Harga Ayam Hidup Anjlok, Peternak Rugi hingga Rp 7.000 per Kg
Ilustrasi ayam potong. (KOMPAS.com/IWAN SUPRIYATNA)
15:04
10 Juni 2026

Harga Ayam Hidup Anjlok, Peternak Rugi hingga Rp 7.000 per Kg

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup atau live bird di tingkat peternak.

Harga ayam hidup di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), dan Banten kini hanya Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kilogram.

Ketua Umum Permindo Kusnan mengatakan, harga tersebut jauh di bawah biaya produksi peternak ayam broiler.

“Harga live bird di wilayah Jabodetabek dan Banten masih berada pada kisaran Rp 15.000–Rp 16.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi peternak,” kata Kusnan dalam keterangan tertulis, Kamis (10/6/2026).

Baca juga: Harga Ayam Anjlok, Peternak Minta BUMN Serap Produksi Broiler

Kusnan mengatakan, peternak menghadapi dua tekanan sekaligus.

Harga jual ayam hidup turun, sementara biaya pakan terus naik.

Permindo mencatat harga pakan ayam saat ini mencapai Rp 8.800 sampai Rp 9.400 per kilogram loco pabrik.

Harga pakan dilaporkan naik Rp 800 per kilogram sepanjang 2026.

Pada saat yang sama, harga day old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari final stock saat panen berada di kisaran Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per ekor.

Kenaikan biaya pakan dan DOC membuat biaya produksi peternak ayam broiler semakin berat.

Permindo menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) broiler saat ini mencapai Rp 21.000 sampai Rp 22.000 per kilogram untuk ayam hidup.

Baca juga: Produksi Telur Surplus, Amran Minta Investasi Peternakan Ayam Dibatasi

Dengan harga jual hanya Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kilogram, peternak harus menanggung selisih kerugian yang besar.

“Peternak rakyat saat ini menanggung kerugian sekitar Rp 5.000–Rp 7.000 per kilogram live bird atau sekitar Rp 10.000–Rp 14.000 per ekor ayam panen berbobot 2 kilogram,” ujar Kusnan.

Menurut Kusnan, peternak ayam broiler tidak bisa menanggung kerugian tersebut terlalu lama.

Kerugian terus menggerus modal kerja dan membuat peternak rakyat berisiko gulung tikar.

Kusnan mengatakan, masalah peternak tidak hanya terletak pada biaya produksi dan harga jual.

Akses pasar yang terbatas juga masih menjadi hambatan.

Karena itu, Permindo meminta Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, dan badan usaha milik negara (BUMN) pangan membangun sistem penyerapan dan distribusi daging ayam.

Permindo mengusulkan sejumlah skema untuk memperluas pasar peternak rakyat.

Salah satunya mendorong penjualan ayam karkas segar, ayam beku, dan telur di seluruh ritel modern nasional.

“Dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap protein hewani, konsumsi nasional dapat meningkat sekaligus memperluas pasar bagi peternak rakyat,” kata Kusnan.

Permindo juga meminta Bulog dan BUMN pangan membangun sistem penyerapan berkelanjutan sebagai instrumen pengendalian pasar.

Menurut Kusnan, skema tersebut dapat meniru penyerapan gabah dan beras petani oleh Bulog dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

“Mekanisme serupa perlu dipertimbangkan untuk protein hewani rakyat ketika terjadi kelebihan pasokan dan harga jatuh di tingkat peternak,” tutur Kusnan.

Tag:  #harga #ayam #hidup #anjlok #peternak #rugi #hingga #7000

KOMENTAR