Saat Penduduk Indonesia Menua, Apa yang Terjadi pada Ekonomi?
Ilustrasi populasi dunia(Image credit: Ryoji Iwata/Unsplash)
13:16
26 Mei 2026

Saat Penduduk Indonesia Menua, Apa yang Terjadi pada Ekonomi?

Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, suatu negara dikategorikan memasuki fase aging population ketika proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas telah mencapai minimal 10 persen.

Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Lansia Tembus 11,97 Persen

Ilustrasi lansia  Getty Images Ilustrasi lansia

"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk atau ageing population," ujar Amalia dalam rilis hasil SUPAS 2025, awal Mei 2026.

Fenomena ini menandai perubahan struktur demografi Indonesia.

Jumlah penduduk usia muda mulai menyusut, sementara populasi lansia terus meningkat. Pada saat yang sama, angka kelahiran juga terus menurun mendekati replacement level.

SUPAS 2025 mencatat total fertility rate (TFR) Indonesia berada di level 2,13 atau semakin mendekati angka pengganti populasi sebesar 2,1 anak per perempuan.

Baca juga: Bonus Demografi Harus Diimbangi Investasi SDM, Bukan Hanya Angka Populasi

Di sisi lain, kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun masih mendominasi dengan porsi 68,94 persen dari total populasi.

Meski Indonesia masih menikmati bonus demografi, tren penuaan penduduk mulai terlihat kuat, terutama di wilayah Jawa dan Bali.

Sebanyak 16 provinsi telah memasuki fase ageing population, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi dengan persentase lansia tertinggi sebesar 17,83 persen.

Perubahan komposisi penduduk ini bukan sekadar persoalan demografi.

Ilustrasi penduduk Jakarta. Dok. UNSPLASH/Mufid Majnun Ilustrasi penduduk Jakarta.

Baca juga: 100 Orang Penduduk Usia Produktif RI Menanggung 45 Orang Usia Nonproduktif

Sejumlah penelitian menunjukkan, meningkatnya jumlah lansia dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, pola konsumsi rumah tangga, hingga beban fiskal negara.

Produktivitas dan pertumbuhan ekonomi melambat

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2025 berjudul The Rise of the Silver Economy: Global Implications of Population Aging menyebutkan penuaan populasi menjadi salah satu perubahan demografi terbesar yang dihadapi dunia.

IMF menilai penurunan angka kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup akan mengubah struktur penduduk global secara signifikan.

"Penuaan penduduk sering dikaitkan dengan prospek suram bagi pertumbuhan ekonomi dan keuangan publik," tulis IMF dalam laporan tersebut.

Baca juga: BPS: Jumlah Penduduk Indonesia 284,67 Juta, Mayoritas di Pulau Jawa

Menurut IMF, peningkatan populasi lansia dapat menekan pasokan tenaga kerja, memperlambat pertumbuhan produktivitas, dan meningkatkan tekanan terhadap sistem pensiun serta pembiayaan kesehatan.

IMF memproyeksikan pertumbuhan output global akan melambat signifikan sepanjang abad ke-21 akibat perubahan struktur demografi.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi global pada 2025-2050 diperkirakan turun 1,1 poin persentase dibandingkan rata-rata periode 2016-2018. 

Laporan IMF juga menyebutkan tren demografi diperkirakan menyumbang hampir tiga perempat perlambatan pertumbuhan ekonomi global tersebut. 

Baca juga: Lebih dari Separuh Penduduk Miskin Indonesia Ada di Pulau Jawa

Salah satu dampak yang paling sering dibahas dalam berbagai penelitian mengenai aging population adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Penelitian berjudul The Effect of Population Aging on Economic Growth yang diterbitkan Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) menemukan, peningkatan populasi lansia berdampak terhadap penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita.

Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.Freepik/jcomp Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.

Dalam penelitian tersebut disebutkan, setiap kenaikan 10 persen populasi berusia 60 tahun ke atas dapat menurunkan PDB per kapita sebesar 5,7 persen.

Peneliti Nicholas Maestas dan timnya menyebutkan perlambatan itu terutama dipengaruhi penurunan pasokan tenaga kerja.

Baca juga: BPJS Kesehatan Sebut Peserta Program JKN Capai 98,62 Persen dari Penduduk RI

"Penurunan pertumbuhan ekonomi akibat penuaan penduduk terutama disebabkan oleh penurunan pertumbuhan pasokan tenaga kerja," jelas Maestas dan timnya.

Selain jumlah tenaga kerja yang berkurang, penelitian itu juga menemukan adanya perlambatan produktivitas tenaga kerja.

Perlambatan produktivitas bahkan disebut memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan penurunan jumlah pekerja.

Temuan serupa juga muncul dalam riset National Bureau of Economic Research (NBER). Penelitian itu memperkirakan peningkatan populasi lansia menyebabkan penurunan produktivitas dan pertumbuhan upah.

Baca juga: BGN Klaim Penerima Manfaat MBG Lampaui Jumlah Penduduk Korea Selatan dan 2 Kali Australia

Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi negara yang pertumbuhan ekonominya masih sangat bergantung pada tenaga kerja produktif.

Bagi Indonesia, perubahan struktur usia penduduk berpotensi memengaruhi pasar tenaga kerja dalam jangka panjang.

Ketika jumlah pekerja usia muda semakin sedikit, perusahaan dapat menghadapi keterbatasan tenaga kerja produktif.

Di sisi lain, rasio ketergantungan juga mulai meningkat. SUPAS 2025 mencatat rasio ketergantungan Indonesia berada di angka 45,05.

Baca juga: BPS: IKN Nusantara Punya Penduduk Berusia 108 Tahun, Lahir di Penghujung Perang Dunia I

Ilustrasi pekerja.Dok. Freepik/pressfoto Ilustrasi pekerja.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk nonproduktif.

Beban perlindungan sosial meningkat

Selain berdampak terhadap pasar tenaga kerja, aging population juga meningkatkan kebutuhan belanja negara untuk perlindungan sosial dan kesehatan.

Penelitian bertajuk Impact of an Ageing Population on the Economy menyebutkan kenaikan age dependency ratio atau rasio ketergantungan lansia berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita.

Penelitian tersebut menemukan peningkatan rasio ketergantungan usia lanjut dapat menurunkan pendapatan per kapita sekitar 4,1 persen.

Baca juga: BPS: Penduduk IKN Nusantara Capai 147.430 Jiwa, Didominasi GenZ dan Milenial

Riset itu juga menyoroti bagaimana ageing population meningkatkan tekanan terhadap sistem perlindungan sosial, terutama dana pensiun dan layanan kesehatan.

Semakin besar populasi lansia, semakin besar pula kebutuhan pembiayaan kesehatan dan jaminan sosial. Pada saat yang sama, basis pembayar pajak produktif dapat menyusut.

Dalam sejumlah negara maju, tekanan fiskal akibat ageing population sudah mulai terlihat melalui peningkatan anggaran pensiun dan kesehatan.

Fenomena serupa berpotensi muncul di Indonesia seiring meningkatnya jumlah lansia dari tahun ke tahun.

Baca juga: Rokok dan Kemiskinan Penduduk RI

BPS dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 juga menyoroti pentingnya sistem perlindungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia.

"Penuaan penduduk membawa implikasi penting terhadap penyediaan layanan sosial, kesehatan, dan sistem perlindungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia," tulis BPS.

SUPAS 2025 juga menunjukkan sebagian besar lansia Indonesia masih bergantung pada keluarga sebagai sumber utama penghidupan.

Data BPS menunjukkan 48,56 persen lansia memperoleh sumber pendapatan atau barang dari keluarga, baik pasangan, anak, maupun kerabat.

Baca juga: 10 Provinsi dengan Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak di Indonesia

Kondisi ini memperlihatkan bahwa beban ekonomi akibat penuaan penduduk tidak hanya ditanggung negara, tetapi juga keluarga.

Pola konsumsi masyarakat ikut berubah

Peningkatan jumlah penduduk lansia juga dapat mengubah pola konsumsi masyarakat.

Dalam berbagai studi mengenai aging population, kelompok lansia cenderung memiliki pola pengeluaran berbeda dibandingkan kelompok usia muda.

Pengeluaran rumah tangga biasanya bergeser ke kebutuhan kesehatan, perawatan, obat-obatan, dan layanan sosial.

Baca juga: Konsumsi Sawit RI Kalahkan India-China Meski Penduduk Lebih Kecil

Sebaliknya, konsumsi untuk sektor tertentu seperti properti, pendidikan, hingga barang konsumsi tahan lama berpotensi melambat seiring menurunnya populasi usia muda.

Perubahan pola konsumsi ini pada akhirnya dapat memengaruhi struktur industri dan arah pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah negara mulai melihat munculnya silver economy atau ekonomi berbasis kebutuhan lansia, mulai dari layanan kesehatan, asuransi, perawatan jangka panjang, hingga produk dan layanan ramah lansia.

Namun, perkembangan ekonomi berbasis lansia juga membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sistem perlindungan sosial yang memadai.

Baca juga: 9,03 Persen Penduduk RI Masih Miskin, BPS: Terendah dalam 2 Dekade

Risiko muncul sebelum negara kaya

Ilustrasi ramai penduduk.UNSPLASH/NICO BHLR Ilustrasi ramai penduduk.

Tantangan aging population menjadi perhatian karena Indonesia menghadapi fase penuaan penduduk saat tingkat pendapatan per kapitanya masih berada di kelompok negara berkembang.

Fenomena ini sering disebut sebagai aging before becoming rich, yakni kondisi ketika populasi menua lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi negara.

Dalam sejumlah studi internasional mengenai population aging, kondisi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah karena kebutuhan belanja sosial meningkat ketika kapasitas penerimaan negara belum terlalu kuat.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga berpotensi tertahan apabila produktivitas tidak meningkat cukup cepat untuk menggantikan penurunan jumlah tenaga kerja.

Baca juga: Menkop Sebut Separuh Jumlah Penduduk Desa Bisa Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Penelitian Stanford Institute for Economic Policy Research menyebutkan dampak penuaan penduduk terhadap ekonomi tidak hanya berasal dari berkurangnya jumlah pekerja, tetapi juga perlambatan produktivitas.

Penelitian tersebut menemukan sekitar dua pertiga dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi berasal dari melambatnya produktivitas tenaga kerja.

Artinya, tantangan ageing population bukan hanya soal jumlah penduduk produktif, tetapi juga kemampuan ekonomi menghasilkan output yang lebih tinggi.

Indonesia masih berada dalam masa transisi

Meski telah memasuki fase aging population, Indonesia saat ini masih berada dalam periode transisi demografi.

Baca juga: Bank Dunia Ubah Standar Garis Kemiskinan, Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Naik Jadi 194,6 Juta Jiwa

Kelompok usia produktif masih mendominasi populasi nasional dan bonus demografi masih berlangsung. Namun, tren penuaan penduduk diperkirakan terus berlanjut dalam beberapa dekade ke depan.

Ilustrasi masyarakat di stasiun kereta api.DOK. KAI Ilustrasi masyarakat di stasiun kereta api.

BPS mencatat proporsi lansia Indonesia meningkat konsisten dalam 15 tahun terakhir. Pada 2010, persentase lansia berada di level 7,59 persen.

Angka itu naik menjadi 8,47 persen pada 2015, kemudian mencapai 9,93 persen pada 2020, dan menembus 11,97 persen pada 2025.

Peningkatan angka harapan hidup dan penurunan tingkat kelahiran menjadi faktor utama perubahan struktur penduduk tersebut.

Baca juga: Data Bank Dunia: 60,3 Persen Penduduk Indonesia Hidup Miskin

Dalam berbagai kajian ekonomi, ageing population sebenarnya tidak selalu dipandang sepenuhnya negatif.

Lansia yang sehat dan tetap produktif masih dapat berkontribusi terhadap ekonomi.

Namun, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa tanpa peningkatan produktivitas dan kesiapan sistem sosial, perubahan struktur penduduk dapat menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Bagi Indonesia, fase aging population menjadi penanda bahwa persoalan demografi kini semakin berkaitan erat dengan isu ketenagakerjaan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Tag:  #saat #penduduk #indonesia #menua #yang #terjadi #pada #ekonomi

KOMENTAR