IHSG Anjlok dan Rupiah Tertekan ke Rp 17.416 per Dollar AS
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
11:24
11 Mei 2026

IHSG Anjlok dan Rupiah Tertekan ke Rp 17.416 per Dollar AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah saat pembukaan perdagangan awal pekan ini atau Senin (11/5/2026).

Rupiah di pasar spot terdepresiasi 34 poin atau 0,20 persen ke level Rp 17.416 per dollar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini tercatat pada pukul 10.51 WIB.

Sementara itu, IHSG bergerak turun 60,746 poin atau 0,87 persen ke posisi 6.908,649. Indeks sempat dibuka di angka 6.959,943, sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh area terendah di 6.846,632. Sementara level tertinggi IHSG pada sesi perdagangan pagi ini berada di 6.968,926.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah dominasi saham-saham yang bergerak di zona merah. Tercatat 467 saham menurun, hanya 204 saham menguat dan 134 saham bergerak stagnan.

Baca juga: Asing Net Sell Rp 2,4 Triliun, Berikut 4 Saham dan ETF Direkomendasikan Sepekan Ini

Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan volume transaksi 18,780 miliar saham dan frekuensi perdagangan menembus 1,34 juta kali transaksi. Adapun nilai transaksi atau turnover menyentuh Rp 8,562 triliun.

Rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dollar AS, sejalan dengan memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Kondisi ini dinilai memberatkan gerak IHSG.

IHSG mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Indeks ditutup melemah 2,86 persen ke level 6.969,40.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut pelemahan tersebut terjadi saat meningkatnya kembali tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

Koreksi indeks sekaligus menghapus sebagian besar penguatan sebelumnya, setelah pasar kembali dihantui kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, lonjakan inflasi global, hingga potensi sikap agresif bank sentral AS, Teh Fed.

“Koreksi ini sekaligus menghapus sebagian besar penguatan sebelumnya setelah pasar kembali dihantui kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, lonjakan inflasi global, hingga potensi sikap agresif bank sentral Amerika Serikat,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu malam (10/5/2026).

Baca juga: Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, IHSG Dibayangi Tekanan Berat

Tekanan terbesar datang dari sektor basic industry, pertambangan, dan keuangan. Sementara itu, sektor kesehatan justru menjadi penopang utama IHSG berkat penguatan saham-saham defensif seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), dan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA).

Lebih jauh, pelemahan rupiah ke area Rp 17.382 per dollar AS juga memperburuk sentimen pasar karena mencerminkan tingginya tekanan capital outflow di emerging market, termasuk Indonesia.

Pada perdagangan Jumat, investor asing kembali mencatatkan net sell atau jual bersih sebesar Rp 485 miliar, yang menandakan investor global masih cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi global, pasar kini sensitif terhadap perkembangan konflik di Selat Hormuz karena jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Kenaikan harga minyak Brent yang kembali bertahan di atas 100 dollar AS per barrel memunculkan kekhawatiran baru terhadap tekanan fiskal Indonesia.

Menurut Hendra, hal itu menjadi penting karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I-2026 terlihat kuat di permukaan, tetapi sebenarnya memiliki kerentanan struktural.

Pemerintah disebut sudah menggunakan sekitar 34,8 persen target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat lonjakan belanja konsumsi seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pemerintah sudah menggunakan sekitar 34,8 persen target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat lonjakan belanja konsumsi seperti THR dan program Makan Bergizi Gratis,” paparnya.

Di sisi lain, realisasi penerimaan negara masih relatif tertinggal sehingga ruang fiskal pemerintah untuk sisa tahun 2026 menjadi semakin sempit. Jika harga minyak terus naik dan bertahan tinggi, subsidi energi berpotensi membengkak dan dapat mendorong defisit APBN mendekati bahkan melewati batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tekanan terhadap rupiah juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati serius. Ia mencatat sepanjang tahun berjalan, rupiah telah melemah lebih dari 3,5 persen meskipun Bank Indonesia (BI) sudah menggelontorkan cadangan devisa dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Situasi tersebut mencerminkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan klasik emerging market, yakni sulit menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara bersamaan. Hendra memperkirakan jika The Fed kembali hawkish atau konflik Timur Tengah semakin memburuk, rupiah berpotensi bergerak menuju Rp 18.000 per dollar AS.

Pelemahan rupiah tentu akan meningkatkan biaya impor bahan baku industri, menaikkan beban utang berbasis dollar AS, dan berisiko menekan daya beli masyarakat melalui imported inflation.

Selain sentimen geopolitik dan pelemahan rupiah, IHSG juga mendapat tekanan besar dari anjloknya saham-saham komoditas setelah pasar merespons negatif rencana pemerintah merevisi tarif royalti atau windfall profit untuk sektor mineral dan batu bara.

Investor khawatir kebijakan tersebut akan memangkas margin keuntungan emiten tambang di tengah kondisi harga komoditas yang mulai volatil. Pasar melihat arah kebijakan pemerintah kini semakin progresif, di mana ketika harga komoditas naik maka porsi royalti yang harus dibayarkan perusahaan juga meningkat lebih besar.

Kekhawatiran inilah yang memicu aksi profit taking besar-besaran pada saham berbasis komoditas sehingga sektor mining dan basic industry menjadi penekan utama IHSG.

Tekanan paling terasa terjadi pada saham-saham nikel dan mineral seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), hingga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mengalami koreksi tajam karena investor mulai menghitung potensi penurunan profitabilitas apabila skema windfall tax resmi diberlakukan mulai pertengahan 2026.

Untuk komoditas nikel misalnya, pemerintah berencana menurunkan batas harga pengenaan royalti tertinggi menjadi di atas 26.000 dollar AS per ton, dari sebelumnya 31.000 dollar AS per ton, sementara tarif maksimal dinaikkan hingga 19 persen.

Artinya, ketika harga nikel naik, keuntungan tambahan perusahaan justru akan lebih banyak terserap ke negara melalui kenaikan royalti. Pada komoditas timah, kenaikan tarif bahkan dinilai paling agresif karena tarif tertinggi melonjak menjadi 20 persen dari sebelumnya hanya 10 persen. Sementara untuk emas, tarif dasar naik dua kali lipat dari 7 persen menjadi 14 persen.

Kondisi tersebut membuat pasar khawatir laba bersih emiten tambang akan tergerus cukup signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Sentimen negatif ini semakin menekan sektor basic industry yang sebelumnya sudah terbebani oleh kenaikan biaya energi dan pelemahan rupiah. Saham-saham seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), hingga PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terkoreksi cukup dalam karena pasar mulai mengantisipasi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya harga minyak dan bahan baku impor.

Dengan pelemahan rupiah, biaya impor industri manufaktur otomatis meningkat, sementara permintaan domestik juga berpotensi melambat jika daya beli masyarakat tergerus inflasi. Kondisi tersebut menciptakan kekhawatiran bahwa margin keuntungan sektor manufaktur dan industri dasar akan semakin tertekan pada semester II-2026.

Di sisi lain, indikator manufaktur Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan sinyal perlambatan tersembunyi. Indeks waktu pengiriman pemasok atau supplier delivery time dalam IKBM tercatat turun ke level 49,01 yang mengindikasikan mulai muncul gangguan rantai pasok dan perlambatan aktivitas produksi.

Hal ini menjadi perhatian pasar karena sektor manufaktur merupakan titik paling sensitif terhadap kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, dan potensi pengetatan fiskal pemerintah. Jika tekanan eksternal terus meningkat, maka risiko perlambatan industri domestik dapat semakin besar.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #anjlok #rupiah #tertekan #17416 #dollar

KOMENTAR