Penjualan Rumah Kecil Melambat akibat Bunga KPR dan Harga Material
Ilustrasi rumah(Dibuat oleh AI)
11:12
11 Mei 2026

Penjualan Rumah Kecil Melambat akibat Bunga KPR dan Harga Material

Penjualan rumah di pasar primer pada kuartal I 2026 mengalami penurunan tajam di tengah pertumbuhan harga properti residensial yang masih terbatas.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) mencatat, penjualan properti residensial di pasar primer terkontraksi sebesar 25,67 persen secara tahunan (year on year/yoy), berbalik dari pertumbuhan 7,83 persen pada kuartal IV 2025.

Di sisi lain, harga properti residensial masih mencatat pertumbuhan, meski melambat.

Baca juga: BI: Harga Rumah Kuartal I 2026 Melambat di 10 Kota

Ilustrasi rumah.Freepik Ilustrasi rumah.

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 110,60 atau tumbuh 0,62 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,83 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Bank sentral menyebut perlambatan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar.

Rumah tipe menengah mencatat pertumbuhan sebesar 0,88 persen (yoy), melambat dibandingkan kuartal IV 2025 sebesar 1,12 persen (yoy). Sementara rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen (yoy) dari sebelumnya 0,72 persen (yoy).

Adapun rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan 0,76 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Baca juga: Singapura Perketat Aturan Investor Beli Properti di Bawah Harga Pasar

Secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), IHPR pasar primer juga melambat. Pada kuartal I 2026, IHPR hanya tumbuh 0,04 persen (qtq), turun dibandingkan pertumbuhan 0,17 persen (qtq) pada kuartal IV 2025.

Harga rumah di sejumlah kota melambat

Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga dan tiga kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan.

Ilustrasi rumah menengahDibuat oleh AI Ilustrasi rumah menengah

Salah satu perlambatan terjadi di Banjarmasin yang hanya tumbuh 0,52 persen (yoy) setelah pada kuartal sebelumnya tumbuh 1,63 persen (yoy).

Sementara itu, Surabaya mencatat kontraksi harga rumah yang semakin dalam, yakni minus 0,27 persen (yoy) dibandingkan kontraksi 0,04 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.

Baca juga: BI: KPR Masih Dominan Saat Properti Kuartal I 2026 Melambat

Di sisi lain, harga rumah di Padang dan Balikpapan justru meningkat. Pertumbuhan harga rumah di Padang naik dari 0,17 persen (yoy) menjadi 1,21 persen (yoy), sedangkan Balikpapan meningkat dari 0,43 persen (yoy) menjadi 1,44 persen (yoy).

Pada basis kuartalan, perlambatan harga terutama bersumber dari Pontianak dan Yogyakarta. Harga rumah di Pontianak terkontraksi 0,74 persen (qtq) dari sebelumnya tumbuh 0,56 persen (qtq).

Sementara itu, harga rumah di Yogyakarta mengalami kontraksi 0,68 persen (qtq) setelah pada kuartal IV 2025 tumbuh 0,18 persen (qtq).

Di sisi lain, BI juga mencatat IHPR nasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir meski dengan laju yang melambat. IHPR nasional yang berada di level 102,26 pada 2020 meningkat menjadi 110,60 pada kuartal I 2026.

Baca juga: BI: Penjualan Properti Kuartal I 2026 Anjlok 25,67 Persen

Secara wilayah, sejumlah kota masih mencatat pertumbuhan harga yang relatif tinggi. Pada kuartal I 2026, Medan mencatat IHPR total sebesar 117,23, Pontianak 119,96, dan Pekanbaru 115,84.

Sementara Surabaya berada pada level 108,66 dan mengalami penurunan pertumbuhan secara tahunan.

Rumah tipe kecil jadi penekan utama

Di tengah perlambatan harga, penjualan rumah justru mengalami tekanan yang lebih dalam. Penurunan penjualan terutama dipicu oleh anjloknya penjualan rumah tipe kecil.

Ilustrasi rumah.Dok. BP Tapera Ilustrasi rumah.

Pada kuartal I 2026, penjualan rumah tipe kecil terkontraksi 45,59 persen (yoy), berbalik dari pertumbuhan tinggi sebesar 17,32 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Baca juga: Asuransi Properti: Proteksi Penting, Kenapa Belum Optimal di Indonesia?

Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah justru tumbuh 8,28 persen (yoy) setelah sebelumnya terkontraksi 4,84 persen (yoy).

Penjualan rumah tipe besar masih mengalami kontraksi sebesar 8,03 persen (yoy), meski lebih baik dibandingkan kontraksi 10,95 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.

Secara kuartalan, penjualan rumah juga mencatat kontraksi sebesar 7,69 persen (qtq), berbalik dari pertumbuhan 2,01 persen (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Penurunan penjualan rumah terutama dipicu oleh penjualan rumah tipe besar yang terkontraksi 20,38 persen (qtq) setelah sebelumnya tumbuh tinggi sebesar 31,97 persen (qtq).

Baca juga: Masyarakat Dibebaskan BPHTB Bila Akses Program Tiga Juta Rumah

Selain itu, penjualan rumah tipe menengah juga terkontraksi 10,72 persen (qtq) setelah sebelumnya tumbuh 8,59 persen (qtq). Penjualan rumah tipe kecil mengalami kontraksi lebih dalam menjadi 14,68 persen (qtq) dari sebelumnya minus 7,43 persen (qtq).

Harga bahan bangunan hingga bunga KPR jadi tantangan

Bank sentral mencatat, penjualan properti residensial primer masih menghadapi sejumlah tantangan.

Berdasarkan hasil survei, faktor utama yang menghambat pengembangan dan penjualan properti residensial di pasar primer adalah kenaikan harga bahan bangunan dengan porsi 20,97 persen.

Selain itu, hambatan lain yang dihadapi pelaku usaha adalah masalah perizinan dan birokrasi sebesar 18,15 persen, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 16,47 persen, proporsi uang muka tinggi dalam pengajuan KPR sebesar 12,16 persen, dan perpajakan sebesar 11,28 persen.

Baca juga: PLN Imbau Cek 4 Poin Keamanan Instalasi Listrik Sebelum Beli Atau Sewa Rumah

Meski demikian, suku bunga KPR pada kuartal I 2026 tercatat stabil dibandingkan kuartal sebelumnya, yakni sebesar 7,42 persen.

Ilustrasi KPR. freepik.com Ilustrasi KPR.

Mayoritas pembelian rumah masih lewat KPR

Dari sisi pembiayaan, sumber utama pendanaan pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal pengembang.

Pada kuartal I 2026, dana internal menyumbang 80,66 persen dari total kebutuhan pembiayaan pembangunan properti residensial.

Sumber pembiayaan lainnya berasal dari pinjaman perbankan sebesar 13,74 persen dan pembayaran konsumen sebesar 5,60 persen.

Baca juga: Presiden Prabowo Target 1 Juta Rumah untuk Para Buruh

Sementara dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah primer masih dilakukan melalui skema KPR. Pangsa pembelian rumah menggunakan KPR mencapai 69,87 persen dari total skema pembelian rumah primer.

Adapun pembelian rumah melalui pembayaran tunai bertahap memiliki pangsa 19,61 persen, sedangkan pembelian secara tunai penuh sebesar 10,53 persen.

Bank Indonesia juga mencatat pertumbuhan total nilai KPR mengalami perlambatan. Pada kuartal I 2026, total nilai KPR tumbuh 4,79 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 7,05 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Secara kuartalan, nilai KPR tumbuh 0,37 persen (qtq), melambat dibandingkan pertumbuhan 1,72 persen (qtq) pada kuartal IV 2025.

Tag:  #penjualan #rumah #kecil #melambat #akibat #bunga #harga #material

KOMENTAR