Apa ''Biang Kerok'' IHSG Anjlok Jelang Rebalancing MSCI?
Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)
19:40
11 Mei 2026

Apa ''Biang Kerok'' IHSG Anjlok Jelang Rebalancing MSCI?

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), atau jelang pengumuman rebalancing indeks global oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI bakal melakukan rebalancing indeks global pada Selasa (12/5/2026). Dalam evaluasi itu, MSCI menerapkan perlakuan khusus terhadap saham tertentu, terutama saham yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 63,775 poin atau turun 0,92 persen. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak fluktuatif.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 7.001,679, namun tekanan jual membuat indeks berbalik turun hingga menyentuh angka terendah di 6.846,632, sebelum akhirnya ditutup di bawah area psikologis 6.910.

Total volume perdagangan mencapai 41,471 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 20,534 triliun dan frekuensi perdagangan 2,82 juta kali transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 251 saham menguat, 442 saham melemah, dan 125 saham stagnan.

Baca juga: IHSG Merosot ke Level 6.905, Mayoritas Sektor Saham Berakhir di Zona Merah

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menilai tekanan terhadap IHSG di awal pekan ini tidak semata-mata dipicu sentimen rebalancing MSCI saja. Menurutnya, pelemahan indeks lebih banyak dipengaruhi tekanan nilai tukar rupiah dan faktor teknikal lainnya.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup tertekan. Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 18 persen ke level Rp 17.414 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sejalan, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 40 atau 0,23 persen menjadi Rp 17.415 per dollar AS.

“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok hari ini. Lebih banyak soal rupiah dan segala macam,” ujar Pandu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin.

Lebih jauh, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan IHSG datang dari sentimen global dan domestik yang masih cukup berat.

Dari eksternal, pasar dibayangi memanasnya kembali tensi geopolitik Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden Donald Trump menolak proposal damai terbaru Iran, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global akan bertahan lebih tinggi lebih lama.

“Kenaikan harga minyak tersebut juga membuat investor cenderung melakukan profit taking di saham-saham energi setelah sebelumnya sempat rally cukup tinggi,” ujar Hendra kepada Kompas.com.

Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Tertekan ke Rp 17.416 per Dollar AS

Di sisi domestik, pelemahan rupiah ke area lebih dari Rp 17.400 per dollar AS, penantian hasil review MSCI yang diumumkan 12 Mei, hingga polemik kebijakan tarif royalti mineral turut membuat investor memilih lebih defensif.

Alhasil, saham perbankan besar menjadi penekan utama IHSG, terutama BMRI, BBCA, dan BBRI, di tengah aksi net sell asing yang tercatat mencapai Rp 659 miliar.

Pergerakan sektor juga menunjukkan pasar masih berada dalam fase wait and see. Sektor energi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam seiring koreksi saham ADRO dan ITMG, sementara sektor keuangan ikut terbebani aksi jual pada big banks.

Di sisi lain, sektor infrastruktur justru menjadi penopang pasar setelah menguat 1,52 persen, menandakan mulai adanya rotasi dana ke saham-saham yang lebih defensif dan memiliki katalis domestik.

Menariknya, beberapa saham komoditas logam seperti ANTM, TINS, dan MDKA masih mampu bertahan di zona hijau seiring harga nikel dan tembaga dunia yang tetap menguat. Hal ini menunjukkan pelaku pasar masih selektif mencari saham yang memiliki dukungan sentimen harga komoditas global.

Baca juga: Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, IHSG Dibayangi Tekanan Berat

Tag:  #biang #kerok #ihsg #anjlok #jelang #rebalancing #msci

KOMENTAR