BI Rate Naik, Profit Emiten Bank Bisa Melonjak, Risiko Kredit Macet Mengintai
- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) diyakini menjadi katalis bagi kinerja emiten perbankan di pasar saham.
Kebijakan itu diperkirakan memperbaiki Net Interest Margin (NIM), setelah dalam setahun terakhir mengalami tekanan akibat tren penurunan suku bunga.
Untuk diketahui, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.
Keputusan itu diumumkan setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (9/6/2026).
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan kenaikan BI Rate memberikan ruang baru bagi bank untuk meningkatkan profitabilitas melalui pendapatan bunga yang lebih tinggi.
Baca juga: Di Balik Langkah Mendadak BI Naikkan Suku Bunga Acuan
Dampak positif tersebut terutama berasal dari kemampuan perbankan menyesuaikan bunga kredit lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya dana yang dibayarkan kepada nasabah.
“Dampaknya akan menjadi katalis positif untuk perbaikan NIM mereka. Setelah dalam setahun terakhir margin perbankan sempat tertekan akibat tren penurunan suku bunga, kenaikan BI Rate kali ini memberikan ruang napas baru bagi profitabilitas perbankan,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Namun, kondisi ini juga dapat menjadi “pisau bermata dua”. Di satu sisi, bank menikmati kenaikan pendapatan bunga dan perbaikan profitabilitas.
Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi membuat beban cicilan debitur ikut meningkat.
Jika kenaikan beban tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat maupun dunia usaha, kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya bisa menurun.
Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi meningkatkan kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).
“Namun, ini seperti pisau bermata dua; di satu sisi pendapatan bunga meningkat, tapi di sisi lain perbankan harus bersiap mengantisipasi potensi kenaikan risiko kredit macet (Non-Performing Loan/NPL),” paparnya.
Dengan kata lain, kenaikan BI Rate menjadi katalis positif bagi kinerja keuangan perbankan melalui peningkatan NIM.
Namun, bank tetap harus menjaga kualitas kreditnya karena keuntungan yang lebih besar dari bunga kredit dapat tergerus apabila rasio kredit macet ikut meningkat.
Oleh sebab itu, keberhasilan perbankan memanfaatkan era suku bunga tinggi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperlebar margin bunga, tetapi juga oleh kemampuan mengelola risiko kredit secara hati-hati.
“Ya jelas akan menaikkan NIM perbankan. Ketika suku bunga acuan mendaki, bank memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan tingkat bunga kredit yang disalurkan. Ekspansi margin ini terjadi karena yield dari aset produktif bank biasanya bisa bergerak lebih dinamis dibandingkan dengan biaya dana yang harus dibayarkan kepada nasabah,” sebut dia.
Lebih jauh, Faris mencatat proses transmisi kenaikan suku bunga kepada debitur umumnya berlangsung relatif cepat.
Dalam banyak kasus, penyesuaian bunga kredit dapat dilakukan dalam rentang waktu satu hingga tiga bulan.
Meski demikian, kecepatan transmisi tergantung pada karakteristik produk kredit yang dimiliki masing-masing bank, serta strategi internal manajemen dalam mengelola likuiditas.
“Proses transmisinya tergolong cukup cepat, biasanya memakan waktu sekitar satu sampai tiga bulan. Namun, kecepatan eksekusinya tidak seragam karena akan sangat disesuaikan dengan jenis produk kreditnya (apakah fixed atau floating) serta strategi kebijakan internal masing-masing manajemen bank dalam menjaga likuiditasnya,” katanya.
Di pasar modal, sektor perbankan juga dinilai berpotensi menjadi salah satu sektor yang paling menarik di tengah siklus kenaikan suku bunga.
Bahkan, saham-saham bank besar berpeluang menjadi motor penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ketika tren pasar mulai berbalik menguat.
Saham perbankan tidak hanya berpotensi jadi sektor defensif, tetapi justru bisa menjadi growth driven alias motor penggerak utama IHSG.
Alasannya sederhana, ketika pasar saham domestik mulai menunjukkan sinyal reversal atau pembalikan arah ke tren menguat, saham-saham big banks inilah yang akan paling pertama dikoleksi oleh investor asing.
Faktor likuiditasnya yang tinggi dan weighting atau bobotnya yang raksasa terhadap indeks membuat sektor ini selalu jadi primadona pembuka jalan.
Di sisi lain, Faris menilai bank digital memiliki keunggulan tersendiri dalam menghadapi era suku bunga tinggi.
Hal itu karena model bisnis bank digital memungkinkan penerapan bunga kredit yang lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.
“Dalam konteks kenaikan suku bunga ini, bank digital memiliki keunggulan komparatif yang menarik. Mengapa? Karena secara natural, struktur bisnis bank digital memungkinkan mereka untuk menetapkan bunga kredit yang jauh lebih tinggi dibandingkan bank konvensional raksasa,” lanjut Faris.
“Pricing power yang tinggi ini membuat mereka punya ruang lebih lebar untuk menggenjot pendapatan bunga di era suku bunga tinggi,” ucap dia.
Untuk prospek pertumbuhan kredit hingga akhir 2026, Faris memperkirakan laju penyaluran kredit nasional akan bergerak lebih moderat dibandingkan sebelumnya.
“Untuk prospek hingga akhir 2026, pertumbuhan kredit secara nasional tampaknya akan bergerak lebih moderat. Angkanya kemungkinan besar akan cenderung berada di bawah pencapaian bulan April yang sempat menyentuh level 9,98 persen secara tahunan. Suku bunga yang lebih tinggi secara psikologis akan membuat pelaku usaha maupun individu menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam mengajukan pinjaman baru,” tuturnya.
Meski demikian, ia menilai saat ini merupakan momentum yang tepat bagi investor untuk mulai kembali mencermati sektor perbankan.
Selain mendapat sentimen positif dari kenaikan BI Rate, valuasi saham-saham perbankan juga dinilai mulai menarik setelah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir.
Baca juga: Efek BI Rate: Rupiah Pagi Menguat ke Level 17.908, IHSG Naik ke Kisaran 5.800
Tag: #rate #naik #profit #emiten #bank #bisa #melonjak #risiko #kredit #macet #mengintai