Kenapa BI Mendadak Naikkan Suku Bunga Acuan? Ini Kata Para Ekonom
- Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga di luar jadwal menjadi 5,50 persen pada hari ini disinyalir menjadi upaya untuk mencegah cadangan devisa kian terkuras.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, nilai tukar rupiah di penutupan pasar spot hari ini tercatat di level Rp 18.058 per dollar AS.
Angka tersebut menguat 129,5 poin setara 0,71 persen dibandingkan level pembukaannya.
Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember Adhitya Wardhono mengatakan, kenaikan BI rate tidak otomatis menunjukkan, volume intervensi Bank Indonesia sudah terlalu besar.
Baca juga: Perry Warjiyo Akui Rupiah Melemah Lebih Dalam dari Proyeksi, BI Kembali Naikkan Suku Bunga
"Tetapi lebih mencerminkan upaya untuk meningkatkan efektivitas bauran kebijakan," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei 2026.
Dengan demikian, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility juga naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.
Dalam teori ekonomi moneter, stabilisasi nilai tukar yang hanya mengandalkan intervensi pasar valas cenderung memiliki biaya yang lebih tinggi dan kurang berkelanjutan dibandingkan jika didukung oleh instrumen suku bunga dan operasi moneter.
Adhitya berpandangan, keputusan ini justru dapat dibaca sebagai langkah antisipatif agar beban stabilisasi tidak sepenuhnya ditanggung oleh cadangan devisa.
"Dengan menaikkan imbal hasil aset keuangan domestik, BI berupaya memengaruhi perilaku pasar dan arus modal sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berkurang secara lebih fundamental," terang dia.
Dari sudut pandang ekonomi, Adhitya menjelaskan, keputusan ini menunjukkan adanya pergeseran dari strategi yang dominan menggunakan instrumen kuantitas (intervensi likuiditas dan valas) menuju kombinasi instrumen harga (suku bunga) dan instrumen pasar.
"Langkah seperti ini umumnya dilakukan bank sentral ketika sumber tekanan dinilai berasal dari faktor eksternal yang berpotensi berlangsung lebih lama, sehingga diperlukan respons yang lebih komprehensif dan berkelanjutan," ujar dia.
Sebenarnya BI telah mengaktifkan hampir seluruh instrumen stabilisasi yang tersedia, meliputi triple intervention di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF) offshore, hingga kenaikan suku bunga instrumen moneter.
BI juga telah melakukan peningkatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali masuknya aliran modal asing, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan pertumbuhan uang primer (M0) double digit sesuai koordinasi fiskal-moneter.
Selain itu, BI juga telah menurunkan batas pembelian dollar di pasar domestik ke luar negeri tanpa underlying transaction, akselerasi pendalaman pasar valas untuk mendukung stabilisasi dan yang terakhir adalah pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang melakukan transaksi dalam jumlah besar.
BI tak tinggal diam melihat rupiah melemah
Adhitya menjelaskan, opsi menaikkan suku bunga acuan BI (BI-rate) menjadi relevan dalam situasi seperti ini.
Pasalnya, kenaikan suku bunga ini akan menjadi instrumen untuk menjaga kredibilitas dan membentuk ekspektasi, BI tetap serius menjaga inflasi dan stabilitas rupiah.
Selain itu, kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 5,50 persen ini mengirim pesan penting, BI tidak tinggal diam melihat rupiah melemah.
Menurut dia, kenaikan BI Rate lebih merefleksikan ikhtiar pre-emptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat konflik geopolitik dan keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik.
Dari perspektif teori open economy, ketika tekanan terhadap nilai tukar meningkat, penyesuaian suku bunga menjadi instrumen yang lebih efisien dibandingkan terus-menerus mengandalkan intervensi cadangan devisa.
Peningkatan suku bunga dinilai dapat memperkuat daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menjaga ketahanan eksternal.
Ilustrasi dollar AS.
Upaya menjaga cadangan devisa tetap kuat
Dengan demikian, ia menjelaskan, keputusan ini tidak otomatis menunjukkan cadangan devisa (cadev) berada pada kondisi yang terlalu ketat atau mengkhawatirkan.
Justru kebijakan ini dapat dipandang sebagai upaya menjaga agar cadangan devisa tetap kuat dan tidak terkuras berlebihan apabila gejolak global berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lagi, Adhitya berpandangan, ruang tersebut tentu masih terbuka dalam kerangka kebijakan moneter yang bersifat data dependent.
Namun, apakah akan terjadi satu atau dua kali kenaikan tambahan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, arus modal asing, inflasi domestik, dan arah kebijakan moneter global dalam beberapa bulan ke depan.
Saat ini, yang lebih tepat dibaca adalah BI sedang mengirimkan sinyal kuat kepada pasar, stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama.
Dari sisi pasar keuangan, persepsi kadang sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri.
Ketika pasar percaya BI serius menjaga rupiah, diharapkan para importir tidak panic buying dollar AS, eksportir lebih mau melepas devisa, investor asing tidak buru-buru keluar, serta sektor perbankan tidak terlalu defensif dalam manajemen dollar AS.
Besarnya biaya stabilisasi rupiah lewat intervensi pasar
Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, kenaikan suku bunga saat ini juga dapat dibaca sebagai indikasi biaya mempertahankan stabilitas rupiah melalui intervensi pasar semakin besar.
Ia berpandangan, cadangan devisa telah mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun, yang mengindikasikan tingginya kebutuhan intervensi di pasar valas untuk meredam volatilitas rupiah.
"Artinya, penggunaan suku bunga merupakan instrumen yang lebih berkelanjutan dibandingkan mengandalkan cadangan devisa secara terus-menerus," ungkap dia.
Oleh karena itu, keputusan BI dapat dipandang sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung dan mengembalikan mekanisme pasar melalui peningkatan imbal hasil aset rupiah.
"Dengan kata lain, kebijakan ini sebagai upaya memperkuat bauran kebijakan moneter daripada sekadar sinyal amunisi intervensi," ucap dia.
Rupiah belum menunjukkan tanda penguatan
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Noval Adib mengatakan, kenaikan BI Rate menunjukkan upaya stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar dinilai belum cukup efektif.
Hal ini juga mengindikasikan pergerakan nilai tukar rupiah masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti untuk menurun sehingga dibutuhkan kebijakan tambahan.
"BI menaikkan BI Rate adalah jurus pemungkas untuk meredam penurunan rupiah setelah tidak kuat lagi menahan penurunan rupiah dengan jurus intervensi pasar," ujar Noval kepada Kompas.com, Selasa.
Pandangan serupa disampaikan Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong.
Dia menilai keputusan BI menaikkan BI Rate sudah mendesak untuk dilakukan mengingat tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut.
"Seperti yang saya harapkan, sudah urgent memang," ucap Lukman kepada Kompas.com, Selasa.
Menurut dia, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin masih belum cukup untuk meredam pelemahan rupiah.
Oleh karenanya, dia berharap BI akan menaikkan BI Rate lagi pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI yang akan diselenggarakan pada 17-18 Juni 2026.
Baca juga: Suku Bunga Acuan BI Naik Jadi 5,50 Persen, Ekonom: Jurus Pamungkas untuk Redam Penurunan Rupiah
Tag: #kenapa #mendadak #naikkan #suku #bunga #acuan #kata #para #ekonom