Menurut Analis, Ini Alasan Saham Favorit Investor Dicoret dari Indeks MSCI
- Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah mengumumkan penghapusan beberapa saham unggulan Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, Rabu (13/5/2026) WIB.
Saham-saham yang sebelumnya menjadi favorit investor seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), hingga PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru dikeluarkan oleh indeks provider global akibat persoalan free float.
Perkara lainnya adalah High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, serta penurunan likuiditas dan kapitalisasi pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI berkaitan dengan tingginya HSC. Ketika kepemilikan saham terlalu terpusat pada pemegang saham utama, maka porsi saham yang beredar di publik atau free float menjadi terbatas sehingga tidak lagi memenuhi kriteria MSCI.
Baca juga: MSCI Coret 19 Saham RI, OJK Sebut Jadi Momentum Reformasi Pasar Modal
“Wajar saja kan, sahamnya kan berkaitan dengan dinamika High Shareholding Concentration karena kalau sahamnya terpusat pada pemegang saham utama tentunya harus dihapus ya kan, harus dikeluarkan,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com.
Selain itu, MSCI juga mempertimbangkan faktor free float adjustment factor (FTF) dan kapitalisasi pasar (market cap) dalam evaluasi indeksnya.
Jika free float suatu saham mengalami penurunan di bawah batas minimum yang ditetapkan, maka saham tersebut berpotensi dikeluarkan atau masuk daftar exclusion dari indeks global.
“Terus ada free float dan FTF ya kan, ya tentunya ini harus menjadi penurunan free float misalnya ya, atau FTF ya atau bahkan FTF tentunya harus dikeluarkan atau di exclusion seperti itu,” paparnya.
Nafan melihat penurunan market cap juga menjadi faktor yang mempengaruhi keluarnya saham Indonesia dari indeks MSCI.
Khusus untuk saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), ia menilai penurunan klasifikasi dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes disebabkan kapitalisasi pasarnya tidak lagi memenuhi ambang batas minimum kategori standard index, meskipun masih cukup layak untuk masuk kategori small cap index.
Senada, Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan perubahan regulasi MSCI terkait free float HSC menjadi faktor utama yang membuat emiten domestik gagal memenuhi syarat inklusi indeks.
“Beberapa regulasi mengenai free float baru dan HSC list menjadi rules terbaru untuk inklusi selanjutnya tidak dipenuhi oleh emiten yang mengalami deletion,” tukas Faris.
Lebih jauh, Faris memandang saham-saham seperti CUAN, BREN, dan DSSA menjadi emiten yang paling rentan mengalami tekanan jual atau sell off pasca rebalancing MSCI kali ini.
Risiko tersebut terutama dipengaruhi faktor likuiditas perdagangan saham yang relatif terbatas dibanding saham big caps lainnya.
“CUAN, BREN, DSSA, menjadi saham yang berpotensi mengalami sell off cukup tinggi karena dari faktor likuiditas,” lanjutnya.
Dalam penyesuaian Mei 2026, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Meski dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.
Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Kemudian, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG), dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN).
MSCI menyebut seluruh perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Baca juga: IHSG Tertekan usai Rebalancing MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Fundamental
Tag: #menurut #analis #alasan #saham #favorit #investor #dicoret #dari #indeks #msci