjadi faktor yang dapat memperkuat kenaikan harga apabila pasokan dari Timur Tengah kembali terganggu.
Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, terutama kelompok negara rentan yang disoroti UNCTAD, lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan beban impor dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian domestik.
Tag: #selat #hormuz #memanas #harga #minyak #dunia #bisa #sentuh #dollar