Atur Keuangan Generasi Sandwich: Prioritaskan Orangtua, Anak, atau Pensiun?
Menjadi bagian dari generasi sandwich bukan sekadar menghadapi tantangan mengatur pengeluaran bulanan.
Banyak orang harus menjalani peran ganda, bahkan tiga sekaligus: membiayai kebutuhan anak, membantu orangtua yang memasuki usia lanjut, dan tetap menyiapkan masa pensiunnya sendiri.
Fenomena ini semakin banyak terjadi seiring meningkatnya usia harapan hidup, perubahan pola pernikahan, serta bertambah panjangnya masa ketergantungan anak terhadap orangtua.
Baca juga: Generasi Sandwich dan Beban Ekonomi Keluarga Modern
Ilustrasi generasi sandwich.
Kondisi tersebut membuat banyak keluarga berada dalam tekanan finansial yang tidak sederhana.
Dikutip dari Encyclopedia Britannica, Kamis (4/6/2026), istilah generasi sandwich merujuk pada kelompok orang yang berada “di tengah”, yakni menanggung kebutuhan orangtua dan anak pada waktu bersamaan.
Kelompok ini umumnya merupakan orang dewasa yang harus merawat atau membantu orangtua yang menua sekaligus membiayai anak-anak yang masih bergantung secara ekonomi.
Fenomena tersebut muncul karena masyarakat kini hidup lebih lama dan banyak orang memiliki anak pada usia yang lebih matang.
Baca juga: Aging Population dan Generasi Sandwich, Dua Fenomena yang Kini Bertemu
Akibatnya, ketika anak masih membutuhkan dukungan finansial, orangtua mereka sudah memasuki masa pensiun dan mulai memerlukan bantuan.
Di Indonesia, situasi tersebut juga diperkuat oleh norma budaya yang menganggap anak memiliki tanggung jawab membantu orangtua ketika memasuki usia lanjut.
Dalam banyak keluarga, dukungan finansial kepada orangtua masih dipandang sebagai bagian dari kewajiban keluarga.
Tekanan finansial dari dua arah
Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua.
Posisi generasi sandwich sering kali diibaratkan berada dalam himpitan dua kebutuhan besar sekaligus.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Beban Generasi Sandwich Membesar
Di satu sisi, mereka harus memenuhi biaya pendidikan, konsumsi, kesehatan, hingga kebutuhan masa depan anak. Di sisi lain, mereka juga harus membantu biaya hidup, pengobatan, atau kebutuhan harian orangtua.
Britannica menggambarkan fase ini sebagai periode ketika kebutuhan keluarga dapat dengan mudah melompati prioritas keuangan lain yang sebelumnya sudah direncanakan.
Kebutuhan orangtua maupun anak sering kali muncul secara bersamaan dan membutuhkan dana dalam jumlah besar.
Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan, tetapi juga waktu, kesehatan mental, dan perkembangan karier.
Penelitian dan berbagai kajian mengenai generasi sandwich menunjukkan bahwa kelompok ini rentan mengalami stres karena harus membagi perhatian, tenaga, dan sumber daya ke beberapa generasi sekaligus.
Bahkan, laporan Allianz Life yang dikutip Kiplinger menunjukkan 75 persen anggota generasi sandwich mengaku kesulitan mencapai tujuan keuangan mereka.
Sebanyak 70 persen menyatakan kondisi tersebut berdampak terhadap rencana pensiun, sementara 59 persen mengurangi atau menghentikan tabungan pensiun demi membantu keluarga.
Menentukan prioritas keuangan
Di tengah berbagai kebutuhan yang datang bersamaan, salah satu langkah paling penting adalah menentukan prioritas pengeluaran.
Baca juga: Survei Sun Life: 90 Persen Pekerja Indonesia Terjebak Sandwich Generation
Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.
Generasi sandwich disarankan memprioritaskan kebutuhan yang hanya bisa mereka biayai sendiri, yakni dana pensiun.
Orang yang berada dalam fase sandwich perlu memprioritaskan dana pensiun dan mulai membangun komunikasi terbuka dengan anggota keluarga mengenai kondisi keuangan masing-masing.
Langkah ini penting karena banyak orang cenderung menempatkan kebutuhan dirinya pada urutan terakhir setelah anak dan orangtua.
Padahal, mengabaikan persiapan masa pensiun berpotensi menciptakan siklus generasi sandwich yang berulang pada generasi berikutnya.
Baca juga: Dear Sandwich Generation, Nicholas Saputra Ingatkan Dana Darurat Nomor Satu
Kiplinger menyoroti, mengurangi tabungan pensiun dapat menghilangkan manfaat pertumbuhan dana jangka panjang dan efek compounding.
Akibatnya, seseorang berisiko memiliki kualitas hidup pensiun yang lebih rendah atau harus bekerja lebih lama.
Karena itu, menjaga kontribusi tabungan atau investasi jangka panjang tetap berjalan menjadi bagian penting dari strategi keuangan generasi sandwich.
Membuat anggaran yang lebih ketat
Tantangan utama generasi sandwich sering kali bukan sekadar kurangnya pendapatan, melainkan banyaknya pos pengeluaran yang harus ditanggung secara bersamaan.
Baca juga: Akhirnya Merdeka! Kisah Elisabeth Lepas dari Jerat Generasi Sandwich Berkat Atur Keuangan
Karena itu, penyusunan anggaran menjadi langkah mendasar.
Inilah pentingnya memahami seluruh pengeluaran rumah tangga, mulai dari biaya transportasi, makanan, pendidikan, hingga kebutuhan keluarga lainnya.
Pemahaman terhadap arus kas ini membantu keluarga mengetahui posisi keuangan sebenarnya dan menentukan prioritas yang paling mendesak.
Selain itu, pencatatan seluruh pemasukan dan pengeluaran merupakan langkah dasar yang sering diabaikan.
Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan.
Baca juga: Generasi Sandwich, Beban Ganda Perempuan Indonesia meski Finansial Lebih Aman
Padahal, pencatatan dapat menjadi alat evaluasi untuk melihat pengeluaran yang tidak penting dan mengendalikan konsumsi yang berlebihan.
Tak hanya itu, pendapatan dialokasikan lebih dulu untuk kebutuhan utama seperti cicilan, kebutuhan pokok, dan tabungan sebelum digunakan untuk pengeluaran konsumtif.
Menghindari utang yang membebani masa depan
Salah satu risiko terbesar yang dihadapi generasi sandwich adalah bertambahnya utang akibat kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
Meminjam dana untuk kebutuhan pendidikan anak dapat menciptakan beban utang yang bertahan hingga masa pensiun.
Baca juga: Apa Itu Generasi Sandwich: Ciri, Dampak, dan Strategi Mengatasinya
Karena itu, keluarga perlu mempertimbangkan secara matang keseimbangan antara kebutuhan pendidikan dan kemampuan keuangan jangka panjang.
Selain itu, generasi sandwich juga perlu menyadari pentingnya mengendalikan utang dan menghindari keputusan finansial yang hanya berfokus pada cicilan bulanan tanpa memperhitungkan biaya keseluruhan.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena generasi sandwich biasanya menghadapi berbagai kebutuhan besar secara bersamaan, mulai dari pendidikan anak, biaya kesehatan orangtua, hingga kebutuhan tempat tinggal.
Membuka komunikasi dengan keluarga
Masalah keuangan dalam keluarga sering kali menjadi topik yang sulit dibicarakan. Namun, berbagai pakar menilai komunikasi justru menjadi bagian penting dalam mengurangi tekanan generasi sandwich.
Baca juga: Prudential dan UOB Rilis Asuransi Jiwa untuk Generasi Sandwich
Orang yang dalam fase sandwich perlu memulai percakapan lebih awal dan tidak menganggap semua anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama mengenai kondisi keuangan.
Ilustrasi keluarga.
Setiap anggota keluarga memiliki prioritas dan kebutuhan yang berbeda.
Mengutip The Times, penting juga untuk melakukan diskusi terbuka mengenai biaya perawatan orangtua, aset keluarga, warisan, hingga kebutuhan masa depan anak.
Komunikasi yang lebih terbuka dinilai dapat membantu pembagian tanggung jawab yang lebih adil di dalam keluarga.
Baca juga: Orangtua, Persiapkan Hal Ini agar Anak Tak Jadi Generasi Sandwich
Dalam banyak kasus, anak yang sudah dewasa juga perlu mulai diajak memahami kondisi keuangan keluarga dan belajar mengambil tanggung jawab atas sebagian kebutuhannya sendiri.
Mengajarkan kemandirian finansial kepada anak
Salah satu cara mengurangi tekanan finansial jangka panjang adalah membantu anak membangun kemandirian sejak dini.
Britannica menyarankan orangtua untuk mengajarkan keterampilan keuangan kepada anak melalui pengalaman langsung, seperti bekerja paruh waktu, mengelola anggaran, serta memahami berbagai biaya kehidupan sehari-hari.
Anak juga perlu dikenalkan pada konsep pengeluaran rumah tangga agar memiliki gambaran yang realistis mengenai tanggung jawab finansial.
Baca juga: Memutus Rantai Generasi Sandwich, BPJS Ketenagakerjaan Bisa Jadi Solusi
Ketika anak mulai memasuki usia dewasa dan membangun kehidupannya sendiri, orangtua juga perlu menentukan batas antara membantu dan terlalu banyak menanggung kebutuhan mereka. Pada titik tertentu orangtua perlu memberi ruang agar anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Langkah tersebut tidak hanya membantu anak memahami pengelolaan uang, tetapi juga mencegah beban finansial keluarga terus berlanjut hingga bertahun-tahun.
Menyiapkan masa tua agar tidak menjadi beban generasi berikutnya
Di balik seluruh strategi pengelolaan keuangan generasi sandwich, terdapat satu tujuan yang terus ditekankan oleh berbagai pakar, yakni memutus siklus ketergantungan antargenerasi.
Ilustrasi generasi sandwich.
Mereka yang telah melewati fase sandwich perlu berupaya agar tidak menjadi beban finansial anak-anaknya di masa depan.
Baca juga: Kominfo: Tapera Bantu Generasi Sandwich Punya Rumah
Jika memungkinkan, mereka justru dapat membantu meringankan beban generasi berikutnya, baik melalui dukungan finansial maupun bantuan nonkeuangan.
Karena itu, menyiapkan dana pensiun, memiliki tabungan darurat, mengelola utang dengan hati-hati, dan membangun komunikasi keluarga menjadi bagian penting dari strategi keuangan jangka panjang.
Bagi generasi sandwich, tantangannya memang tidak ringan.
Namun berbagai panduan keuangan menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran yang disiplin, penentuan prioritas yang jelas, serta persiapan pensiun yang konsisten dapat membantu menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan keluarga hari ini dan menjaga keamanan finansial pada masa mendatang.
Tag: #atur #keuangan #generasi #sandwich #prioritaskan #orangtua #anak #atau #pensiun