PGN Dorong Ekonomi Sirkular lewat Pengelolaan Sampah Plastik
PGN menjalankan program pengelolaan sampah plastik untuk mendukung ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan.(DOK. PGN)
20:12
9 Mei 2026

PGN Dorong Ekonomi Sirkular lewat Pengelolaan Sampah Plastik

- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperkuat komitmen penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui program pengelolaan sampah plastik yang diolah menjadi produk bernilai guna. Langkah ini dilakukan untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di lingkungan perusahaan dan masyarakat.

Program tersebut dijalankan melalui sistem pengelolaan sampah plastik terintegrasi, mulai dari pemilahan oleh karyawan PGN, pengumpulan dan pengelolaan bersama Kertabumi Recycling Centre, hingga pengolahan akhir bersama Bank Sampah Al-Bustaniyah.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, program itu tidak hanya menjadi kegiatan pengelolaan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan di lingkungan perusahaan.

“Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness ESG di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat,” kata Fajriyah dalam keterangan resmi, Rabu (7/5/2026).

“Program ini juga menjadi wujud nyata komitmen PGN dalam menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan,” lanjut dia.

Baca juga: Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global

Dalam pelaksanaannya, PGN turut menggandeng Kompas, National Geographic Indonesia, dan Kertabumi Recycling Centre untuk memperluas kampanye kesadaran lingkungan dan mendorong penerapan ekonomi sirkular di masyarakat.

Fajriyah berharap program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik secara lebih bijak.

“Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik," ujarnya.

Baca juga: Wamen LH Dorong Pemilahan Sampah Jelang Penghentian Open Dumping

Pengelolaan Sampah Dinilai Perlu Kolaborasi

Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik, PGN menilai pengelolaan limbah membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi lingkungan.

Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah yang tidak terkelola mencapai 109 ton per hari atau sekitar 75 persen dari total timbulan sampah. Kondisi itu memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran hingga risiko kerusakan ekosistem akibat penumpukan sampah plastik.

Menurut Ikbal, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri sehingga membutuhkan keterlibatan perusahaan, komunitas, dan masyarakat.

“Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan,” ujar Ikbal.

Baca juga: PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi

Ia menilai pendekatan yang dilakukan PGN melalui edukasi, pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna merupakan langkah positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.

“Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna,” tutur Ikbal.

Di sisi lain, Editor National Geographic Indonesia Ade Sulaeman mengatakan, persoalan sampah plastik kini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Berdasarkan sejumlah riset yang dipaparkan, partikel mikroplastik dan nanoplastik ditemukan di udara, air hujan, hingga aliran darah manusia.

Baca juga: Genjot Pemilahan Sampah, Desa di Bali Pakai Sistem Cap Kepatuhan

“Kondisi ini menunjukkan dampak sampah plastik yang semakin meluas dan tidak terlihat secara langsung, sehingga membutuhkan peningkatan kesadaran serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” tegas Ade.

Ade menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat pengurangan sampah plastik melalui edukasi dan peningkatan kesadaran publik.

“Permasalahan sampah plastik tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat untuk membangun perubahan perilaku masyarakat,” ujar Ade.

“Apa yang dilakukan oleh PGN menjadi langkah positif dalam meningkatkan awareness lingkungan sekaligus mendorong keberlanjutan,” lanjut dia.

Baca juga: KKP: Indonesia Peringkat 5 Penghasil Sampah Plastik Terbesar di Dunia

Pemerintah Dorong Pemilahan Sampah dari Hulu

Upaya pengelolaan sampah juga didorong pemerintah melalui penguatan pemilahan sampah dari tingkat hulu menjelang penghentian praktik open dumping di tempat pengelolaan akhir (TPA) di seluruh Indonesia.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengatakan, pemilahan sampah menjadi langkah penting untuk meningkatkan pengelolaan sampah nasional.

“Tanpa pemilahan, pengelolaan sampah tidak bisa selesai dengan baik. Selain itu, kita juga akan menutup praktik open dumping akhir Juli, jadi di bulan Agustus 472 TPA yang ada akan diselesaikan,” ujar Diaz, dikutip dari Antara, Selasa (21/4/2026).

Menurut Diaz, penghentian praktik open dumping diharapkan dapat meningkatkan capaian pengelolaan sampah nasional sesuai target pemerintah.

“Program pemilahan ini sudah sesuai dengan arahan Presiden yang memiliki target sampah terkelola 100 persen di tahun 2029. Dengan diselesaikannya praktik open dumping, kami bisa angkat persentase pengelolaan sampah saat ini di 26 persen menjadi 57,7 persen,” katanya.

Diaz juga mengapresiasi praktik pemilahan sampah yang dilakukan warga Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, melalui penggunaan ember pemilah dan fasilitas bank sampah agar hanya residu yang berakhir di TPA maupun RDF.

“Semoga dari Rorotan, bisa jadi percontohan untuk 30 kelurahan lainnya yang ada di Jakarta Utara, agar semua bisa memilah sampah dengan baik,” jelas Diaz.

Tag:  #dorong #ekonomi #sirkular #lewat #pengelolaan #sampah #plastik

KOMENTAR