Imbal Hasil Obligasi Jepang Melonjak ke Level Tertinggi 40 Tahun, Ini Pendongkraknya
- Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak menjadi 2,809 persen pada 20 Mei 2026, level tertinggi sejak 1996.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Jepang setelah pemerintah menyiapkan anggaran tambahan untuk membantu masyarakat menghadapi tingginya biaya hidup.
Pasar menyoroti langkah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang tengah menyusun anggaran tambahan senilai sekitar 3 triliun yen atau setara 19 miliar dollar AS.
Paket tersebut ditujukan untuk meredam dampak kenaikan harga energi, meningkatnya kebutuhan subsidi, serta pelemahan nilai tukar yen.
Baca juga: Obligasi Korporasi Mulai Rasakan Dampak Kenaikan Yield SBN
Namun, rencana tersebut memunculkan keraguan karena Takaichi sebelumnya menyatakan tambahan belanja negara tidak diperlukan.
Di saat yang sama, pemerintah juga menegaskan total penerbitan obligasi sepanjang tahun kalender 2026 tidak akan berubah dari target yang telah ditetapkan dalam anggaran awal.
Keraguan pasar semakin menguat setelah muncul laporan bahwa pemerintah kemungkinan harus menerbitkan utang baru untuk membiayai tambahan belanja tersebut.
Investor menilai sulit bagi pemerintah meningkatkan pengeluaran tanpa menambah beban utang.
Direktur Ahli Monex Group, Jesper Koll, mengatakan, pasar obligasi tidak mudah menerima narasi bahwa belanja pemerintah dapat bertambah tanpa konsekuensi terhadap pembiayaan negara.
“Pasar obligasi mungkin memiliki banyak karakteristik, tetapi mereka tidak bodoh,” kata Koll seperti dikutip dari CNBC, Senin (1/6/2026).
“Anda tidak bisa meningkatkan belanja tanpa menambah utang,” tambahnya.
Selain yield obligasi tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam hampir tiga dekade, yield obligasi tenor 30 tahun Jepang juga telah menembus 4 persen.
Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan tekanan inflasi di negara tersebut.
Menurut Koll, salah satu hal yang menimbulkan tanda tanya adalah penggunaan tahun kalender sebagai acuan target penerbitan obligasi pemerintah.
“Tidak pernah ada kebijakan di Jepang yang disusun berdasarkan tahun kalender,” kata Koll.
“Jika ada sinyal peringatan, maka ini adalah salah satunya,” lanjutnya.
Analis Riset Ekuitas Asia Julius Baer, Louis Chua, menilai sejumlah faktor eksternal turut memperburuk sentimen pasar obligasi Jepang. Ketidakpastian yang masih berlangsung di Timur Tengah, tingginya harga komoditas, dan meningkatnya kebutuhan subsidi energi dinilai menambah tekanan terhadap posisi fiskal pemerintah.
“Perkembangan terbaru, termasuk ketidakpastian yang berlanjut di Timur Tengah, harga komoditas yang masih tinggi, dan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar, telah berkontribusi terhadap kekhawatiran pasar obligasi mengenai posisi fiskal Jepang tahun ini,” kata Chua.
Koll menambahkan, pasar kemungkinan akan lebih mudah menerima apabila pemerintah secara terbuka mengakui kebutuhan pembiayaan baru melalui penerbitan obligasi.
“Untuk skenario pertama, pasar akan percaya. Untuk skenario kedua, tidak ada yang percaya,” ujarnya, merujuk pada perbedaan antara pengumuman tambahan belanja yang secara jelas dibiayai utang dan janji pemerintah untuk tidak menambah penerbitan obligasi.
Meski pasar obligasi menunjukkan kekhawatiran, sejumlah ekonom masih memandang prospek ekonomi Jepang cukup positif.
Ekonom Asia Pasifik State Street Investment Management, Krishna Bhimavarapu, mengatakan, anggaran tambahan tersebut lebih merupakan upaya perlindungan bagi rumah tangga yang terdampak kenaikan biaya energi dibandingkan stimulus ekonomi berskala besar.
“Hal itu masih sejalan dengan filosofi Perdana Menteri Takaichi dan bukan upaya mendorong lonjakan permintaan secara besar-besaran,” kata Bhimavarapu.
Data terbaru menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, sementara PDB riil meningkat 0,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Ekspor Jepang juga naik 14,8 persen pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong kuatnya permintaan semikonduktor dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, pasar obligasi tampaknya mulai memperhitungkan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi, kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), serta bertambahnya pasokan obligasi pemerintah dalam waktu mendatang.
Sementara itu, nilai tukar yen masih bertahan di kisaran 160 yen per dollar AS, level yang selama ini dianggap rawan memicu intervensi pemerintah di pasar valuta asing.
Baca juga: Investor Waspada Gejolak Global, Pasar Obligasi RI Masih Menarik
Tag: #imbal #hasil #obligasi #jepang #melonjak #level #tertinggi #tahun #pendongkraknya