OJK: Risiko Perbankan Tetap Terkendali Meski Rupiah Tertekan
Ilustrasi bank. Bank terbesar di dunia.(SHUTTERSTOCK/ANTON_AV)
13:32
18 Mei 2026

OJK: Risiko Perbankan Tetap Terkendali Meski Rupiah Tertekan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang kinerja perbankan nasional pada 2026 masih akan tetap solid di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.

Meski demikian, sejumlah tantangan dinilai tetap membayangi industri perbankan, mulai dari ketidakpastian global, tekanan nilai tukar rupiah, hingga potensi lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, secara umum kondisi perbankan nasional masih berada dalam kondisi baik dengan profil risiko yang tetap terjaga.

Baca juga: Perbankan Syariah RI Makin Moncer, Pembiayaan Capai Rp 716 Triliun

“Kami memandang bahwa kinerja perbankan secara umum akan tetap solid dengan profil risiko terjaga serta fungsi intermediasi yang berjalan baik,” ujar Dian dalam jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, dikutip pada Senin (18/5/2026).

Menurut dia, struktur permodalan perbankan saat ini juga masih cukup kuat untuk menjadi bantalan mitigasi risiko dalam menghadapi berbagai ketidakpastian, baik yang berasal dari faktor global maupun domestik.

“Struktur permodalan perbankan saat ini juga cukup kuat menjadi bantalan mitigasi risiko dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian baik yang berasal dari global maupun domestik,” katanya.

Ketidakpastian global masih membayangi

Meski optimistis terhadap ketahanan industri perbankan, OJK mengakui perkembangan situasi global dan domestik masih akan memengaruhi kinerja sektor keuangan nasional sepanjang tahun ini.

Baca juga: Pembiayaan Industri Perbankan Syariah Tumbuh 9,82 Persen, Aset Tembus Rp 1.061 Triliun

Ilustrasi kredit, kredit perbankan. SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO Ilustrasi kredit, kredit perbankan.

Dian menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dan iklim investasi.

Karena itu, perlambatan ekonomi global maupun gejolak pasar keuangan berpotensi memengaruhi laju intermediasi perbankan.

“Namun demikian, kami menyadari bahwa dinamika perkembangan situasi global dan domestik diperkirakan akan tetap mewarnai kinerja perbankan Indonesia, mengingat laju pertumbuhan kredit juga sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi perekonomian serta iklim investasi,” ucapnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, OJK menilai diperlukan sinergi berkelanjutan antara otoritas dan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat fundamental perekonomian nasional sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan.

Baca juga: Menguji Ketangguhan Perbankan Syariah di Tengah Ketidakpastian Global

“Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan sinergi yang berkelanjutan antarotoritas dan pemangku kepentingan untuk memperkuat fundamental perekonomian dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” tutur Dian.

Menurut dia, langkah tersebut penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar penyaluran kredit tetap berlangsung secara sehat dan prudent.

“Upaya tersebut ditujukan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga penyaluran kredit perbankan dapat berlangsung secara sehat, prudent, dan memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

OJK rutin lakukan stress test

Di tengah tekanan global dan fluktuasi nilai tukar rupiah, OJK menyatakan terus melakukan pemantauan ketahanan industri perbankan melalui stress test secara rutin.

Baca juga: Saham Perbankan Bangkit, Harga Sentuh Level Tertinggi Sepekan

Dian mengatakan, stress test dilakukan untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko yang muncul akibat perubahan kondisi ekonomi, pasar keuangan, maupun situasi politik global dan domestik.

Ilustrasi bank.FREEPIK/PCH.VECTOR Ilustrasi bank.

“Dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global serta perkembangan nilai tukar rupiah, OJK secara rutin melakukan stress test,” kata Dian.

Selain dilakukan regulator, perbankan juga diminta melakukan stress test secara mandiri dengan berbagai skenario yang relevan terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan.

“Selain yang dilakukan OJK, perbankan juga secara rutin melakukan stress test secara mandiri menggunakan skenario terkait situasi perekonomian, pasar keuangan, dan politik global maupun domestik,” ujarnya.

Baca juga: Kredit Perbankan Tumbuh 8,9 Persen pada Maret 2026, Modal Kerja dan Investasi Jadi Penopang

Menurut dia, langkah tersebut memungkinkan bank melakukan identifikasi dini terhadap potensi risiko serta menyiapkan langkah mitigasi yang tepat.

“Dengan demikian, bank dapat mengidentifikasi secara dini kondisi yang perlu menjadi perhatian serta menyiapkan mitigasi risiko yang tepat dan terukur, termasuk antisipasi imbasnya baik terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan,” ucap Dian.

Hasil stress test yang dilakukan OJK maupun perbankan sejauh ini menunjukkan kondisi permodalan industri perbankan masih memadai untuk menghadapi perubahan signifikan pada kondisi makroekonomi nasional.

“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: BI: Kredit Konsumsi Jadi Mesin Pertumbuhan Kredit Perbankan

Konflik Timur Tengah dinilai berpotensi tekan ekonomi

Selain ketidakpastian ekonomi global, OJK juga menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Dian mengatakan, konflik tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian global maupun domestik, terutama jika mengganggu rantai pasok energi dunia.

“Kita memahami bahwa dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah memang berpotensi memiliki dampak terhadap perekonomian global maupun domestik,” kata Dian.

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.

Menurut dia, gangguan terhadap jalur distribusi energi global dapat memicu disrupsi harga dan pasokan komoditas energi serta memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Baca juga: BBM Naik, Rupiah Melemah: Kualitas Pembiayaan Perbankan Perlu Diwaspadai

“Hal tersebut utamanya dipicu antara lain oleh terganggunya jalur distribusi (supply chain) energi global (Selat Hormuz), sehingga berpotensi mendisrupsi baik harga maupun supply komoditas energi hingga stabilitas perekonomian global,” ujarnya.

Dian menjelaskan, dampak tidak langsung terhadap industri perbankan nasional dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit.

“Dampak tidak langsung ke perbankan Indonesia dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit,” katanya.

Dari sisi risiko pasar, volatilitas pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar dinilai dapat memengaruhi kinerja portofolio keuangan bank, terutama bagi bank yang memiliki eksposur liabilitas valuta asing cukup besar.

Baca juga: Siap Dukung Program Prioritas Pemerintah, Perbankan Swasta Jamin Tetap Jaga Independensi Bisnis

“Dari sisi risiko pasar, meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global serta tekanan terhadap nilai tukar dapat mempengaruhi kinerja portfolio keuangan perbankan, khususnya bagi yang memiliki eksposur besar pada liabilitas valuta asing,” terang Dian.

Sementara itu, dari sisi risiko kredit, lonjakan harga energi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi dunia usaha sehingga berdampak pada profitabilitas perusahaan dan kemampuan bayar debitur.

“Sementara itu, dari risiko kredit, kenaikan harga energi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur, serta daya beli masyarakat,” katanya.

Rasio permodalan bank capai 25,09 persen

Ilustrasi bank.SHUTTERSTOCK/CREATIVE LAB Ilustrasi bank.

Meski menghadapi berbagai risiko global, OJK menilai kondisi industri perbankan nasional masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang tetap tinggi.

Baca juga: BI Rate Diprediksi Ditahan, Ini Saham Perbankan yang Menarik Dikoleksi

“Namun demikian, di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, kinerja perbankan Indonesia secara umum tetap solid dengan profil risiko terjaga serta fungsi intermediasi yang berjalan baik,” ujar Dian.

Ia mengatakan, permodalan perbankan saat ini juga masih cukup kuat untuk menyerap potensi risiko akibat ketidakpastian global.

“Permodalan perbankan juga dipandang masih cukup kuat untuk menjadi bantalan mitigasi risiko dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” katanya.

Pada Maret 2026, rasio CAR perbankan tercatat sebesar 25,09 persen. Angka tersebut dinilai menunjukkan ketahanan modal industri perbankan masih berada pada level tinggi.

Baca juga: PNM Jadi Bank UMKM: Tantangan Perbankan Mengungkit Ekonomi Rakyat

“Pada Maret 2026, kinerja permodalan perbankan terjaga tinggi tecermin dari rasio CAR sebesar 25,09 persen,” ujar Dian.

Sementara itu, kualitas kredit juga dinilai tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di bawah 3 persen.

“Lebih lanjut, risiko kredit perbankan juga tetap terjaga dengan baik, tecermin dari rasio NPL di bawah 3 persen sebesar 2,14 persen serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil,” katanya.

Stress test masukkan skenario harga energi

Dian mengatakan, OJK dan perbankan juga memasukkan dinamika harga energi sebagai salah satu skenario dalam pelaksanaan stress test industri perbankan.

Baca juga: Risiko Pelibatan Perbankan dalam MBG

“Selanjutnya untuk mengukur ketahanan bank dalam menghadapi berbagai potensi shocks makroekonomi, OJK dan perbankan masing-masing melakukan stress test secara rutin menggunakan skenario terkait situasi perekonomian, pasar keuangan, dan politik global maupun domestik, termasuk dinamika harga energi,” ujarnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).ANTARA/Rizka Khaerunnisa Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, kondisi permodalan bank masih dinilai cukup memadai untuk menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia, antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah, maupun peningkatan suku bunga yang mempengaruhi penurunan nilai aset perbankan,” ungkap Dian.

Selain melakukan pengawasan terhadap industri jasa keuangan, OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“OJK juga senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah serta pemangku kepentingan terkait, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan,” ujar Dian.

Tag:  #risiko #perbankan #tetap #terkendali #meski #rupiah #tertekan

KOMENTAR