Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Harga Tahu dan Tempe Berpotensi Naik
Proses pemotongan tahu di pabrik tahu kasuratan, yang berlokasi di Perum Nyiur Buha, Kelurahan Buha, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Minggu (12/4/2026)(KOMPAS.com/Subhan Sabu)
12:20
15 Mei 2026

Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Harga Tahu dan Tempe Berpotensi Naik

- Pelemahan nilai tukar rupiah atau kurs rupiah terhadap dollar AS berpotensi membuat harga tempe dan tahu naik di pasar domestik.

Hal ini terutama disebabkan karena sebagian besar bahan baku tahu dan tempe di Indonesia berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, nilai tukar atau kurs rupiah hingga Jumat (15/5/2026) pukul 12.00 WIB berada di posisi 17.601 per dollar AS atau melemah 70 poin setara 0,40 persen.

Baca juga: Rupiah Melemah, Begini Dampaknya ke Harga BBM dan Tiket Pesawat

Ilustrasi kedelai.PIXABAY/pnmralex Ilustrasi kedelai.

Selama ini, AS memang dikenal sebagai mitra utama Indonesia dalam penyediaan kedelai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,56 juta ton.

Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen kedelai di antaranya berasal dari Negeri Paman Sam.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, kebutuhan kedelai nasional saat ini mencapai sekitar 2,6 hingga 2,7 juta ton per tahun.

Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS pada Jumat Pagi

Namun demikian, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 200.000 hingga 300.000 ton.

“Artinya lebih dari 85 persen dipenuhi impor. Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per dollar AS langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik,” kata dia kepada Kompas.com.

Dalam kondisi tertentu, kebutuhan kedelai nasional bisa naik atau berkisar antara 2,74 hingga 2,9 juta ton per tahun.

Ilustrasi tempe. (SHUTTERSTOCK/Ika Rahma H) Ilustrasi tempe.

Ketergantungan impor kedelai

Dengan kata lain, sebanyak hampir 90 persen kebutuhan bahan baku tahu dan tempe tersebut dipenuhi dengan melakukan impor.

Baca juga: Hadapi Pelemahan Rupiah, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi dan Pangkas Biaya

Kondisi ini membuat Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai yang sangat tinggi.

Artinya, industri berbasis kedelai termasuk perajin tempe dan tahu sangat bergantung pada dinamika pasar global.

Di tengah kondisi kurs rupiah yang melemah terhadap dollar AS, biaya pengadaan otomatis akan membengkak bagi para importir.

Belum lagi, biaya di tingkat importir ini biasanya langsung diteruskan ke tingkat distributor dan perajin tahu dan tempe.

Baca juga: Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga

Sedikit gambaran, kedelai menjadi komponen biaya produksi terbesar dalam industri tahu tempe atau mencapai 60 hingga 70 persen.

Kenaikan harga beli kedelai tentu akan disiasati oleh pedagang.

Biasanya pedagang akan dihadapkan dengan dua pilihan klasik.

Pertama, pedagang akan menaikkan harga jual produk tahu dan tempe di pasar. Kedua, pedagang akan menyiasati ukuran tahu dan tempe agar harga jual dapat dijaga dan biaya produksi tertutupi.

Baca juga: Menakar Daya Tahan Rupiah

Kedelai impor jadi pilihan perajin tahu dan tempe

Berdasarkan penelusuran Kompas Data, negara pengekspor kedelai terbesar ke Indonesia adalah Amerika Serikat, disusul Kanada dan Argentina.

Negeri Paman Sam sendiri mengekspor lebih 85 persen dari total impor kedelai Indonesia.

Ilustrasi kedelaiKOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI Ilustrasi kedelai

Kedelai impor lebih diminati karena dinilai menghasilkan kualitas tempe dan tahu yang baik.

Kedelai impor jauh lebih bersih dan ukurannya sama, yang terpenting bagi pelaku usaha adalah karena stok kedelai impor lebih tersedia dibanding kedelai lokal.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500, Cadangan Devisa dan Arus Modal Jadi Sorotan

Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi kedelai Indonesia pada 2014-2023 rata-rata 498.000 ton dengan rerata pertumbuhannya minus 5 persen.

Pada 2024, produksi kedelai lokal tercatat 375.000 ton atau turun 4 persen secara tahunan.

Sementara itu, pada 2025 dan 2026, produksinya diperkirakan semakin turun, masing-masing menjadi 340.000 ton dan 320.000 ton.

USDA menilai penurunan produksi kedelai itu terjadi lantaran banyak petani di lahan tadah hujan memilih menanam padi dan jagung yang harganya lebih menguntungkan.

Baca juga: Rupiah Sentuh Rp 17.529 per Dollar AS, Imbas Pertumbuhan Ekonomi RI Diragukan

Perajin tahu tempe juga tertekan harga plastik

Selain adanya potensi kenaikan harga kedelai, perajin tahu dan tempe juga masih menghadapi tekanan harga plastik kemasan.

Rizal bilang, plastik berbasis resin yang berasal dari minyak bumi ikut terdampak kenaikan harga minyak global.

"Plastik berbasis resin yang diturunkan dari minyak mengalami kenaikan harga seiring Indonesian Crude Price (ICP) yang sudah menembus di atas 100 dollar AS per barrel,” ujar dia.

Menurut Rizal, hal ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil yang menjadikan plastik sebagai bagian penting dalam proses produksi tempe.

Hadi Prayitno pengrajin tempe di Dusun Kledang, Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo mengaku memilih mengecilkan ukuran tempe agar bisa bertahan di tengah kenaikan harga kedelai. Sebulan terkahir harga kedelai naik sebanyak 4 kali.KOMPAS.COM/SUKOCO Hadi Prayitno pengrajin tempe di Dusun Kledang, Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo mengaku memilih mengecilkan ukuran tempe agar bisa bertahan di tengah kenaikan harga kedelai. Sebulan terkahir harga kedelai naik sebanyak 4 kali.

Baca juga: Pelemahan Rupiah: Ekonom Ingatkan Kenaikan Biaya Hidup Semester II-2026

Meski sering dianggap komponen kecil, secara akumulatif biaya tersebut cukup signifikan.

“Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM,” kata dia.

Dengan banyaknya tekanan harga bahan baku tersebut, usaha skala kecil terancam hanya berada di titik impas dan tak dapat meraup keuntungan.

Impor dan jaminan pasokan kedelai nasional

Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) mendukung langkah pemerintah memperkuat kerja sama dagang dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Baca juga: Industri Makanan Minuman Kesulitan Sesuaikan Harga Karena Pelemahan Rupiah

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengatakan, salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah penguatan komitmen pasokan kedelai AS sebanyak 3,5 juta ton per tahun oleh Indonesia, untuk jangka waktu 5 tahun.

“Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional dan menjaga kelancaran distribusinya,” ujar Hidayatullah dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Hidayat menuturkan, kebutuhan kedelai nasional saat ini berada di kisaran 2,7 juta hingga 2,9 juta ton per tahun.

Dengan adanya komitmen pasokan hingga 3,5 juta ton per tahun, menurut dia, terdapat ruang untuk meningkatkan konsumsi kedelai guna memenuhi kebutuhan protein nabati masyarakat.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Naikkan Biaya Produksi Industri Tekstil

Komitmen ini juga dinilai membuka peluang penguatan industri hilir dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan kapasitas produksi, daya saing, serta mendorong ekspansi pasar ekspor melalui pengembangan produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecap, dan produk turunannya.

“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” tutup dia.

Tag:  #kurs #rupiah #anjlok #17600 #harga #tahu #tempe #berpotensi #naik

KOMENTAR