Rupiah Anjlok ke 17.600 per Dollar AS, Industri RI Tertekan dan PHK Mengintai
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) menekan sejumlah industri nasional, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Tekanan kurs membuat biaya produksi berisiko naik. Peluang efisiensi tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) juga ikut terbuka.
Nilai tukar rupiah di pasar spot anjlok ke posisi Rp 17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda melemah 71 poin atau 0,41 persen.
Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa: Gaji Naik Kecil, Harga Kebutuhan Melonjak...
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengatakan industri tekstil menjadi salah satu sektor yang rentan. Sebagian besar bahan baku sektor tersebut masih berasal dari luar negeri. Kenaikan kurs dolar AS pun langsung menambah biaya produksi.
Tekanan serupa juga akan terasa pada industri bahan kimia. Sektor ini masih bergantung pada impor bahan baku. Biaya operasional perusahaan pun berisiko meningkat saat rupiah melemah.
“Pertama ya, itu kan bahan baku penolong buat industri. Yang industri tekstil. Itu kan bahan bakunya itu sebagai besar impor. Kemudian industri bahan kimia ini juga terdampak bahan bakunya impor,” ujar Tauhid saat dihubungi Kompas.com.
Industri farmasi atau obat-obatan juga ikut tertekan pelemahan rupiah. Mayoritas bahan baku sektor tersebut masih berasal dari luar negeri.
Sektor otomotif ikut menghadapi tekanan, terutama kendaraan yang belum diproduksi di Indonesia. Harga jualnya berpotensi naik seiring pelemahan rupiah.
“Mungkin itu terdampak sebagai. Kemudian industri obat-obatan itu sebagai besar impor. Termasuk juga kendaraan otomotif yang tidak diproduksi di Indonesia masih ikut naik,” paparnya.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.600, DPR Ingatkan Risiko Harga Naik
Menurut Tauhid, kenaikan biaya bahan baku impor pada industri tekstil dan sektor manufaktur lain akan mendorong penyesuaian harga produk di pasar.
“Kalau makanan, minuman, rasanya tidak terlalu ya untuk domestik, tapi yang lain saya kira akan terdampak. Saya kira mungkin itu yang terdampak,” beber Tauhid.
Tauhid menilai sektor makanan dan minuman relatif lebih tahan terhadap gejolak kurs. Sektor ini lebih banyak bertumpu pada pasar domestik dan bahan baku lokal.
Meski begitu, sebagian besar sektor industri lain tetap terdampak pelemahan rupiah. Industri besi dan baja termasuk sektor yang ikut tertekan karena masih memakai bahan baku impor untuk proses produksi.
Situasi tersebut membuka peluang efisiensi di berbagai sektor industri, termasuk efisiensi tenaga kerja. Perusahaan akan berupaya menekan beban operasional agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.
“Punya peluang untuk terjadi efisiensi,” kata dia.
Besaran dampak efisiensi akan berbeda di setiap sektor. Tingkat ketergantungan terhadap bahan baku impor dan kondisi pasar domestik tiap perusahaan akan menentukan besar kecil tekanannya.
Tauhid mengusulkan pemerintah menyiapkan mitigasi untuk menahan dampak pelemahan rupiah terhadap industri nasional yang bergantung pada impor bahan baku. Salah satunya melalui pengurangan atau pembebasan bea masuk untuk sejumlah komoditas dan kebutuhan industri tertentu agar biaya produksi tidak makin membengkak.
Tauhid juga menyebut penurunan tarif impor dan pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk barang tertentu yang menjadi kebutuhan penting industri. Menurut dia, langkah tersebut dapat membantu pelaku usaha menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan kurs dolar AS.
Dukungan lain berupa insentif kurs, terutama bagi importir yang membutuhkan pembiayaan dalam valuta asing.
“Pengurangan atau pembebasan bea masuk bagi komoditas rumah tangga, pengurangan tarif impor, pembebasan PPN untuk barang tertentu, insentif kurs. Khususnya bagi kredit untuk importir,” lanjut Tauhid.
Tag: #rupiah #anjlok #17600 #dollar #industri #tertekan #mengintai