Lebih Parah dari Pandemi Covid-19, IHSG Ambles 38 Persen dari Puncaknya
ilustrasi IHSG turun, IHSG hari ini. (canva.com)
07:12
6 Juni 2026

Lebih Parah dari Pandemi Covid-19, IHSG Ambles 38 Persen dari Puncaknya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 38 persen dari posisi puncaknya. Bahkan, pelemahan indeks saat ini lebih dalam dibandingkan saat pandemi Covid-19.

IHSG mengalami tekanan jual besar-besaran saat penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor karena terjadi di tengah derasnya arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya perhatian lembaga pemeringkat global terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Baca juga: IHSG Ditutup Merosot 245 Poin ke 5.594,77, Saham WIFI Paling Merana

Lantas, apa yang sedang terjadi di pasar modal Indonesia?

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan tekanan yang dialami IHSG saat ini bersifat multidimensional dan tidak bisa disederhanakan dalam satu narasi tunggal.

Dalam satu tahun terakhir, indeks telah terkoreksi sekitar 20 persen. Apabila dihitung dari titik tertingginya, penurunan telah mencapai 38 persen, melampaui kedalaman koreksi saat pandemi Covid-19.

Arus keluar investor asing pun mencapai Rp 78 triliun dalam dua belas bulan terakhir, yang merefleksikan erosi kepercayaan secara struktural.

Menurutnya, titik infleksi yang perlu diperhatikan adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) interim freeze pada 28 Februari 2026, yang secara eksplisit menyoroti persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia di hadapan komunitas investasi global.

Di saat yang bersamaan, lembaga pemeringkat Moody's, Fitch, dan S&P tengah mencermati kondisi fiskal Indonesia secara seksama. Sementara eskalasi konflik AS-Iran turut mendorong kenaikan harga minyak yang memperburuk tekanan pada sisi pengeluaran fiskal dan mendorong inflasi dari sisi biaya.

Tak hanya itu, kurs rupiah sendiri telah melemah sekitar 8 persen secara year-to-date (Ytd), yang semakin mempertegas persepsi risiko di kalangan investor institusional global.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,20 Persen, Asing Lepas Saham Rp 3,7 Triliun

Mengapa pasar memberikan respons yang lebih negatif dibandingkan ketika dunia menghadapi krisis kesehatan global pada 2020?

Azharys menilai perbedaan mendasarnya terletak pada sifat dan visibilitas solusinya. Pada 2020, kontraksi yang terjadi bersifat eksogen dan temporer, aktivitas bisnis terhenti bukan karena kelemahan fundamental, melainkan pembatasan mobilitas akibat pandemi.

“Begitu solusi ditemukan dalam bentuk vaksin dan pelonggaran restriksi, pasar langsung melakukan rebound dan mencapai pemulihan penuh pada Januari 2021,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Jumat sore.

Untuk diketahui, menjelang tutup tahun 2020, dengan kehadiran vaksin Covid-19 dan rencana pemerintah memberikan vaksinasi gratis meningkatkan optimisme investor kala itu.

Laju IHSG yang sempat tertekan dari posisi 6.299,54 poin pada akhir 2019, lalu terjun ke level 3.937,63 poin pada 24 Maret 2020, kemudian perlahan bangkit dan terus menguat hingga penutupan perdagangan Rabu (11/12/2020) yang berada di posisi 6.008,7.

Dalam kondisi sulit dan penurunan indeks gila-gilaan terjadi. Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) menerapkan beragam antisipasi untuk meminimalisir penurunan emiten lebih dalam.

Beberapa hal yang menjadi kebijakan saat pandemi Covid-19 antara lain auto rejection asimetris, trading halt, pelarangan short selling, buyback saham tanpa RUPS dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan, perubahan batasan auto rejection menjadi asymmetric, perubahan batasan trading halt, dan penyesuaian sesi perdagangan di pre-opening.

Trading halt merupakan kebijakan untuk menahan harga saham agar tidak turun lebih dalam karena terjadi panic selling atau kondisi yang menekan aksi jual oleh investor.

Trading halt dilakukan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5 persen. Sementara auto rejection asimetris adalah kebijakan yang menahan penurunan harga saham hingga 7 persen.

Tidak hanya itu, kebijakan relaksasi juga diberlakukan untuk tetap mendukung industri pasar modal bertahan di tengah masa sulit.

Adapun relaksasi yang diberlakukan adalah pemenuhan prinsip keterbukaan, relaksasi dalam meyampaikan kewajiban pelaporan, serta stimulus bagi industri pengelolaan investasi.

Sebaliknya, situasi pasar saham saat ini dipandang jauh lebih kompleks karena permasalahan yang dihadapi bersifat endogen dan struktural: tekanan fiskal yang persisten, pelemahan rupiah yang berkelanjutan.

Lalu, ketidakpastian kebijakan pemerintah, termasuk kekhawatiran atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), hingga erosi kepercayaan investor asing yang tidak memiliki katalis pemulihan yang jelas dan terdefinisi seperti yang ada di 2020.

“Pasar kesulitan untuk menetapkan exit scenario yang konkret, dan ketidakpastian itulah yang membuat tekanan jual berlangsung lebih panjang dan lebih dalam,” tukas dia.

Lebih jauh, terkait apakah penurunan IHSG saat ini mencerminkan masalah fundamental ekonomi Indonesia atau lebih karena krisis kepercayaan investor?

Azharys menyebut keduanya saling terkait dan sulit dipisahkan, namun akar permasalahannya bersifat fundamental. Kondisi fiskal Indonesia sedang dalam sorotan serius dari lembaga pemeringkat internasional, sementara ketidakpastian arah kebijakan pemerintah menciptakan premi risiko tambahan bagi investor.

Tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk defisit transaksi berjalan melalui pembengkakan impor migas.

Dari sisi pasar obligasi, spread yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun terhadap US Treasury berada di kisaran 242 basis poin, turun dari 279 basis poin pada tahun lalu, penyempitan spread ini justru menjadi salah satu faktor yang mendorong realokasi portofolio investor asing keluar dari Indonesia karena imbal hasil relatif menjadi kurang kompetitif.

“Dengan demikian, krisis kepercayaan yang terlihat di permukaan sesungguhnya adalah cerminan dari permasalahan fundamental yang belum terselesaikan,” ucapnya.

Faktor mana yang paling dominan menekan IHSG: pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, ketidakpastian regulasi, atau faktor lainnya?

Apabila harus mengidentifikasi urutan kausalitasnya, pelemahan rupiah dan ketidakpastian regulasi merupakan dua faktor yang paling bersifat struktural dan saling memperkuat satu sama lain.

Ia mengatakan ketidakpastian kebijakan fiskal dan regulasi mendorong investor asing untuk mereduksi eksposur mereka terhadap aset Indonesia, yang pada gilirannya memperlemah rupiah.

Pelemahan rupiah kemudian memperburuk persepsi risiko, mengundang tekanan jual lanjutan, dan pada akhirnya memperdalam arus keluar modal asing.

“Ini adalah siklus yang bersifat self-reinforcing, dan arus keluar asing sebesar Rp 78 triliun adalah outcome, bukan cause, akar penyebabnya ada pada ketidakpastian kebijakan dan melemahnya keyakinan terhadap stabilitas makro ekonomi Indonesia,” pungkas Azharys

Azharys sendiri tidak akan menggunakan terminologi "krisis pasar modal" untuk menggambarkan kondisi saat ini, namun Indonesia perlu membaca sinyal penurunan pasar dengan sangat serius. Pasalnya, IHSG berfungsi sebagai leading indicator perekonomian.

“Koreksi mendalam ini adalah komunikasi pasar yang tidak boleh diabaikan,” katanya.

Yang paling dibutuhkan saat ini adalah sinyal kebijakan yang konkret dari pemerintah, efisiensi terhadap program-program berbiaya tinggi akan menciptakan ruang fiskal yang lebih lebar sekaligus memberikan pesan kehati-hatian yang dibutuhkan investor.

Lebih dari itu, pasar membutuhkan artikulasi sikap pemerintah yang jelas dan kredibel terhadap pelemahan rupiah serta derasnya arus keluar modal asing. Kepastian kebijakan adalah katalis pemulihan yang paling potensial pada titik ini.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #lebih #parah #dari #pandemi #covid #ihsg #ambles #persen #dari #puncaknya

KOMENTAR