CEO Starbucks Korsel Dipecat usai Promosi Picu Kemarahan Publik
Starbucks Korsel larang pelanggannya bawa PC dan Printer(Starbuck Stories)
12:56
19 Mei 2026

CEO Starbucks Korsel Dipecat usai Promosi Picu Kemarahan Publik

CEO Starbucks Korea, Sohn Jeong hyun, dipecat setelah kampanye promosi perusahaan memicu kontroversi besar di Korea Selatan.

Promosi bertajuk “Tank Day” itu dinilai publik menyinggung tragedi berdarah Pemberontakan Gwangju 1980, salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.

Kampanye diluncurkan pada Senin, bertepatan dengan peringatan penumpasan demonstrasi pro demokrasi di Gwangju pada 18 Mei 1980.

Banyak warga menilai penggunaan kata “tank” dalam promosi tersebut merujuk pada kendaraan militer yang digunakan rezim saat itu untuk menumpas demonstran sipil.

Kontroversi langsung meluas di media sosial dan memicu seruan boikot terhadap Starbucks Korea.

Baca juga: Starbucks Bakal PHK 300 Karyawan dan Tutup Kantor Regional

Starbucks Korea kemudian menghentikan promosi hanya beberapa jam setelah diluncurkan.

Shinsegae Group, konglomerasi Korea Selatan yang menjadi pemegang saham mayoritas Starbucks Korea, lalu menyampaikan permintaan maaf terbuka dan memecat CEO perusahaan.

Dalam kampanye tersebut, Starbucks mempromosikan seri gelas minuman bernama “Tank Series”.

Perusahaan menyebut istilah “Tank” dipakai karena ukuran gelas yang besar dan mampu menampung lebih banyak kopi.

Media lokal melaporkan promosi itu awalnya menjadi bagian dari kampanye tumbler yang berlangsung pada 15 hingga 26 Mei.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan dan kekhawatiran yang ditimbulkan kepada pelanggan kami karena hal ini,” kata Starbucks Korea.

“Kami segera menangguhkan acara tersebut dan akan meninjau serta meningkatkan proses internal kami untuk mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang,” lanjut perusahaan.

Baca juga: Starbucks Rekrut Eks Eksekutif Amazon sebagai CTO Baru

Presiden Korea Selatan ikut marah

Kontroversi tersebut bahkan memicu kemarahan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.

Lee menilai kampanye itu menghina korban tragedi Gwangju dan perjuangan demokrasi Korea Selatan.

“Apa yang mereka pikirkan, mengetahui berapa banyak nyawa yang melayang hari itu dan betapa seriusnya hal itu merusak keadilan dan sejarah negara kita?” tulis Lee di platform X.

“Saya marah dengan perilaku tidak manusiawi pedagang kelas rendah seperti itu, yang mengingkari nilai nilai dasar hak asasi manusia dan demokrasi negara kita,” lanjut dia.

Pemberontakan Gwangju terjadi pada Mei 1980 ketika warga sipil dan mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut demokrasi setelah militer mengambil alih kekuasaan.

Rezim militer Chun Doo hwan kemudian mengirim pasukan bersenjata untuk membubarkan aksi tersebut.

Ratusan demonstran dilaporkan tewas dalam penumpasan itu.

Investigasi lanjutan juga menemukan kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dilakukan aparat militer terhadap warga sipil.

Peristiwa Gwangju kini dikenang sebagai simbol perjuangan demokrasi Korea Selatan dan diperingati setiap tahun sebagai hari penting nasional.

Gerakan tersebut juga menjadi pemicu gelombang perjuangan pro demokrasi yang akhirnya menggulingkan rezim Chun pada 1987.

Frasa lain ikut dipersoalkan

Kontroversi Starbucks tidak berhenti pada penggunaan kata “Tank Day”.

Sebagian warga juga menyoroti slogan promosi berbahasa Korea yang berbunyi “tak di atas meja”.

Kata “tak” dianggap sensitif karena mengingatkan publik pada pernyataan polisi pada 1987 terkait kematian aktivis mahasiswa dalam tahanan.

Saat itu polisi mengklaim mahasiswa tersebut meninggal setelah seorang penyidik membanting meja dengan keras.

Belakangan terungkap korban meninggal akibat penyiksaan selama interogasi.

Karena itu, sebagian publik menilai kampanye Starbucks seolah menyinggung dua trauma sejarah sekaligus, yakni tragedi Gwangju 1980 dan gerakan demokrasi 1987.

Ketua Shinsegae Group, Chung Yong jin, menyebut kampanye tersebut sebagai kesalahan serius.

“Kesalahan yang tidak dapat dimaafkan yang meremehkan penderitaan dan pengorbanan semua orang yang telah mengabdikan diri pada demokrasi negara ini,” kata Chung.

Ia berjanji menyelidiki proses persetujuan kampanye tersebut dan mengevaluasi ulang sistem peninjauan materi pemasaran di seluruh grup perusahaan.

Starbucks Coffee Company yang berbasis di Amerika Serikat kini tidak lagi terlibat langsung dalam operasional Starbucks Korea.

Sejak 2021, mayoritas saham Starbucks Korea dimiliki anak usaha Shinsegae Group, E mart, sebesar 67,5 persen.

Sisanya dimiliki sovereign wealth fund atau dana investasi negara Singapura, Government of Singapore Investment Corporation (GIC).

Tag:  #starbucks #korsel #dipecat #usai #promosi #picu #kemarahan #publik

KOMENTAR